CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

30 November 2007

Sejarah Bank Indonesia Cabang Palembang

Gedung BI Palembang Tahun 1955 sumber Tropen Museum
Gedung BI Cabang Palembang Saat ini tahun 2008
 Kantor De Javasche Bank Cabang Palembang yang dibuka pada tanggal 20 September 1909 merupakan "Agentschap" keenam belas dari De Javasche Bank yang merupakan pendahulu dari Bank Indonesia sekarang ini. Gagasan pembukaan kantor cabang di Palembang ini sudah muncul sejak perjalanan dinas ke Padang tanggal 3 September 1908 yang dilakukan Direktur E.A. Zeilinga Azn. mulai dari Padang, Bengkulu, Rejanglebong, Kepayang, Tebing Tinggi, Keban, Lahat, Muara Enim, dan akhirnya ke Palembang.

Kantor BI Palembang sumber : bi.go.id
Gagasan ini disampaikan dengan alasan bahwa Palembang merupakan suatu kota niaga yang penting, sehingga pemerintah menyetujui untuk membuka Kantor Cabang di Palembang. Dengan didudukinya Hindia Belanda mulai bulan Februari/Maret 1942, maka segala kegiatan De Javasche Bank dan bank-bank lainnya terhenti. Fungsi dan tugas bank-bank segera digantikan oleh bank-bank Jepang seperti Yokohama Specie Bank, Taiwan Bank, dan Mitsui Bank, yang bertindak sebagai koordinator adalah Nanpo Kaihatsu Ginko.

Setelah penyerahan Jepang kepada Sekutu, keadaan tak menentu masih berlangsung sampai tanggal 10 Oktober 1945. Kantor Cabang Palembang dinyatakan dibuka kembali pada tanggal 1 Agustus 1947. Susunan kepemimpinan pertama adalah J.B. Schadd (Pemimpin), dan M.H.A. de Rooy sebagai Pemegang Buku/Pemimpin Cabang Pengganti Kantor Cabang.

Gedung BI 1947 saat Perang Sumber Foto : kitlv.nl
Untuk periode terakhir berdirinya DJB yaitu periode laporan tahun 1952/1953 pemimpinnya adalah J.C. Wink. Pada awal pembukaannya, Kantor Cabang Palembang menempati sebuah rumah sewa di Jl.Sekolah. Kemudian pada tanggal 29 Mei 1916 tanah sewaan tersebut dibeli dari pemiliknya, Tjoa Ham Hien, seorang kapten tituler kaum Cina Palembang, lalu rumah sewa tersebut dibongkar dan didirikanlah sebuah gedung kantor sementara yang terbuat dari kayu.

Gedung kedua adalah gedung permanen pada bulan Mei 1920 untuk menggantikan gedung sementara. Gedung kedua ini dibongkar pada tahun 1965 karena terkena proyek Jembatan Ampera, dan sebagai gedung ketiga digunakan bangunan kantor yang terletak di Jl. Veteran hingga tahun 1971. Dan terakhir adalah ditempatinya gedung kantor keempat yang sekarang ini digunakan

Sumber tulisan : bi.go.id

29 November 2007

Sketsa Rutan Jalan Merdeka Palembang Zaman Jepang

Sketsa Blok II Lorong Penjara dan ruangan Penjara Merdeka Juli 1947 Sumber : Troven Museum

Penjaga Penjara Jl. Merdeka Sumber : Troven Museum
Pada saat pengeboman oleh pasukan jepang di Palembang pada 6 Febuari 1942 dan pendaratan pasukan parasutnya dan merebut BPM di Plaju dan Sungai Grong (Pertamina Saat ini), dan pada saat itu banyak Dari penduduk baik pribumi maupun warga Belanda yang menjadi tahanan di Camp Jepang atau Rumah tahanan yang terletak di Raadhuisweg (Jl Merdeka saat ini) Sehingga pada masa itu jalan tersebut di kenal juga dengan gevangenis weg atau Jalan penjara.

Ketakutan masyarakat baik pribumi maupun masyarakat Belanda memang beralasan apalagi dengan kata-kata "Kompetai" (Polisi Meliter Jepang) sehingga tidak mengherankan banyak penduduk kala itu banyak yang meninggal di dalam Camp tahanan.
Banyak proyek kerja paksa yang di terapkan oleh Jepang pada masa berkuasa dari tahun 1942-1945 di Palembang seperti pembanguan Jalan Meiji (Jl Sudirman) dan pembangunan Bandara Talang Betutu.,termasuk pembangunan bandar udara di Martapura dan bandar udara kamuflase di Sekojo.

