CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

13 March 2019

cerita 17 an : lomba perahu bidar di Sumatera Selatan

Puluhan ribu penduduk Palembang dan sekitarnya tumpah ruah ke Sungai Musi untuk menyaksikan perlombaan bidar tahun ini. Jembatan Ampera menjadi tribune-angkasa. Yang ingin menonton lebih dekat menggunakan sampan, motor boat, jukung dll.(Kompas/W)

KOMPAS.com - Momen peringatan HUT RI yang diperingati setiap 17 Agustus menjadi pesta rakyat. Nuansa merah putih ada di mana-mana. Berbagai perlombaan digelar menambah kemeriahan 17-an. Salah satu lomba yang masih dipertahankan dari dulu hingga kini adalah perlombaan Perahu Bidar di Sumatera Selatan. Apa itu Bidar ? Bidar merupakan perahu yang terbuat dari kayu. Di Palembang, Perahu Bidar juga digunakan untuk ajang perlombaan dayung perahu. Perlombaan yang paling besar adalah saat perayaan HUT Kemerdekaan RI. 

 Di Sumatera Selatan ada berbagai jenis perahu bidar, yang paling terkenal ada tiga yaitu: 1. Bidar Kecik (mini) dengan jumlah pendayung 11 orang 2. Bidar Pecalangan (menengah) yang bisa mengangkut lebih dari 35 orang. Perahu ini untuk acara di Sungai Musi dan daerah lain 3. Perahu Bidar yang bisa mengangkut 57-58 orang, digunakan sekali dalam setahun di Sungai Musi saat perayaan HUT RI. Sebuah perahu bidar yang digunakan untuk lomba memiliki panjang sekitar 26 meter (dari haluan ke buritan), lebar 1,37 meter (bagian yang terlebar), dan tinggi sekitar 0,70 meter (bagian yang paling dalam). Bagian jalur atau lunas perahu memiliki ukuran 20 meter dengan lebar 0,09 meter terbuat dari kayu jenis kempas, bungus atau rengas yang merupakan kayu kuat dan tahan terhadap air. 

Pada bagian kerangka perahu yang berbentuk balok-balok melengkung dengan ukuran sekitar 7x15 meter terbuat dari kayu bungus atau rengas. Bagian kerangka untuk memperkuat perahu juga berfungsi sebagai penghubung antara lunas dengan pinggiran atau dinding perahu. Bagian ini terbuat dari kayu merawan dengan ukuran panjang sekitar 26 meter, lebar 0,12 meter, dan tebal 0,03 meter. Perlombaan Bidar di Sungai Musi. Untuk merayakan HUT RI ke 40 masyarakat di pinggir Sungai Musi Palembang mengadakan lomba Bidar. 

Perlombaan Bidar di Sungai Musi. Untuk merayakan HUT RI ke 40 masyarakat di pinggir Sungai Musi Palembang mengadakan lomba Bidar. Bidar adalah perahu kecil yang bisa dikayuh oleh beberapa orang.(KOMPAS/Abadi Tumanggung)
Bidar adalah perahu kecil yang bisa dikayuh oleh beberapa orang.Sepanjang pinggiran bagian dalam perahu (kanan dan kiri) terdapat balok-balok kayu yang biasa disebut buayan. Bagian ini memiliki fungsi sebagai tempat dudukan palangan perahu dengan ukuran panjang 26 meter, lebar 0,5 meter, dan tinggi 0,10 meter. Palangan ini sebagai tempat duduk para pedayung, bentuknya papan selebar 15 centimeter yang dipasang melintang tepat di atas buayan. Pada bagian haluan dan buritan perahu terdapat lantai papan yang terbuat dari kayu merawan dengan ukuran sekitar 70x30 cm. Kayu papan pada bagian haluan digunakan sebagai tempat duduk juru batu (komandan atau pemberi aba-aba), sedangkan kayu papan bagian buritan digunakan sebagai tempat duduk penyibur (orang yang memberi semangat kepada para pedayung dengan jalan menyiburkan dayungnya ke air). 

Tradisi lomba Perahu Bidar Lomba Perahu Bidar tak bisa dilepaskan dari tradisi peringatan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Meski setiap tahun jumlah peserta lomba terus berkurang, tradisi lomba yang telah dimulai sejak puluhan tahun ini masih dipertahankan. 

Harian Kompas, 25 Agustus 1965, lomba ini merupakan permainan tradisonal yang dilestarikan di Kota Palembang. Pada tahun itu, antusisme penonton yang hadir begitu meriah. Petugas Jembatan Musi membolehkan penonton untuk naik ke atas jembatan dengan memungut biaya Rp 200 per orang.  Sejumlah perahu hias sedang memarken berbagai perhiasan di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (17/8/2005). Lomba perahu hias dan perahu bidar tradisional diselenggarakan Pemerintah Kota Palembang untuk memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-60 Republik Indonesia.Bidar-bidar yang diawaki sekitar 50-an orang dilepas melalui Kampung Serengam dan finish-nya di Jembatan Ampera. Saat itu, ada 16 bidar ikut bertanding yang pesertanya berasal dari berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya menonton, antusiasme masyarakat juga ditunjukkan dengan mengarak bidar tersebut. 

Harian Kompas, 21 Agustus 1980, memberitakan, puluhan motor sungai (motor air) yang mengangkut penonton saling mendahului mengiringi bidar-bidar yang berlomba. Kini, peminat dan antusiasme itu semakin berkurang. Salah satu kendalanya adalah merawat Bidar. Selain membutuhkan biaya tinggi, bahan baku kayunya juga sulit didapatkan. Untuk mendapatkan kayu, masyarakat harus menempuh perjalanan jauh di hutan di kawasan Hulu Sungai Musi. Sementara, untuk membawanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita "17-an": Lomba Perahu Bidar di Sumatera Selatan", https://regional.kompas.com/read/2018/08/13/17424021/cerita-17-an-lomba-perahu-bidar-di-sumatera-selatan
Penulis : Aswab Nanda Pratama
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

10 March 2019

Pedestarian Sudirman, malioboro-nya Palembang

Sama seperti yang ada di kota tua Jakarta

Tempat yang dahulunya hanya trotoar biasa sepanjang 500 meter menjadi primadona warga Palembang, setelah tempat tersebut disulap menjadi spot bersantairia dengan beragam hiburan menarik di dalamnya.


Barongsai
Tampak sepanjang pedestrian diisi dengan berbagai aktivitas kegiatan anak muda.Mulai dari pertunjukan musik tanjidor, tarian dan nanyian lagu-lagu daerah, pertunjukan pantomim, pertunjukan komunitas reftil, dan aktivitas kegiatan anak muda lainnya bakal tersaji setiap malam di akhir pekan.Pedestrian ini keren sekali hampir mirip dengan Orcardnya Singapura. Kalau di Indonesia itu ada di Jogja dengan Jalan Malioboronya. Yang membuat destinasi ini banyak diminati karena murah meriah tanpa harus mengeluarkan biaya alias gratis untuk menikmti beragam hiburan di sana.

Pencinta Reptile
Pocong & suster ngesot pun ikut datang

Berbagai Cosplay
Khotmil Qur'an di pedestarian Sudirman Palembang


Yang membedakan pedrestarian sudirman ini dengan tempat lain selain ada hiburan-hibuan , ada juga kegiatan khotmil Qur'an atau "Palembang Mengaji" Yang diasuh oleh al mukarom K.H. A Nawawi Dencik Al-Hafizh yang diadakan setiap Sabtu malam.

