CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

23 November 2006

Serenada Terakhir Sang Penggesek Biola

“Nanda”..begitulah nama yang terucap dari bibirnya saat saya berkenalan dengannya sekitar 1 bulan yang lalu, memang baru kali ini Nanda terlihat di komplek perumahaan ini, sejak umur 6 tahun Nanda mengikuti keluarganya di Jogja dan baru saat ini kembali ke Kota ini setelah menyelesaikan study nya, ada hal yang menggelitik nurani ini kepiawaian nanda memainkan dawai biolanya sangat unik karena sangat jarang di kota ada ini ada pemain biola yang memainkan deretan serenda yang menyayat hati.

Memang Nanda belajar biola di kota pelajar saat ia menjalankan study di sana, sejak kedatangan Nanda komplek perumahaan ini pada saat malam menjelang di tambah menjadi syahdu dengan alunan serenada dari biolanya, secara jujur memang saya sendiri kurang mengenal Nanda berbeda dengan keluarganya yang lumayan akrab dengan saya, karena seringnya saya melintas di depan rumah Nanda sakarang ini setiap pergi dan pulang kuliah pasti selalu menyapa Nanda yang duduk di teras rumahnya. 

Suatu hari saat pulang dari kuliah kebetulan aku lihat Nanda sedang duduk dengan keponakan nya yang kecil, terlihat disitu keponakannya asik berlari mengitari Nanda sambil memegang spidol dan tampak juga coretan silang di tangan dan kaki Nanda. tak lama berselang aku pun mampir, “Hai………” sapa ku,
” Andi, baru pulang kuliah ya…”jawabnya
“ia…sekalian mampir ke sini…”..jawabku lagi sambil duduk di teras rumahnya.
“Udah kemana aja selama di sini…?’tanya ku
“Belum kemana-mana di rumah saja, males untuk keluar….enakan di rumah” sahut Nanda
“Kalau mau keliling kota nanti biar aku temani” tawar ku…
“nggak usah,Ndi…sekarang aku sedang mengarang serenda dari biola ini…” jawabnya.
“Boleh di dengar dong lagunya…..”Gurauku

Dengan senyum ia berdiri dan masuk kedalam rumah tak lama berselang datanglah ia dengan biolanya dan duduk di tempatnya semula…setelah menarik nafas panjang ia mulai menggesek dawai biolanya, terdengar sangat merdu dan merasuk kedalam kalbu ini, tampak piawai Nanda mempermainkan biola, gesekan dan lincahnya jari-jemari Nanda memindahkan kunci-kunci di biolanya membuat aku tertegun tetapi ada yang kuperhatikan lain Nanda tampak banyak coretan-coertan di tangan dan kaki seperti tanda silang, aku pikir mungkin saat bermain dengan keponakannya.

Tepukan tangan secara reflek mengiringi saat gesekan biola terakhir dari Nanda, “Bagus…sekali”kata ku, Sambil senyum..Nanda tidak menjawab,…”Apa judulnya…?”tanya ku, “Serenada Terakhir”..jawabnya singkat, setelah beberapa saat kami ngobrol basa-basi akupun beranjak pulang.

Esok harinya aku heran karena Nanda tidak kelihatan duduk di teras seperti biasanya tetapi karena terburu-buru untuk kuliah hal itupun segera berlalu, saat malam sudah menyelimuti kota ini ada yang hilang pada malam ini yaitu lantunan nada biola yang biasa di gesekan oleh Nanda setiap malamnya, ini menjadi pertanyaan di batin, walaupun akhirnya kantuk mengalahkan rasa penasaranku.

Keesokan harinya sama seperti hari ini, Nanda juga tidak tampak di teras rumahnya dan kuberanikan untuk bertanya, sesaat setelah ku ketuk pintu rumahnya kulihat pembantu nya yang keluar, “Bi, Nanda nya ada…?” tanya ku,…si Bibi terdiam, “Nanda Lagi di rumah sakit”ucapnya pelan, aku terkejut saat kutanya sakit apa dan kenapa si bibi hanya diam seribu bahasa dan hanya memberi tahu di rumah sakit dan nomor kamar mana Nanda di rawat inap.

Tak lama berselang akupun langsung meluncur ke rumah sakit, dan tidak terduga saat sampai di ruangan nanda terlihat, sosok yang selama ini aku kenal dengan mata tertutup dan selang oksigen dan jarum infus yang masih melekat di tubuh Nanda.

“Masuk Ndi…..” Kata ibunya sembari menyambut di depan pintu kamar
aku hanya terdiam, bingung kenapa sudah banyak kelurga Nanda berkumpul di dalam kamar dan juga di luar ruangan perawatan.

“Ndi.. ini ada surat dari Nanda, tetapi di bacanya bukan sekarang”kata ibunya sambil menyerahkan amplop surat kepada ku.
Aku bertamba bingung, setelah 5 menit berselang kepanikan terjadi, tekanan jantung nanda turun drastis, bunyi kerongkongan Nanda menambah mencekam suasana, dokter dan para suster bergega memberi pertolongan di antara isak tangis keluarga, tetapi kehendak berkata lain dan Nanda sudah pergi untuk selama-lamanya. Rasa duka di hati ini semakin mengiris saat mengiringi pemakaman Nanda siang itu di salah satu pemakaman umum di kota ini.

Sore itu aku masih termenung di kursi teras rumahku di tangan kanan ku tergenggam erat surat dari Nanda yang di berikan ibunya pagi tadi. perlahan kubuka amplop berwarna hijau lembut tersebut dan kubuka suratnya aku mulai membaca, 

” Andi saat membaca surat ini Nanda mungkin sudah terpisah ruang dan waktu, Andi pasti bertanya-tanya tentang semua ini, tetapi biarlah ini menjadi kenangan di antara kita, Andi yang selama ini mengisi hari-hari ku dalam menghadapi derita “kanker” ini membuat aku tertawa, membuat aku senang dan membuat aku ingin hidup lebih lama, coretan-coretan yang andi lihat di lengan dan kaki aku beberapa hari yang lalu sebenarnya merupakan tanda dari Akar kanker yang sudah menyebar di tubuh ini, memang dokter sudah memvonis kalau umurku tidak berapa lama lagi, itulah sebabnya aku kembali dari Jogja, tetapi satu hal Nanda senang sudah mengenal Andi walau pun tidak terlalu lama tapi sangat berkesan bagi ku dan sebenarnya serenada yang beberapa hari yang lalu adalah untuk mu, sebagai tanda persahabatan kita, semoga Andi tidak melupakan serenada tersebut”.

Aku terdiam dan dan tidak terasa buliran air panas sempat menetes, tenyata selama ini sahabat ku Nanda menanggung beban berat dari penyakit “Kanker” nya tetapi masih bisa untuk berkarya, sahabat tenanglah di alam sana karena persahabatan kita tidak bisa di pisahkan oleh ruang dan waktu.

Dodi NP – “Cerpen Ke Dua”

1 comment: