CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

16 August 2018

Cara Pembuatan Telok Ukan Palembang

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/

Telur atau bukan "Telok Ukan" begitulah masyarakat Palembang menyebut makanan khas yang dibuat turun-temurun tersebut. Telok ukan hanya ada di saat memperingati HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang bertepatan dengan tanggal 17 Agustus.

Telok ukan merupakan telur yang dimasak dengan cara mengeluarkan isi telur dari cangkangnya kemudian isi telur dikocok dengan beberapa bumbu seperti pandan dan sedikit kapur sirih. Telur yang telah dibumbui tersebut dimasukkan kembali ke dalam cangkang telur dan ditutup dengan kayu gabus.

Setelah itu di rebus selama 30 menit dengan api kecil dan jika sudah dipastikan matang telok ukan bisa langsung disantap dengan nasi ketan. Noni Mariani pembuat telok ukan mengaku telah membuat selama 10 tahun ia mengatakan diajarkan oleh ibunya untuk menjaga makanan khas Palembang jangan sampai nanti makanan tersebut punah.

''Dari 10 tahun lalu diajari oleh mama karena ini makanan khas turun temurun,''katanya.

Noni mengatakan untuk harga satu butir telok ukan di hargai 5 ribu rupiah.

''Mulai dari awal bulan Agustus perharinya bisa terjual 75 butir, namun setelah dekat dengan hari HUT RI nanti akan bertambah banyak,''ujarnya.

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/

06 June 2018

Cetakan Kue Satu

Cetakan kue satu foto : @muaraenimupdate
Cetakan kue satu itu yang sering kami sebut di dalam keluarga. Dimana pada saat kami masih kecil setiap menjelang lebaran kue yang satu ini seperti menjadi hidangan wajib di dalam "gelok" (toples). Saat ibu kami selesai mengadon adonan terigu dan parutan kelapa di tambah dengan gula maka siaplah cetakan ini beraksi. "Cetok... Cetok.....cetok" satu persatu kue mulai terbentuk dan siap di oven, saat itu kami sebagai anak mulai antri untuk membuat kue dengan alat tersebut, yg akhirnya di cetakan yg terakhir baru kita mendapat giliran. 

Rasa kuenya si biasa tapi di balik itu kebersamaan yang buat oleh "cetakan kue satu" sampai sekarang masih melekat walaupun saat ini sang cetakan sudah tidak menjalankan tugasnya lagi. 

30 May 2018

Mengenang Kerusuhan Mei 1998 di Palembang


Sejumlah mobil dan pertokoan di kawasan Jalan Veteran Palembang dibakar dan dijarah massa perusuh pada pertengahan Mei 1998 silam. 
TNI membantu aparat kepolisian berusaha menghadang ribuan massa di pangkal Jembatan Ampera Seberang Ilir. Massa bergerak dari kawasan Seberang Ulu menuju kawasan Seberang Ilir Palembang pada pertengahan Mei 1998. Karena kalah jumlah, barikade pasukan ini akhirnya jebol. (SRIPO/SUDARWAN)
Bangkai 2 unit sepeda motor tergeletak di tengah jalan di simpang Jakabaring Palembang pada kerusuhan Mei 1998 silam. (SRIPO/SUDARWAN)
Massa membakar dan menjarah toko di kawasan Jalan Tengkuruk Permai Palembang pada kerusuhan pertengah Mei 1998 silam. (SRIPO/SUDARWAN)

Sejumlah pot taman kota di atas Jembatan Ampera Palembang dirusak para perusuh pada pertengah Mei 1998. (SRIPO/SUDARWAN)

Sejumlah pertokoan dan showroom di Jalan Veteran Palembang hangus dibakar perusuh pada pertengahan Mei 1998. (SRIPO/SUDARWAN)
Foto : Sriwijaya Post

05 February 2018

Sailendra Institution Palembang

Gedung Sailendra (2008)
Palembang Dulu Gedung Shailendra Dulu tempat ini pada awal pendirian merupakan Hotel dengan nama Hotel 'aman', hotel ini hampir sama umurnya dengan Hotel Sandjaja yang ada di Jalan Kapt A.Rivai. Pada saat itu, hotel tersebut awalnya banyak diisi oleh tentara dan kalangan militer yang memang pada saat itu merupakan awal-awal kemerdekaan dan gejolak di kota ini. Tetapi, sejak tahun 1975 dengan berkembangnya pendidikan di negeri ini, maka tempat inu menjadi lembaga pendidikan dan kursus. Gedung yang didirikan pada tahun 1959 ini sampai sekarang masih berdiri dan konsisten melakukan pengajaran pendidikan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak menyangka ternyata photo yang pernah saya ambil di pada tahun 2008, di sangka merupakan foto tempo dulu.. pada saat itu kebetulan saya mengambil foto gedung sailendra ini dari simpang 4 dempo sekitar pukul 1 siang, karena selama ini selalu mengambil dengan berwarna maka, saya setelah camera brica saya dengan mode hitam putih, hasilnya seperti ini dan sempat saya posting di http://palembangtempodulu.multply.com dengan deskripsi yang sama persis seperti yang banyak beredar di dunia maya saat ini.

Sayang Untuk foto aslinya sendiri sudah hilang saat kerusakan komputer pada tahun 2013 yang lalu, hampir separuh dari koleksi jepretan saya ataupun koleksi palembang tempo dulu juga ikut lenyap.