CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

26 November 2006

Anugrah Terindah Itu Bernama Ibu

Saat masih di kelas 3 SMP Negeri di kota ini, ibu guru memberikan tugas untuk membuat tulisan yang topiknya tentang “ibu”, jujur saja saat itu saya sangat bingung karena apa yang saya bisa tulis dari seorang ibu yang hanya memiliki warung kecil dan seorang istri dari pegawai negeri rendahaan, sangat berbeda dengan temanku si Hendra yang ibunya seorang Angkatan Udara yang dengan bangganya dia menceritakaan tentang pekerjaan ibunya, atau si Iwan yang ibunya seorang Dokter yang banyak membantu menyembuhkan pasien, atau si Murni yang ibunya mengelolah sebuah show room mobil di salah satu jalan utama kota ini, ataupun ibu-ibu teman sekolah ku lainnya.
 
Kegundahaan hatin ini semakin menjadi karena tulisan harus di kumpulkan pada esok hari padahal setitik inspirasipun belum menyentuk benak ini, pada malam itu hujan sangat deras dan petir dengan beratnya terus bergemuruh dan di tambah dengan lampu yang ikut mati membuat adik-adiku ketakutan, karena kami tidur satu kamar maka adik-adikku kusuruh untuk memejamkan mata, karena kami menunggu Ayah untuk makan malam bersama , tak lama berselang bunyi kenalpot motor ayapun terdengan, ayah pulang dengan basah kuyup tetapi untungnya motor yang di kendaraai ayah tidak mogok, adik-adik ku bergegas bangun , untuk menyongsong ayah, dengan senyuman dan baju yang basah Ayah tersenyum tak lama berselang kami berkumpul di meja makan setelah selesai ayah dari membersihkan diri, ibu pun selesai menyiapkan makanan walaupun sederhana kami dapat makan dengan nikmat, tak lama setelah makan hujanpun masih belum mereda tampak air sudah mulai memenuhi jalanan di depan rumah kami, tepat jam 09 malam kedua adikku ku suruh untuk tidur di kamar dengan berbekal lampu teplok yang ku bawa sebagai sarana penerangan.
Akupun masih berusaha untuk membuat tulisan yang ditugaskan oleh ibu guru, dan akhirnya kuputuskan untuk berbaring walau mata ini tidak terpejam di saat itulah setelah selesai ibu menutup sebagian dari pintu warungnya, ibu menuju kekamar kami, terlihat jelas ibu memperbaiki letak selimut adik-adiku dan ibu membelai lembut rambut adik-adiku dan mencium kening mereka, dan ibu juga membetulkan letak selimutku dan mencium keningku, dan ibu beranjak keluar dari kamar,

“ibu”…………… ibu menoleh kearah ku, dan aku pun berlari memeluk ibu sambil menangis,…. Aku sadar saat itu bahwa ibu bukan orang yang hebat, ibu bukan seorang Dokter, polwan ataupun pengusahaa, ibu juga bukan orang yang istimewa yang memiliki banyak harta tetapi ibu adalah anugrah yang paling berharga yang di berikan oleh yang maha kuasa kepada kami, ibu yang setiap saat memberikan perhatian dan kasih sayang merupakan berkah yang teramat mahal untuk kami yang belum tentu dapat di nikmati oleh teman ku Hendra, Iwan ataupun Murni, tetapi ibu yang selama ini menjaga kami, ibu yang selama ini menjadi dokter di kala kami sakit , ibu yang selama ini menjadi guru bagi kami di dalam madrasah rumah kami, ibu yang menyediakan senyuman saat bersama makan di meja makan dan kehangatan di dalam keluarga dan ibu menjadi panutan bagi kami yang tidak mengeluh menghadapi keadaan, dan selesai kutulis kusimpan hasil tugas ini di dalam tas sekolah dan tak lama beselang akupun tertidur.

Tak terasa air mata ini mengalir sendiri saat tulisan yang kukerjakan semalam mulai kubacakan di depan kelas, kelas pun menjadi hening, tetapi terus kubacakan tulisan ini walaupun tenggorokan ini seperti tercekat, tepuk tangan pun di berikan oleh teman-temanku saat aku selesai membacakan tulisanku. Dan akhirinya terpilihlah tulisan tersebut sebagai tulisan terbaik yang akan di bacakan saat acara reuni beberapa bulan lagi.
Ujian nasional telah selesai kami lalui dan pengumuman kelulusan pun sudah kami terima dan ternyata sekolah kami lulus 100%, saat acara reuni seluruh orang tua di haruskan datang karena untuk penyerahaan secara simbolis ijazah dan aku pun mendapat tugas untuk membacakan hasil tulisanku yang sekarang sudah di vinil dan di masukan kedalam map bercorak batik, Ayah dan ibu juga sudah duduk di kursi undangan tampak beberapa orang tua teman-temanku lainnya, akhirnya giliranku pun tiba, jujur saja grogi juga saat naik keatas panggung dengan napas panjang aku mulai membaca paragraph demi paragraph tulisan tersebut, aku lihat ibu juga meneteskan air mata, dan beberapa undangan lainnya yang di iring riuh tepukan tangan para hadirin saat itu.

Memang aku bukan orang yang jenius ataupun super pintar tapi kulihat senyum kebanggaan orang tuaku menerima secara simbolis untuk ijazah ku di atas panggung, karena aku merupakan peringkat ke 3 umum di sekolah ini dan di pastikan untuk menuju SMA negeri.
Terima kasih Ibu, terima kasih ayah………

Dodi NP – “Untuk Ibu”

No comments:

Post a Comment