Di harapkan dengan adanya kegiatan khotmil Qur'an bisa mencetak generasi penghafal Qur'an baik hafiz dan hafizah. 
Sebagian dari peserta melakukan murajaah surah dan yang lain menyimak, yang di pandu oleh ustad-ustad yang sudah berkompeten di hapalan al-quran.

Kegiatan ini bekerja sama dengann rumah tahfiz dan juga majelis taklim yang ada di kota Palembang. Selain itu kegiatan ini di isi dengan sholawat dan hadroh.

Pedestrian Sudirman, 09 Maret 2019

15 January 2019

Guguk Kepandean



Pada mulanya wilayah pemukiman penduduk Kota Palembang di zaman Kesultanan berpusat kepada Keraton. Sedang pemukiman penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini, sebagaimana diutarakan Djohan Hanafiah, berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama Guguk (gogok). Setiap Guguk biasanya mempunyai tugas, keahlian dan fungsinya tersendiri. Paling tidak ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi (kedudukan/jabatan), Sektor Usaha, dan Sektor Fungsinya. Disetiap wilayah Guguk ini dipimpin oleh pemimpinnya, baik karena kedudukannya dia menjadi golongan bangsawan ataupun karena kebangsawanannyalah ia sebagai pemimpin.

Salahsatu guguk yang terpenting dan bersejarah adalah Kepandean. Kepandean berarti pandai besi, jadi lingkungan guguk Kepandean ini maksudnya ialah kampung yang dikaitkan dengan sektor usaha atau keahlian khusus dalam bidang kerajinan pandai besi. Orang yang mempunyai kepandaian atau keahlian dalam suatu pekerjaan tangan baik dengan alat atau bahan yang tertentu seperti batu, besi, kayu dan lainnya ini dalam istilah wong Palembang disebut 'tukang'.

Menurut naskah arsip lama, memang di Kesultanan Palembang dikenal banyak para tukang yang mempunyai keterampilan dan keahlian khusus, di antaranya seperti: 
- Tukang pembuat Payung, pengrajinnya ialah Masagus Basyar bin Mgs. Bawah bin Pangeran Cakra Wijaya bin Sultan Muhammad Mansur.
- Tukang Ukir, ialah Pangeran Nato Wikramo Mahjub bin Sultan Muhammad Bahauddin.
- Tukang Keris (empu), yaitu Kiagus Empu.
- Tukang Bangunan (arsitek), adalah Ki. Ranggo Wiro Sentiko.
- Tukang Rakit Api, dikerjakan oleh Raden Kijing.
- Pinakawan Sultan, yaitu Pangeran Wirakrama Gubir.
- Tukang Meriam, ialah Raden Keling bin R. Prabu Jaya.

Disamping membuat bermacam peralatan seperti pedang, parang, keris, lela, senapan, peluru dan lainnya, juga salahsatu hasil produksi di Guguk Kepandean yang sangat menonjol adalah pembuatan senjata meriam.

Guguk Kepandean terletak di wilayah lingkungan belakang keraton Palembang. Lokasinya membentang di antara Keraton Beringin Janggut dan Keraton Tengkuruk ataupun Keraton Kuto Besak (BKB) yang dikelilingi oleh Sungai Tengkuruk, Sungai Ketandan dan Sungai Kebon Duku. Oleh karena itu tempat ini dikenal pula dengan sebutan Kepandean Darat dan Kepandean Laut. Sekarang kawasan Kepandean ini masuk dalam lingkungan kampung 18 ilir.

Salah seorang pengrajin yang ahli dalam membuat senjata seperti meriam di masa Kesultanan Palembang Darussalam adalah Raden Keling. Beliau merupakan priyai, bangsawan kerabat kesultanan. Nama lengkapnya Raden Muhammad Keling bin Raden Prabu Jaya bin Pangeran Adipati Peninjauan bin Sultan Muhammad Mansur. Keahliannya dalam membuat meriam tidak diragukan lagi. Banyak sekali meriam lokal yang telah dihasilkannya dan ternyata menjadi senjata yang ampuh dan jitu dalam beberapa pertempuran mempertahankan kedaulatan Kesultanan Palembang. Ratusan meriam produknya telah diletakkan di benteng-benteng pertahanan dan Keraton Palembang. Salah satu inskripsi pada meriam tersebut bertuliskan dalam huruf Arab berbunyi:
"Alamat Raden Keling ibnu Raden Prabu Jaya fi Baladi Palembang Darussalam sanah 1225 (1811)."