Sangat sulit sekali menemukan dokumentasi jepang saat penjajahan di Indonesia terutama saat di Palembang.


Sumber Tulisan : Di rangkum dari berbagai sumber
Sumber Foto Lama : Troven Museum

28 November 2007

Sejarah Kantor Pos Besar Merdeka Palembang

Kantor Pos di jalan Merdeka 1935 Sumber : Kitlv.nl
Kantor pos & telkom yang di dirikan tahun 1928 di Raadhuisweg (Jalan Merdeka saat ini) oleh Kolonial Belanda bentuk dan arsiteknya seperti kubah pada bagian atapnya sama seperti kantor pos dan telkom di kota lainnya di daerah lainnya di Indonesia, tetapi jika di perhatikan dari Gedung Telkom Jalan Merdeka  memiliki kemiripan dengan bangunan yang ada di samping kantor pos besar Palembang tersebut.

Pada awal pendiriannya kantor ini menjadi bagian pelayanan satu atap karena di satu kantor terdiri dari bebeberapa pelayanan yaitu pos, telegram dan polisi.
Kantor Pos & Gedung Telkom Jalan Merdeka Palembang
Sejarah Kantor Pos di indonesia 

Perposan "Modem" di Indonesia sejak 1602 di jaman V.O.C (Verenigde Oost Indische Compagnie). Perhubungan pos pada waktu itu dilakukan terbatas diantara kota-kota tertentu di P.Jawa dan luar P.Jawa dengan menggunakan alat angkut kereta kuda dan kapal layar pacalang. Pada waktu itu suratpos ditempatkan pada Stadsherbrg (Gedung Penginapan Kota) dan belum dilakukan pengantaran suratpos,sehingga tiap orang dapat memeriksa apakah ada suratpos baginya. 

Kantor Pos di jalan Merdeka 1930 - 1940 Sumber : Kitlv.nl
Sebuah kantor pos pertama kali didirikan di jakarta pada tahun 1746 oleh Gubernur Jenderal G.W.Baron Van Imhoff dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan suratpos. Beberapa tahun kemudian didirikan kantorpos di kota-kota lainnya. Pada 1809 dibangun jalan Raya Pos (Groote Postweg) oleh Gubernur Jenderal Daendels yang membentang sepanjang 1000 km dari anyer ke panarukan. Pembangunan jalan raya pos membawa perubahan luar biasa dalam perhubungan pos. Waktu tempuh dari Jawa Barat ke Jawa Timur yang sebelumnya memakan waktu 40 hari dapat diperpendek menjadi 6 hari. Hingga saat ini perjalanan pos Indonesia memang sudah berlangsung selama empat abad, tetapi sejarah pos indonesia dimulai pada 27 September 1945, ketika sekelompok angkatan muda PTT merebut gedung pusat PTT di Bandung dari kekuasaan Jepang. Fase ini merupakan tonggak dimulainya pengelolaan dan pelayanan pos oleh bangsa Indonesia. Peristiwa 27 September 1945 lebih dikenal sebagai "Hari Bhakti Postel". 

Kantor Pos Palembang 1947 Foto : beeldbankwo2.nl
Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik. Perkembangan terus terjadi hingga statusnya menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Mengamati perkembangan zaman dimana sektor pos dan telekomunikasi berkembang sangat pesat, maka pada tahun 1965 berganti menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos dan Giro), dan pada tahun 1978 berubah menjadi Perum Pos dan Giro yang sejak ini ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos baik untuk hubungan dalam maupun luar negeri. Selama 17 tahun berstatus Perum, maka pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero).

