CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

02 December 2010

Srikaya/ Srikayo Palembang

Foto : cookpad.com

Srikayo atau biasa disebut srikaya asli palembang by by oldy. Hijaunya asli dari daun suji dan pandan makanan favorit suami. Cara mengetahui telur 1 gelas caranya dipecahin saja dulu bun satu-satu telurnya. Kalau sudah pas satu gelas, stop. Kalau tanya berapa butir tentunya nggak bisa jawab soalnya ukuran beda-beda. Resep di bawah ya bunda.

Resep Srikaya Asli Palembang

Bahan:
  • 1 gelas telur
  • 1 gelas gula pasir
  • 1 gelas santan
  • Daun suji dan daun pandan secukupnya
    (Iris tipis-tipis campur air sedikit blender, lalu saring ambil airnya)

Cara Membuat Srikaya Asli Palembang

  1. Campur semua bahan diatas, diaduk perlahan sampai tidak bergerindil.
  2. Masukkan ke dalam cetakan, kukus dengan api sedang 10-15 menit.
    (Jangan terlalu lama dikukus).
  3. lebih enak di nikmati dengan ketan..
sumber resep : http://www.resepkafe.com/

03 November 2010

Model Ikan Palembang

Hasil gambar untuk resep model palembang
Model Ikan Palembang

Bahan-bahan untuk 20 porsi
Bahan Model


  1. 500 gram daging ikan tenggiri
  2. 200 gram tepung sagu
  3. 50 gram tepung terigu
  4. 200 ml air
  5. 2 sdm minyak
  6. 5 buah Tahu putih uk 5 cm, belah menjadi 2 segitiga (tahu dapat digoreng dahulu sebentar)

  7. BUMBU :
  8. 5 butir bawang putih halus
  9. 1/2 sdm garam halus, sesuai selera

  10. BAHAN KUAH MODEL :
  11. 250 gram Udang segar
  12. 1 buah Bengkoang ukuran sedang
  13. 100 gram Jamur kuping kering
  14. 100 gr Bunga sedap malam kering
  15. minyak goreng
  16. 2 liter Air
  17. BUMBU KUAH MODEL :
  18. 8 siung Bawang putih
  19. 1/2 sdt Merica bulat
  20. BAHAN PELENGKAP :
  21. sohun
  22. irisan daun seledri
  23. bawang goreng
  24. kecap manis
  25. sambal cabe rawit

Langkah

  1. Campur Daging ikan tenggiri, air, garam aduk rata, masukkan bawang halus, campur rata, Tepung terigu dicampur dengan air panas, aduk rata sampai seperti bubur, sisihkan.Campur bubur tepung terigu dengan daging ikan tenggiri halus hingga rata, masukkan tepung sagu uleni dengan jari jari tangan. Jangan menggunakan telapak tangan saat menguleni. Ambil adonan, isi dengan tahu, sehingga tahu tertutup adonan seluruhnya. Goreng dalam minyak panas hingga Tidak lengket.
  2. Cara membuat kuah Model :Kupas udang segar, cincang dagingnya. Kulitnya direbus ambil airnya saja. Bumbu dihaluskan. Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus hingga harum, masukkan cincangan udang, masak hingga udang matang, tambahkan air rebusan kulit udang, sisihkan.Bengkoang dikupas, cuci, lalu potong bentuk korek api, sisihkan.Jamur kuping kering direndam hingga mekar, cuci, potong sesuai selera, sisihkan. Bunga sedap malam dibuang benang sarinya, diikat, lalu dicuci, sisihkan.Didihkan air, setelah mendidih masukkan bumbu yang sudah ditumis, bengkoang, jamur, bunga sedap malam, pempek isi tahu. Didihkan kembali, masukkan garam dan gula. Jika suka boleh ditambahkan penyedap rasa.Model dinikmati dengan pelengkapnya.
  3. SARAN PENYAJIAN MODEL IKAN ASLI PALEMBANG : Tambahkan pempek tahu yang telah dipotong-potong, lalu siram dengan kuah model, taburi soun, irisan daun seledri, bawang goreng. Jika suka tambahkan kecap manis dan sambal cabe rawit. Enak disantap hangat. 

    sumber resep : https://cookpad.com/

01 October 2010

Resep Cara Membuat Mie Celor 26 Ilir Palembang

Foto : sumsel.tibunews.com
Resep Cara Membuat Mie Celor 26 Ilir Palembang– Kuliner Palembang tidak hanya identik dengan pempeknya saja, salah satunya adalah Mie Celor. Mie Celor ini sendiri mirip seperti mie rebus, akan tetapi kuahnya kental yang merupakan perpaduan antara udang ,santan dan telur. Mie nya berukuran besar dan lurus seperti spaghetti dan disajikan bersama serpihan daging udang, potongan telur rebus dan bawang goreng. Rasanya yang asin dan gurih yang aduhai langsung menyergap disuapan pertama serta aroma udang dan telur begitu terasa.
Rahasia untuk kelezatan Mi Celor ini terletak pada penggunaan udang sebagai pelezat utama kuah nya. Yaitu pada kaldu udang dan daging udang (terutama udang galah atau udang satang) yang di lembutkan sehingga dapat menghasilkan adonan kuah yang lembut, kental, gurih dan memiliki warna agak kemerah mudaan. Nah apakah anda tertarik untuk membuatnya, berikut ini saya akan memberikan bahan dan cara membuat Mie Celor 26 Ilir Palembang yang lezat, sebagai berikut :

Resep Cara Membuat Mie Celor 26 Ilir Palembang

Bahan untuk mie celor Palembang :
  • 300 grm udang, dikupas, sisakan ekor nya lalu kerat punggung nya (ambillah kulitnya untuk kaldu)
  • 100 grm taoge, seduh
  • 3 butir telur, rebus lalu potong-potong
  • 6 batang kucai, iris halus
  • bawang goreng 5 sendok makan
  • 1 sendok teh air jeruk limau
  • 250 grm mei telur, seduh
Bahan untuk kuah mie celor palembang :
  • 1 sendok teh air jeruk limau
  • 2 sendok makan tepung terigu encerkan dengan 50 ml air
  • 2 butir telur, kocok lepas
  • 1250 mli kaldu udang
  • 250 mli santan dari ½ btr kelapa
  • ¼ sendok teh gula pasir
  • ½ sendok teh merica bubuk
  • 1 sendok makan garam
Cara membuat Mie Celor Palembang :
  1. Pertama aduk udang dan air jeruk limau lalu diamkan selama 15 menit.
  2. Didihkan 1500 mli air, masukkan lah kulit udang lalu angkat. Kemudian ukur kaldunya 1250 ml.
  3. Selanjutnya didihkan kaldu udang, tambah kan santan, gula, merica, garam dan udang kupas, lalu rebus sampai matang ( untuk udang bisa utuh, dapat pula dihancurkan dulu dengann dicincang halus, ataupun kombinasi keduanya).
  4. Masukkan juga telur mentah sambil diaduk sampai menjadi berbutir-butir, tambah kan air jeruk limau, aduk hingga matang. Kental kan dengan larutan tepung terigu sambil diaduk hingga meletup-letup.
  5. Yang terakhir sendokkan mie dan juga taoge ke dalam mangkuk, tambah kan potongan telur rebus, siramlah dengan kuah panas, tabur kan kucai dan bawang goreng. Tambahkanlah sambal cabe rawit bila ingin pedas. (untuk khas Palembang, biasanya sambal cabe rawit hijau yg diberi air matang)
  6. Nah Mie Celor 26 Ilir Palembang siap disajikan untuk 4 orang.
Demikian Resep Cara Membuat Mie Celor 26 Ilir Palembang, yang merupakan salah satu makanan khas palembang, resep ini dari kresep.com

07 September 2010

Asal Mula Gelar Kebangsawanan Palembang Darussalam

Masyarakat Indonesia pada umumnya mengenal berbagai macam gelar kebangsawanan yang diwarisi turun temurun semenjak zaman Indonesia masih berbentuk kerajaan.Beberapa diantaranya adalah gelar yang saat ini masih digunakan oleh para keturunan priyai dari Palembang Darussalam.
Adapun sistem pewarisannya menganut garis patrilineal (ayah/laki-laki). Artinya gelar tersebut hanya boleh diwarisi seseorang jika ayahnya merupakan keturunan dari si pemegang gelar tersebut.