Meriam Palembang ini bahannya terbuat dari besi ataupun tembaga. Biji besi sebagai bahan membuat meriam dan pelurunya di antaranya didatangkan langsung dari Belitung, di cor di guguk Kepandean, tempat sentral pembuatan persenjataan Kesultanan Palembang. Sedang bahan-bahan pembuat obat mesiu diambil dari daerah uluan terutama di Tebing Tinggi. Setidaknya ada tiga tipe kaliber atau ukuran meriam, yakni ukuran kecil, sedang, dan besar.

Selain itu, menurut Frieda Amran dalam tulisannya, di pertengahan abad ke-19 (masa kolonial), terdapat tukang pandai besi sekitar 155 orang. Komunitas mereka sebagian besar tinggal berdekatan di Kampung 18 ilir. Pengrajin-pengrajin besi ini biasanya membuat parang, beliong dan tengkuit (arit). Mereka juga membuat keris dan kampak. Seorang pandai besi biasanya dibantu oleh dua orang kenek, yang berganti-gantian menarik puputan. Waktu yang diperlukan untuk membuat 50 buah parang itu adalah selama 10 hari, sehingga dalam jangka sebulan dapat dihasilkan sebanyak f60,- perbulan. Dalam sejarahnya, sejak dulu wong Palembang sudah biasa membuat senjata api, senjata tersebut luar biasa kuatnya, namun cukup berat dan berkwalitas. Kunci gembok dan paku juga diproduksi di Guguk Kepandean ini, meskipun lama kelamaan pekerjaan para tukang pengrajin ini semakin sedikit.

*Rujukan: dikutib dari berbagai sumber.

Plg, 13/1/2019
Kms.H. Andi Syarifuddin

***disadur dari sebuah tulisan di laman facebook Ust. Kms. Andi Syarifuddin

24 November 2018

Macan Lindungan


Penamaan tempat atau kampung-kampung di Palembang tempo doeloe tentunya sarat akan nilai historis serta memiliki makna sejarah lingkungan tersebut masing-masing. Dalam buku Peringatan Kota Pelembang 1272 tahun dan 50 tahun Kotapraja (Haminte) Palembang oleh RHAMA, 1956, bahwa Kota Palembang didirikan dengan undang-undang kelahirannya yaitu Instellingordonnatie Gemeente Palembang, Staatblad No.126 tanggal 1 April 1906 yang mengatur luas daerahnya, keuangan, hak, kedudukan, kewajiban, Dewan Perwakilan Rakyatnya, penyerahan beberapa kekuasaan, lalu lintas, kesehatan, pengawasan dan penguasaan atas pekuburan umum, dan lain-lain.

Luas kawasan wilayah di Kota Palembang akan semakin nampak batasan-batasannya ketika kita melihat dan membaca peta-peta lama Kota Palembang, di antaranya peta tahun 1917. Dalam peta tersebut nampak sebuah nama kawasan yang tidak asing terdengar di telinga kita yaitu Macan Lindungan.

Di samping itu, berdasarkan catatan arsip lama, dulu kawasan wilayah Macan Lindungan ini sangat luas membentang sejauh ratusan kilo meter meliputi Bukit Lama, Bukit Besar, Bukit Baru hingga Talang Kelapa. Nama guguk Macan Lindungan sudah ada sejak jaman kerihin.