Sumber tulisan sejarah kantor pos di indonesia : http://www.posindonesia.co.id/

24 November 2007

Sejarah Mobil Ketek Palembang

Mobil ketek "Terakhir" saat mangkal di kawasan 7 Ulu Palembang tahun 2008
Setelah Perang Dunia II selesai, muncullah jip untuk kalangan sipil, yakni CJ yang merupakan singkatan dari civilian jeep. Tahun 1945, Willys meluncurkan CJ2 dan CJ3. Bahkan, Willys tidak lagi hanya diproduksi di Amerika Serikat, tetapi juga diproduksi di negara lain dengan lisensi. Di Perancis, Willys muncul tahun 1950 dan tahun 1955, masing-masing dengan nama Delahaye dan Hotchkiss. Di Jepang, Willys muncul dengan nama Mitsubishi Jeep J3 tahun 1953. Di Taiwan, jip Willys muncul tahun 1956.

Pada awal agresi Belanda di Palembang, dimana pada saat tanggal 12 Oktober 1945 Pasukan Inggris pimpinan Kolonel Carmickel tiba di palembang diboncengi oleh NICA (tentara belanda).

Sumber: Kantor Arsip Daerah Sumatera Selatan
Suasana diperkeruh dengan masuknya tentara Belanda dari bangka dengan cara menyamar sebagai tentara inggris. Puncaknya pada Maret 1946 Pasukan inggris semakin besar jumlahnya setelah masuk dari Talang Betutu. Kedatangan ini disambut dengan pertempuran yang berkobar hampir disemua lokasi di kota palembang dan sekitar. Tiang listrik dan pipa yang banyak berada dilokasi plaju dimanfaatkan secara cerdik oleh masyarakat palembang menjadi senjata perlawanan Kecepek menghadapi peralatan canggih Inggris dan Belanda.

Belanda datang dengan segala kekuatan matranya dimana salah satu yang di bawa adalah kendaraan Jeep Willys yang sesuai dengan kondisi dan medan saat itu, pada saat kekalahan belanda dan perintah untuk menarik pasukan dari seluruh wilayah Indonesia termasuk juga Palembang maka banyak kendaraan Jeep wiliys yang di pakai untuk perang di tinggalkan. 



Sumber: Kantor Arsip Daerah Sumatera Selatan
Dari sinilah mulai banyak Jeep Willys yang di gunakan sebagai sarana transportasi sehingga peninggalan jeep meliter di ubah bentuknya menjadi kendaraan angkutan dan transportasi, kendaraan ini di gunakan mulai selesai perang kemerdekaan dan sangat terkenal dan memenuhi jalanan Palembang pada era 1960an -1980an dikarenakan tidak adanya saingan dengan kendaraan yang lain dan belum banyaknya kendaraan jepang yang masuk ke Palembang,

Penyebaran kendaraan ini makin hari makin sedikin karena di makan zaman sehingga pada tahun 1990an hanya tersisa didaerah seberang ulu sepanjang jalan Laut ( dari 16 ulu sampai ke 1 ulu simpang jembatan kertapati), jalan Sosial Km 5 dan beberapa tempat di daerah lainnya.

Banyak keunikan dari Kendaraan yang setirnya berada kiri ini, dengan dengan pintu di sebelah belakang yang bisa memuat 6 penumpang dan di depan 2 penumpang dan 1 sopir untuk menghidupkan mesinnya tidak menggunakan starter seperti saat ini tetapi di engkol dari depan, dan tidak tahu mengapa masyarakat menyebutnya mobil “ketek” apakah bunyi mesinya sedikit berisik sehingga mirip dengan suara mesin kapal/“ketek”.

Tetapi pada tahun 2004 adanya larangnan pengoerasian kendaraan ini oleh pemerintah kota Palembang yang menganggap sudah tidak layak pakai baik dari segi keamanan, kenyamanan dan beberapa aspek lainnya, dan sehingga saat ini hanya satu dua mobil ketek saja yang beroperasi dan yang lain hanya menjadi besi tua. Sekarang mobil ketek kalah bersaing dengan angkot-angkot keluaran baru yang lebih bagus, yang lebih aman dan nyaman. 

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : Sumber Tidak jelas

23 November 2007

Sejarah Kolam Renang Garuda Palembang


Kolam Renang di Palembang 1935 Sumber : Kitlv.nl

Zwembad atau kolam renang yang terletak di kawasan kolonial ini (di ujung Jl Hang Tua) memang merupakan kolam renang yang pertama di bangun oleh Belanda dan di perkirakan pada 1920-an, selain kolam renang atau zwembad di Plaju komplek pertamina dan Sungai Gerong.