Gelar-gelar yang dipakai adalah sebagai berikut:
•Raden disingkat (R) gelar laki-laki dan Raden Ayu (R.A) gelar wanita.
•Masagus disingkat (Mgs) gelar laki-laki dan Masayu (Msy) gelar wanita.
•Kemas disingkat (Kms) gelar laki-laki dan Nyimas (Nys) gelar wanita.
•Kiagus disingkat (Kgs) gelar laki-laki dan Nyayu (Nya) gelar wanita.

Ditinjau dari beberapa teori-teori yang telah berkembang, maka akan timbul pertanyaan, Sejak Kapan adanya gelar-gelar kebangsawanan Palembang? Siapa yang mempeloporinya? Bagaimana sistem kekerabatannya?

Asal-usul Pemakaian Gelar Palembang

Dari beberapa temuan silsilah serta catatan mengenai sejarah Palembang, maka dapat dilihat bahwa gelar kebangsawan Palembang telah ada sejak masa awal terbentuknya Kerajaan Palembang yang dipakai oleh para Priyai-priyai yang sebagian berasal berasal dari tanah Jawa.

Pada masa awal Kerajaan Palembang, gelar yang dipakai pertama kali adalah Kyai Gede disingkat (Ki Gede). Dalam struktur masyarakat Jawa, gelar Kyai (Ki) adalah gelar kehormatan yang diberikan kepada seseorang yang dianggap bijak atau memiliki asal usul keningratan. Sedangkan untuk perempuan gelarnya adalah Nyai (Nyi). Gede/Ageng artinya Besar atau Agung. Jadi sebutan Kyai Gede memiliki arti bahwa beliau merupakan seorang pemimpin masyarakat dan termasuk ke dalam golongan elit bangsawan.

Gelar ini digunakan oleh Ki Gede Ing Suro bin Pangeran Sedo Ing Lautan beserta saudaranya Ki Gede Ing Ilir. Mereka inilah peletak dasar pertama sistem kerajaan Islam Palembang. Sepeninggalnya Ki Gede Ing Suro, tahta kerajaan jatuh kepada keponakannya yang bernama Kemas Anom Dipati Jamaluddin bin Ki Gede Ing Ilir. Pemberian nama Kemas/Ki Mas/Kyai Mas di mulai pada masa ini. Mas berarti Yang Mulia. Seluruh putra-putri Kemas Anom Dipati Jamaluddin diberi nama sesuai dengan nama orang tuanya. Namun ketika Kemas Anom Dipati Jamaluddin naik tahta ia masih diberi gelar mengikuti gelar pamannya yaitu Ki Gede Ing Suro (Mudo) untuk menghormati pamannya tersebut. Inilah masa terakhir digunakannya gelar Ki Gede sebagai gelar pembesar kerajaan.

Kemudian setelah itu Ki Gede Ing Suro (Mudo) atau Kemas Anom Dipati Jamaluddin mewariskan tahta kerajaan kepada putranya yang bernama Kemas Dipati. Namun gelar Kemas untuk penguasa kerajaan Palembang ini pun tidak bertahan terlalu lama. Ketika Palembang mulai berada dibawah kekuasaan Kesultanan Mataram, gelar yang digunakan oleh pewaris tahta kerajaan adalah gelar Pangeran. Gelar Pangeran berarti yang memerintah. Gelar ini diberikan kepada anak laki-laki dari Raja. Tetapi gelar ini tidak otomatis, artinya gelar hanya diberikan atas perkenan Raja. Oleh karena itu gelar ini sering juga diberikan raja kepada orang yang dikehendakinya. Sementara putra-putra raja yang lain masih tetap diberikan gelar Kemas.