Kondisi agraris kawasan Macan Lindungan tipikal tanahnya termasuk dataran tinggi atau talang. Selain berfungsi sebagai kebon yang memiliki beraneka jenis tanaman seperti pohon Tembesu dan lainnya, juga terdapat berbagai spesies hewan ternak maupun hewan liar seperti macan dan lain-lain merasa dilindungi di kawasan ini.

Menurut informasi laporan Demang RM. Hasir, di Palembang sampai tahun 1917, banyak sekali binatang-binatang yang terdapat di Palembang di antara: rusa, kijang, kancil, napuh, pelanduk, landak, macan, beruang, babi hutan, badak, tenuk, ular, monyet, buaya, ular berbisa dan lainnya. Semua hewan liar tersebut menjadi incaran bagi para pemburu untuk ditangkap. Kebanyakan binatang seperti rusa, kijang, kancil dan pelanduk ditangkap dengan jaring atau jerat terbuat dari rotan, atau sesekali diburu dengan anjing. Ada pula dibunuh dengan tombak atau senapan. Sedang buaya dan ular berbisa habitatnya hidup di rawa-rawa. Untuk membunuh macan atau harimau yang merusak ternak ditangkap dengan perangkap khusus yang disebut belantik. Agaknya keberadaan 'macan' ini perlu mendapat per'lindungan' dari tindakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dari kepunahan. Bahkan gajah, macan dan badak dijual ke luar negeri, dan ditempatkan di area Candi Angsoko untuk selanjutnya diangkut ke luar negeri. Kampung Candi ini dulu banyak ditumbuhi oleh pohon nangka besar.

Di samping itu, masyarakat wong Palembang selain pekerjaannya sebagai tukang dan pengrajin, juga ada yang beternak. Ternak yang dipelihara antara lain: sapi, kerbau, kambing, babi, ayam, itik, angsa dan kuda. Sapi diternak betul-betul oleh warga, lokasinya di sekitar kampung 5 ilir, 8 ilir, 20 ilir, 24 ilir, Talang Kerangga dan Bukit. Kerbau terdapat di Kampung Jawa (20 ilir), Talang Kerangga dan Bukit. Kambing, hampir di setiap kampung ada. Babi hanya diternak oleh orang Cina kebon di kampung 5 ilir, 8 ilir, 17 ilir, 20 ilir, Talang Kerangga dan Bukit. Ayam, itik dan angsa diingon hampir disetiap rumah warga. Sedang kuda sangat sedikit habitatnya.
Demikianlah gambaran keberadaan flora dan fauna masa itu. 

Salahsatu arsip catatan lama yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu tentang keterangan nama Macan Lindungan di antaranya ditulis oleh Pangeran Haji Nata Diraja. Pangeran Haji Nata Diraja adalah tokoh priayi Palembang yang pernah menetap di lingkungan wilayah guguk Talang Macan Lindungan. Beliau putera Pangeran Krama Jaya Perdana Menteri, penguasa terakhir Palembang di masa kesultanan. Pangeran Haji Nata Diraja wafat dalam tahun 1896. Dalam catatannya Pangeran Haji Nata Diraja menjelaskan tentang nama dan batas-batas daerah ini sebagai berikut:
"Kebon Macan Lindungan bertapal watas Sungai Segenap, Solok Gajah Mati, Sungai Sahang, Durian Padu, Gandaraya Payung, watas Talang Kelapa terus Kali Musi, Langbidara, Sungai Rambutan, Pulau Salam sampai di Solok Gajah Mati. Apa-apa yang tersebut di dalam itu pohon Tembesu kata punya lain orang tidak boleh seteru ganggu di dalam kebon tersebut."

Kini nama jalan Macan Lindungan yang melintas kawasan Bukit sebagian dirobah menjadi nama lain yakni jalan Parameswara.
wallahu a'lam

Palembang, 18-11-2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Di sadur dari sebuah halaman facebook Ustadz Kms. H Andi Syarifuddin