Kolam Renang Garuda Palembang saat ini
Kolam renang yang ramai di kunjungi saat hari minggu ini memiliki bentuk yang unik berbeda dengan kolam rengan lainnya yang ada di Palembang karena di buat seperti bak/kolam dan lantainya di sangga dengan tiang-tiang yang di cor sehingga kesannya kolam ini tidak menggali tanah tetapi di buat di atas tanah.

Walaupun sudah cukup berumur tetapi kolam renang ini sampai saat ini masih tetapi banyak di kunjungi oleh masyarakat dan terkadang pihak meliter seperti TNI dan Porli menggunakan kolam ini untuk salah satu tes penerimaan mereka.


Sumber Foto Lama : kitlv

22 November 2007

Sejarah Eks Gedung BP 7 / Museum Textil Palembang

Rumah walikota (burgemeester) ke Palembang dinyalakan untuk merayakan perkawinan Putri Juliana 1937 Sumber: Kitlv.nl
Suasana bekas Gedung Eks-BP7, demikian masyarakat memberi nama sebutan bangunan yang terletak di Jl Tasik No 2148 RT 60 RW 17 Kelurahan 26 Ilir, dimana sekarang di jadikan museum textil Palembang tetapi belum di buka untuk umum.

Gedung yang dibangun oleh kolonial Belanda, sebagai kantor Gubernur pemerintahan Hindia Belanda di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) itu, telah memerankan beberapa lakon dalam perjalanan waktu yang cukup panjang.

Pada tahun 1961 pernah menjadi kantor inspektorat kehakiman, lalu Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Sumsel, rumah kediaman Ketua DPRD Sumsel, kantor Pembantu Gubernur, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), BP7, dan terakhir kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda). Dan sekarang didalam kerentaannya di renovasi dan akan di jadikan museum textil.

Memang beberapa waktu lalu Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Palembang berkantor sementara disana, sembari menunggu rampungnya kantor mereka di Jl Merdeka.Bangunan “BP7” merupakan bangunan lama dan berdiri diatas lahan sekitar 2000 meter persegi

Sumber tulisan : Di rangkum dari berbagai tulisan
Sumber Foto Lama : kitlv 

21 November 2007

Sejarah Museum Rumah Bari Kota Palembang


 Museum Kota Palembang 1935 Sumber : Kitlv.nl
Sebuah rumah limas dari areal museum SMB II di beli oleh pangeran sirah pulau padang, pesirah batun (ogan ilir) dari areal benteng rumah tersebut di pindahkan ke kampong pangeran tetapi beberapa bagian diganti, konon penggantian itu di karenakan pangeran takut kualat, nyatanya kualat datang kas marga habis terpakai sang pangeran sehingga rumah tersebut harus di lelang, pembelinya pangeran puntoh pesirah pemulutan (ogan Ilir) yang memindahkan rumah tersebut ke dusun talang pangeran, tetapi pangeran punto bernasib sama.
Museum Rumah Bari di belakang Museum Balaputradewa di KM 5 Palembang
Melihat itu gemeente (Haminte) Palembang membelinya, setelah di bongkar rumah tersebut di bangun kembali di sebelah barat BKB pada tahun 1932, pada 22 April 1933 rumah tersebut di resmikan sebagai museum rumah bari gemeente yang terletak di tepi jalan "sluisweg" (Jalan Rumah bari).

Lokasi museum kota Palembang yang sekarang jadi pelataran parkir DPRD Kota Palembang sehingga di beri nama Jalan Rumah Bari
Museum ini bertahan sampai memasuki tahun 1980-an karena perlunya perluasan tempat parkir untuk kantor DPRD kota Palembang yang di bangun di belakang kantor ledeng sehingga rumah tersebut di bongkar tanpa sisa, tapi menurut sumber lain dari informasinya bahwa museum rumah bari tersebut di pindahkan ke belakang Museum Bala Putra 

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitlv

19 November 2007

Sejarah Rumah Sakit Katolik Charitas Palembang


Rumah Sakit Katolik Roma Charitas di Talang Djawa , Palembang 1935 ( kitlv)
Seperti halnya di setiap wilayah misi, usaha kesehatan menjadi perhatian demikian pula di wilayah misi Sumatera Bagian Selatan, usaha kesehatan merupakan salah satu usaha membantu masyarakat. Sehubungan dengan ini maka pimpinan Pastor hati Kudus Yesus yang sejak tahun 1926 bertugas di wilayah Sumatera Bagian Selatan mohon bantuan kepada pimpinan Konggregasi Suster Charitas di Roosendaal di Negeri Belanda untuk membantu dalam lingkungan misi di daerah ini. Permohonan tersebut mendapat tanggapan baik sehingga dalam waktu singkat mereka siap mengirim para Susternya ke daerah misi Sumatera bagian Selatan.