Perlu menjadi catatan, bahwa pada masa itu tradisi pemakaian gelar berdasarkan sistem “Bilateral” yaitu sistem kekerabatan yang memakai salah satu dari dua garis keturunan dari Bapak/Ibu (garis Laki-laki/Wanita) tradisi dan Budaya Jawa.
Perubahan gelar penguasa dan keturunan palembang mulai terjadi dimasa kekuasaan Pangeran Ratu Jamaluddin Mangkurat V (Sedo Ing Pasarean) bin Tumenggung Manco Negaro. Sebagai keturunan dari penguasa Jawa, yaitu Prabu Satmata Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri/Raden Paku) ia mulai menggunakan pemberian gelar Raden dan Raden Ayu kepada sebagian putra-putrinya. Apalagi ditunjang pernikahannya dengan keturunan Panembahan Kalinyamat yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Kesultanan Mataram. Meskipun begitu, sebagian putra-putrinya yang lain masih diberikan gelar Kemas maupun Masayu.

Puncaknya perubahan gelar dan struktur kerajaan Palembang terjadi dimasa kekuasaan Pangeran Ario Kesumo Abdurrohim (Kemas Hindi). Karena merasa bahwa dukungan dari Kesultanan Mataram sudah mulai berkurang dalam menghadapi serbuan kerajaan lain, maka beliau mengambil keputusan untuk memisahkan diri dari kekuasaan Kesultanan Mataram serta memproklamirkan berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam dengan gelar Sultan. Lalu kepada anak-anaknya beliau memberikan gelar Raden dan Raden Ayu. Sedangkan untuk Putra Mahkota gelar yang Tertinggi adalah Pangeran Ratu (Biasanya anak laki-laki tertua dari Sultan). Namun demikian pernah terjadi Sultan memberi gelar anak laki-lakinya yang tertua dengan gelar Pangeran Adipati atau Prabu Anom .

Pangeran Adipati dipakai oleh anak tertua dari Sultan Abdurrahman yang tidak sempat menjadi raja, dan kedudukannya digantikan oleh adiknya Pangeran Aria (Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago) dan pada tahun 1821-1825 pemberian dan pemakaian gelar Prabu Anom dilakukan Oleh Sultan Ahmad Najamuddin II (Husin Dhiauddin). Hal ini dilakukan karena anak laki-laki dari saudaranya yang tertua (anak Sultan Mahmud Badaruddin II) yang masih hidup telah memakai gelar Pangeran Ratu. Gelar Prabu adalah gelar yang diberikan kepada anak laki-laki Sultan ketika sultan sedang berkuasa.

Mengenai pemakaian gelar Ratu, gelar ini biasanya diberikan kepada Putri Raja yang naik tahta atau Permaisuri (Istri raja) yang disebut dengan Panggilan Ratu Agung atau Ratu Sepuh. Selain itu gelar ini juga diberikan kepada keempat isteri pendamping, karena pada umumnya raja memiliki istri lebih dari satu tetapi bukan selir.Selain Ratu Sepuh ratu-ratu yang lain diberi gelar tambahan/memiliki panggilan tersendiri seperti Ratu Gading, Ratu Mas. Ratu Sepuh Asma, Ratu Ulu, Ratu Ilir, dsb).