  Suter Rumah Sakit Katolik Roma Charitas di Talang Djawa di Palembang 1929 ( kitlv)
Tepat pada tanggal 9 Juli, lima orang Suster dari Konggregasi Charitas Roosendaal tiba di Palembang, mereka adalah ;
1. Suster Raymunda Hermans,
Suster  pendiri R.S Charitas Sumber : RS Charitas
2. Suster Willhelmina Blesgraaf,
3.Suster Caecilia Luyten,
4. Sr Alacoque van der Linden,
5. Suster Chatarina Koning.

Maka dengan semangat cita cita pendiri Konggregasi Suster Suster Santo Fransiskus Charitas “yakni dalam kegembiraan, kesederhanaan dan terutama dalam cinta kasih menolong orang lain, seraya berdoa dan mengorbankan diri menampakkan kegembiraan hidup diantara orang sakit dan yang kekurangan” ke lima suster tersebut memulai karyanya di Indonesia tepatnya di wilayah misi kota Palembang beralamat di Jalan jendral Sudirman di samping Gereja St. Yosep (frateran Bunda hati Kudus) saat ini.

Pastor dan Suter Gereja St. Yosef Sumber : RS Charitas

Sejak tahun 1926 hingga tahun 1938 RS RK Charitas menempati jl. Jendral Sudirman/frateran sekarang. Rumah sakit ini sangat sederhana menampung 14 - 16 orang penderita yang saat itu kebanyakan masyarakat yang belum mengerti tentang rawat inap di rumah sakit, sehingga jumlah tempat tidur yang hanya sedikit masih sering kosong. Untuk memperluas pelayanan mereka mengadakan kunjungan rumah. Jadi setiap hari dua orang suster keluar masuk lorong keliling kota Palembang.  Wilayah Palembang secara geografi adalah kota air, banyak rawa-rawa sehingga  masa itu banyak lorong yang masih di hubungkan hanya dengan sebatang bamboo saja, walau begitu para suster  tetap menjalankan tugas dengan tekun dan penuh semangat demi kepentingan masyarakat dan gereja.
Lokasi RS Charitas Sumber : RS Charitas

Karya para Suster Charitas di Palembang semakin berkembang serta ada penambahan sepuluh orang Suster lagi dari Konggregasi Charitas di Roosendaal Belanda, maka di rasakan perlu di bangun rumah sakit baru. Oleh pimpinan suster Charitas di pilihlah sebidang tanah yang letaknya di ketinggian saat itu jauh dari keramaian kota dan cukup strategis, tempat ini memang merupakan gunung kecil berada di sudut kota Palembang, merupakan lokasi rumah sakit sekarang ini. Tahun 1937 mulai peletakan batu pertama, kemudian tanggal 18 januari 1938 peresmian pembukaan rumah sakit oleh Mgr. Meckelhot SCJ dengan nama rumah sakit RK Charitas. Sedangkan bangunan lama yang posisinya berseberangan dengan rumah sakit diserahkan kepada Fratere dari O.V.L. van Utrecht.

Sumber : RS Charitas
 Rumah sakit yang didirikan para Suster Charitas ini merupakan rumah sakit yang pertama ada di Palembang, mempunyai 59 tempat tidur, disamping itu pelayanan kunjungan rumah, persalinan di rumah tetap dilaksanakan oleh suster suster rumah sakit yang berkendaraan sepeda.Selama penjajahan jepang rumah sakit diambil dan dijadikan markas tentara Jepang, para suster dan pastor di internir/ditawan di berbagai tempat. Pada waktu kemerdekaan rumah sakit Charitas di kembalikan kepada Konggregasi Suster Charitas dan terus di benahi sampai menjadi rumah sakit seperti saat ini.

Sumber tulisan : RSK Charitas.
Sumber Foto Lama : kitlv & RSK Charitas.

18 November 2007

Sejarah Becak Cina di Palembang


Jalanan dengan becak Cina ( rikshaw) dan toko pakaian di Pasar 16 Ilir Palembang Sumber Foto : Tropen Museum
Pejabat Belanda sedang naik becak Cina ( rikshaw) di Jalan Sekanak Palembang Sumber Foto : Kitlv.nl
Becak cina /Rikshaw adalah kendaraan roda dua yang memiliki atap dari kain/kanvas yang mudah di lipat. Kendaraan ini di tarik manusia biasanya dari etnis cina yang memiliki kuncir rambut yang panjang. Penarik Becak pada saat itu memang seluruhnya orang Cina karena pada masa kesultanan Palembang, orang cina di anggap sebagai pendatang dan tinggalnya pun di kelompokan di rumah-rumah rakit. 


Sumber Foto : Kitlv.nl
Penarik “rikshaw” di Palembang jaman dulunya umumnya orang Tiong Hoa “totok”  yang masih susah (pelat)  berbahasa Palembang, yang oleh orang  Palembang sendiri disebut “sengkek” (sin kek = cino dusun). Adapun Ongkos menarik rikshaw  dari Pasar 16 Ilir ke Pasar Lingkis ( sekarang Pasar Cinde) adalah seringgit sen (1/40 Rupiah). 

Biasanya uang dari hasil pembayran yang diterimanya  ini ditaruh dalam kotak dibawah pijakan kaki penumpang (lihat foto). Para pemuda preman (pada jaman itu disebut “bujang juaro”) yang menumpang rikshaw ini sering mengambil duit tersebut di saat rikshaw sedang jalan tapa diketahui oleh sengkek penarik rikshaw.
 
Kendaraan ini dulunya banyak di dapati sekitar tahun 1920-1940an ,  dimana kendaraan tersebut dipakai oleh orang-orang Belanda orang-orang pribumi yang "berada" sebagai salah satu sarana transportasi pada saat itu dan, untuk Sekarang beca cina ini sudah tidak ada lagi selain kalah dengan trasnportasi yang ada saat ini dan juga sudah di anggap tidak manusiawi.

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitlv & Tropen Museum  

17 November 2007

Perkuburan Cina di Palembang

Kuburan Cina Sumber : Kitlv.nl

Salah satu kuburan  cina talang krikil, Sukabangun Palembang


Kuburan Cina di Palembang banyak sekarang banyak terdapat di daerah Talang Kerikil, Sukabangun Palembang, selain pemakaman untuk etnis cina pemakaman untuk umat kristenpun ada di sini, pada awalnya kuburan etnis cina dan umat kristen yang terkenal dan berjumlah banyak terletak di Jl Merdeka yang meliputi kantor penggadaian dan Sriwijaya Sport Center (eks Bioskop Garuda) tetapi seiring perkembangan zaman kuburan-kuburan tersebut di bongkar dan di ganti dengan bioskop dan perkantoran.

Kawasan Talang Kerikil Daerah ini banyak di kunjungi saat Cheng Beng (Sembayang Arwah) di mana para pembersih kuburan dan pelukis untuk kuburan cina banyak meraup rezeki.

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitlv.nl

15 November 2007

Sejarah Perahu Bidar / Pancalang Palembang


 Lomba Mendayung di Sungai Musi saat Perayaan Penombatan Ratu Wilhelmina di Palembang 1898 Sumber : Kitlv.nl
Lomba Bidar dan Penonton saat kini
Kelahiran perahu bidar tidak terlepas dari kondisi dan situasi kota Palembang, yang dikelilingi banyak sungai beserta anaknya. Data terakhir, anak sungai yang dulunya berjumlah 108, kini tinggal 60 anak sungai.

Dahulu, untuk menjaga keamanan wilayah,diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat. Kesultanan Palembang lalu membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu.

Ketika itu perahu berpatroli itu disebut perahu pancalang, berasal dari pancal dan lang/ilang. Pancal berarti lepas, landas dan lang/ilang berarti menghilang. Singkatnya pancalang berarti perahu yang cepat menghilang.

Perahu ini dikayuh 8-30 orang, bermuatan sampai 50 orang. Memiliki panjang 10 sampai 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter. Karena bermuatan banyak orang, Pancalang juga digunakan sebagai alat angkutan transportasi sungai. Raja-raja dan pangeran kerap pula menggunakan pancalang untuk plesiran.