Selain gelar untuk para pemegang kekuasaan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, di Palembang juga ada gelar-gelar kebangsawanan lain yang masih menunjukkan hubungan antara pemilik gelar tersebut dengan kalangan penguasa baik melalui hubungan keturunan maupun hubungan saudara.
Diantara gelar tersebut adalah sebagai berikut:
• Masagus disingkat (Mgs) gelar laki-laki dan Masayu (Msy) gelar wanita.
Gelar Masagus (Mgs) berarti berharga banyak. Gelar ini diperkirakan mulai muncul dan dibakukan di zaman kekuasaan Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago. Bahwa apabila para Pangeran atau Raden menikah dgn wanita yang tdk memiliki gelar atau berasal dari golongan rakyat maka anak-anaknya kelak diberikan gelar Masagus dan Masayu.
• Kiagus disingkat (Kgs) gelar laki-laki dan Nyayu (Nya) gelar wanita.
Kiagus asalnya Ki Bagus, singkatan dan Kyai Bagus, sebuah gelaran yang diberikan Sultan Demak pada seorang Ulama asal negeri Arab (keturunan Hadramaut) yang bernama Abdurrohman bin Pangeran Fatahillah. Setelah Kiai Bagus menikah dengan seorang salah seorang keluarga Keraton juga diberi gelar Bodrowongso (ada versi lain Bondowongso) dan isteri Kyai Bagus dipanggil dengan sebuatan Nyai Ayu, disingkat Nyiayu, dan di Palembang sering disebut dengan Nyayu.

Kyai Bagus Abdurrohman ini ditenggarai hijrah ke Palembang pada gelombang kedua setelah rombongan pertama yang dipimpin oleh Pangeran Sedo Ing Lautan. Ia mengabdi menjadi Panglima Pasukan Kerajaan Palembang di masa kekuasaan Pangeran Sedo Ing Kenayan. Ketika terjadi huru hara yang menyebabkan terbunuhnya Pangeran Sedo Ing Kenayan beserta seluruh anggota keluarganya akibat ulah Jaladeri, Kyai Bagus Abdurrohman menjadi pahlawan yang berhasil membalaskan dendam keluarga Kerajaan dengan membunuh Jaladeri.
Sebetulnya pada waktu itu Kyai Bagus Abdurrohman memiliki kesempatan untuk menjadi penguasa Kerajaan Palembang, mengingat tidak tersisa lagi keturunan dari penguasa sebelumnya. Namun karena ia khawatir bahwa keturunannya kelak akan saling berebut kekuasaan maka tampuk kepemimpinan beliau serahkan kepada saudara misan Pangeran Sedo Ing Kenayan yaitu Pangeran Muhammad Ali (Sedo Ing Pasarean).

Atas dasar jasanya tersebut, lalu diamanahkan oleh penguasa Palembang kepada para keturunannya untuk selalu menghormati keturunan dari Kyai Bagus Abdurrohman dan menganggap mereka sebagai keluarga sendiri.
Dalam catatan yang kami temukan, Kyai Bagus Abdurrohman diketahui memiliki beberapa orang putra, diantaranya adalah:
1. Ki Panggung
2. Ki Mantuk
3. Kiagus Muhammad (Khalifah Gemuk)
4. Kiagus Abdul Ghani
5. Ki Bodrowongso Mudo

Dari catatan tersebut, yang diketahui menurunkan zuriat Kiagus adalah dari jalur Kiagus Muhammad (Khalifah Gemuk). Sementara putra-putra Kyai Bagus Abdurrohman yang lain kami masih belum menemukan catatannya.
Catatan: Ada beberapa tulisan sejarah yang menceritakan bahwa gelar Masagus dan Kemas juga berasal dari jalur keturunan Kyai Bagus Abdurrohman. Tapi dari beberapa naskah catatan yang kami temukan tidak terdapat bukti bahwa ada keturunan Kyai Bagus Abdurrohman yang bergelar Masagus ataupun Kemas.
Kyai Bagus Abdurrohman diketahui juga memiliki kakak kandung yang bernama Kyai Mas Abdul Aziz (Tumenggung Nagawangsa) bin Pangeran Fatahillah. Kelak dari jalur Kyai Mas Abdul Aziz ini juga menurunkan gelar Kemas dan Nyimas di Palembang.

Catatan: Selain gelar Kiagus yang diturunkan dari jalur Kyai Bagus Abdurrohman terdapat juga jalur lain. Silahkan baca artikel saya yang berjudul “Nasab Keluarga Besar Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam”.

Oleh: Megatian Ananda Kemas, S.psi

Sumber: dirangkum dari berbagai sumber