Gambaran bentuk pancalang diungkapkan secara detil dalam buku Ensiklopedi Indonesia NV, terbitan W Van Hoeve Bandung’s Gravenhage . Disebutkan, Pancalang perahu tidak berlunas, selain sebagai perahu penumpang, ia juga dijadikan sarana untuk berdagang di sungai. Atapnya berbentuk kajang, kemudinya berbentuk dayung dan digayung dengan galah atau bambu.

Lomba Bidar  di Sungai Musi  Palembang 1900 Sumber : Kitlv.nl
Menurut para ahli sejarah, perahu Pancalang inilah asal muasal lahirnya perahu bidar. Agar terjaga kelestarian perahu bidar, digelarlah lomba perahu bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Lomba ini sering disebut wong doeloe dengan sebutan "kenceran".
Lomba Bidar Dan Penonton Tahun1931 Sumber : Kitlv.nl


Pada zaman kolonial Belanda biasanya bidar di selenggakan pada saat kedatangan ratu dan keluarganya dari kerajaan belanda.

Kini, tampilan perahu bidar sedikit berbeda dengan masa Kesultanan Palembang. Ada dua jenis yang kini dikenal.

Pertama,perahu bidar berprestasi. memiliki panjang12,70 meter,tinggi 60 cm dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung,1 juragan serta 1 tukang timba air. Perahu ini dapat dilihat setiap 17 Juni, bertepatan dengan hari jadi kota Palembang.       

Jenis kedua perahu bidar tradisional. memiliki panjang 29 meter, tinggi 80 cm serta lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air. perahu ini dapat disaksikan pada setiap Agustusan, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.
Lomba Bidar di sungai musi 1900 Sumber Foto : Kitlv.nl
Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitl.nl

12 November 2007

Sejarah Penerbangan Sipil Pertama di Palembang

Sebuah pesawat Fokker F-VII 3M dri Maskapai KLM untuk Take Off ke Palembang 1930 Sumber Foto : kitlv.nl
KNILM (Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij - Royal Netherlands Indies' Airways) adalah perusahaan penerbangan sipil khusus untuk operasi penerbangan di Hindia-Belanda yang berdiri pada tahun 1928 di Belanda. KNILM hasil kerjasama Deli Maatschappij, Nederlandsch Handel Masatschappij, KLM, Pemerintah Hindia-Belanda dan perusahaan-perusahaan dagang yang punya kepentingan di Indonesia.

 Sebuah pesawat Fokker F VII 3M KLM didorong untuk mengisi bahan bakar 1930  Sumber Foto : kitlv.nl
Pada 1 Oktober 1931, KLM membuka program satu minggu sekali ke Batavia. Setahun kemudian pesawat yang beroperasi diganti Fokker F-12, dilengkapi kursi untuk empat penumpang. Desember 1933, pesawat yang mendarat di Batavia diganti F-18 dengan lama penerbangan sekitar 96,5 jam. Dua tahun kemudian, KLM meningkatkan frekuensinya dan mengganti pesawat dengan DC-2, dan berganti lagi kemudian dengan DC-3 Dakota pesawat jenis inilah yang nantinya menjadi legenda bagi bangsa Indonesia.

Sumber Foto : kitlv.nl
Sementara itu, KNILM pun beroperasi dengan F-7/3B di belahan Nusantara. KNILM membuka penerbangan untuk angkutan pos Batavia-Semarang dan Batavia-Bandung masing-masing seminggu sekali. Kemudian, penerbangan dari Semarang diteruskan ke Surabaya. Pada tahun '30-an itu, KNILM menambah armadanya dengan F-12 dan DC-2 serta membuka jalur penerbangan tetap Palembang-Pekanbaru-Medan sekali seminggu, juga ke Singapura. KNILM juga mengoperasikan pesawat-pesawat amfibi Sikorsky S-38 dan Grumman Millard untuk operasi di Kalimantan Timur.

Pada 06 Oktober 1937 pernah juga terjadi kecelakaan terhadap pesawat Douglas DC-2 di Palembang yang menyebabkan tewasnya seluruh awak dan penumpang.
Harry Hirsch dalam Fokker F VII 3M dari  India Belanda  Airlines ke Palembang 1930

Akhir tahun Akhir tahun 1941, Hindia-Belanda menjadi sasaran serbuan bala tentara Jepang. Penerbangan sipil berkurang, karena fungsinya sudah lebih ke militer. Jepang menduduki Indonesia dan membentuk Nampo Koku Kabushi Kaisha atau

Perseroan Lalu Lintas Udara Daerah Selatan, penyedia angkutan bagi orang sipil Jepang berseragam militer yang menduduki jabatan di pemerintahan. Perusahaan ini adalah cikal bakal Garuda Indonesia Airways.              
                                                                        
Orang di bandara Palembang untuk menyambut pesawat Fokker F-VII 3M dari KLM 1930
Sumber Foto : kitlv.nl
Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama : kitlv.nl

09 November 2007

Sejarah Kamar Bola Seberang Ilir Palembang

Kamar Bola dengan latar belakang watertoren Sumber Kitlv.nl





Kamar Bola di Palembang tahun 1935 Sumber Kitlv.nl

Benteng dengan latar belakang Societeit Sumber : Kitlv.nl
Umbul-Umbul Di  Societeit saat ulang tahun Putri Juliana 1930 Sumber Ki

Societeit atau yang sering di kenal dengan "kamar bola" atau "Rumah bola" (permainan bola bowling) yang terletak di Seberang Ilir atau tepat di belakang kantor ledeng, yang di lengkapi dengan balai pertunjukan (schrowburg) dimana tempat ini juga untuk para orang-orang Belanda berdansa sehingga pada perkembangnnya pada tahun 1928 menjadi bioskop Luxor.

Setelah zaman kemerdekaan bangunan ini pun beralih fungsi sebagai tempat hiburan orang Palembang di mana pada tahun 70-80 an tempat ini di kenal dengan nama Bioskop Intium/Mustika, dan sebelumnya pernah juga menjadi Gedung Pemuda dan Pramuka.

Tetapi seiring waktu bioskop tersebut di tutup dan sekarang gedung ini di kelolah oleh KODAM II/SWJ sebagai Balai Prajurit. Dan fungsi gedung ini juga bukan hanya sebatas acara meliter tetapi juga di berdayakan sebagai  salah satu tempat untuk mengadakan acara pernikahaan dan acara-acara lainnya.

Kamar Bola selain di Seberang Ilir juga terdapat di seberang ulu yaitu di komplek pertamina yang sekarang di kenal dengan Gedung Patra Ogan.
Kamar bola saat ini  Setelah mengalami beberapa kali" Balai Prajurit" Tahun 2009

Sumber Foto Lama : kitlv.nl dan Tropen Museum

06 November 2007

Sejarah Becak Palembang


Pasukan Belanda saat bersantai menggunakan Becak  (1947) Sumber : Tropen Museum

Becak di Palembang berbeda dengan becak-becak di tempat lainnya dimana seperti di Jawa becak biasanya ada tutup untuk roda samping ataupun bentuk atap yang melengkung.

Di Palembang becaknya tanpa tutup roda dan atapnya pun tidak terlalu tinggi dan kalau barang banyak yang di bawa atap nya bisa di copot.
 
Adapun awal mula kendaraan yang bernama becak ini masuk ke Indonesa terutama Palembang adalah Rikshaw (becak Cina) yang di tarik oleh orang cina dan banyak terdapat pada tahun 1920-1940an. Tapi karena di anggap kurang manusiawi maka Rikshaw (becak Cina) di hapuskan dan di ganti dengan becak seperti yang ada saat ini.

Pemerintah kolonial Belanda merasa senang dengan transportasi baru ini. Namun belakangan pemerintah melarang keberadaan becak karena jumlahnya terus bertambah, membahayakan keselamatan penumpang, dan menimbulkan kemacetan.

Jumlah becak justru meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Kontrol Jepang yang sangat ketat terhadap penggunaan bensin serta larangan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi menjadikan becak sebagai satu-satunya alternatif terbaik moda transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan penguasa membentuk dan memobilisasi kelompok-kelompok, termasuk tukang becak, demi kepentingan perang melalui pusat pelatihan pemuda, yang mengajarkan konsep politik dan teknik organisasi.

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.
Sumber Foto Lama :  Tropen Museum
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...