CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label Jembatan Ogan. Show all posts
Showing posts with label Jembatan Ogan. Show all posts

22 May 2019

Jejak Jembatan "Lengkung" Belanda di Sumatera Selatan

Jembatan Ogan Kertapati Palembang
Jembatan ogan atau jembatan kertapati yang menjadi salah satu ikon kota Palembang sebagai benda bersejarah peninggalan Belanda, dimana memiliki rancangan yang unik dan khas, seperti di Sumatera Selatan Sendiri jembatan yang mirip dengan jembatan ogan ini ada di beberapa tempat dengan konstruksi dan bentuk yang sama seperti di Baturaja, OKU Induk yang terkenal dengan Jembatan ogannya dan di kawasan Lais, Sekayu jembatan yang membentang di atas sungai batanghari leko yang sering di sebut dengan jembatan Teluk Rotterdam.

Untuk kelancaran transportasi ke berbagai daerah di Sumatera Selatan saat itu pihak Belanda membangun jembatan-jembatan seperti jembatan yang tersebut di atas. Yang membedakan dengan jembatan ogan yang ada di kertapati adalah jumlah lengkungannya ada 2 buah sedangkan yang di Sekayu ataupun Baturaja lengkungannya hanya ada 1 buah.

Jembatan Ogan Baturaja

Jembatan yang membentang di Sungai Ogan Baturaja Oku Induk
Jembatan Ogan Baturaja ini menghubungkan wilayah yang ada disekitar Pasar Lama kearah wilayah sekitar Taman Kota Baturaja. Kehadiran jembatan Ogan I ini memang sudah ada pada Zaman Belanda, jadi memang sudah cukup tua namun masih cukup kokoh. Dahulu lalu lintas kendaraan di jembatan ini bisa dari dua arah yang berlawanan, tetapi sekarang ini tidak bisa lagi, hanya bisa dilalui dari arah Pasar Atas.

Karena dahulunya hanya jembatan Ogan Baturaja inilah yang menjadi akses jalan darat untuk menyeberang. Jalan yang ada diatas Jembatan Ogan ini termasuk Jalan Jenderal Ahmad Yani.Perubahan warna pada cat Jembatan ini sudah beberapa kali dilakukan renovasi dan perawatan dan terakhir kali warna yang di poles seperti gambar yang dimuat diatas,yaitu berwarna merah.

Jembatan Teluk I 
Jembatan Teluk Sekayu / Batanghari leko

Jembatan Teluk I atau yang disebut Jembatan Teluk Rotterdam merupakan jembatan yang melintasi sungai Batang Hari Leko, terletak di desa Teluk Kecamatan Lais Musi Banyuasin tepatnya tidak beberapa jauh dari jembatan Teluk II.

Entah kenapa jembatan di sekayu ini di namakan jembatan teluk rotterdam apakah peralatan yang dulu di pakai saat membangun menggunakan peralatan dari Rotterdam, Belanda atau juga walau secara bentuk jembatan teluk I mirip dengan motif jembatan yang ada di Rotterdam Belanda yaitu jembatan Van Brienenoord Bridge yang di resmikan tahun 1990 lebih muda di bandingkan dengan jembatan teluk I yang di bangun di era tahun 1930-an.

Jembatan yang panjangnya sekitar 140 Meter dengan lebar 4 Meter tersebut sejak sekitar tahun 2007 sudah tidak digunakan sebagai jembatan utama karena jembatan pengganti telah selesai dibangun. Jembatan yang sangat bersejarah ini kondisinya sudah sangat memprihatinkan karena sudah tidak dilakukan perawatan, pada bagian tengah jembatan sudah banyak lobang-lobang akibat endapan air, padahal jembatan ini merupakan salah satu tujuan wisata yang ada di Kecamatan Lais Musi Banyuasin. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya warga khususnya para pemuda-pemudi yang berkumpul di jembatan tersebut disaat liburan sekolah ataupun akhir pekan.

Hal Yang Unik Dari Jembatan Ini

Para remaja duduk di atas jembatan ogan kertapati
Jembatan yang rata-rata memiliki ketinggian sekitar 10 meter dari aspal dasar jembatan atau sekitar 30 meter dari sungai. menjadi unik karena banyak remaja yang menaiki lengkungan jembatan tersebut, baik itu di jembatan ogan Kertapati, jembatan teluk Sekayu ataupun jembatan ogan di Baturaja. Terutama di sore hari pada bulan Puasa sambil menunggu berbuka puasa.

Mungkin karena di anggap tidak terlalu tinggi menjadikan tempat ini sebagai uji nyali, untuk naik ke atas lengkungan jembatan tersebut di butuhkan nyali yang cukup besar, karena kalau mental yang kurang berani bisa-bisa di setengah jalan kaki sudah tidak bisa bergerak dan yang celakanya lagi kalau terjatuh ke aspal atau masuk ke dalam sungai. Tetapi selama ini belum pernah terdengan kejadian anak remaja yang terjatuh dari atas lengkungan jembatan ini, baik yang di liput media massa atau elektronik.
Remaja Yang menaiki Jembatan
Ogan Baturaja
Foto : pasangmata.com
Sore hari di Jembatan Teluk Foto : Facebook

Refrensi :
http://anangtamhar.blogspot.com/
https://situsbudaya.id/
Google

04 August 2012

Jembatan Kertapati Palembang 1940-an

Jembatan Kertapati Palembang kisaran tahun 1940-an
Sumber : Palmboom.Divisie.nl

Keunikan Jembatan Ogan Kertapati Lebih Kokoh Dibanding Musi II
Dibangun tahun 1939 lalu, jembatan Ogan Kertapati dinamakan dengan nama Ratu Belanda, Wilhelmina. Kala itu, jembatan tersebut termasuk bangunan fenomenal di Sumsel. Seiring perkembangan zaman, jembatan ini kurang mendapat perhatian masyarakat meski umurnya lebih tua dibanding ikon Palembang, Jembatan Ampera. Padahal, sebagai bagian dari sejarah panjang Palembang, seorang sesepuh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumsel menilai, jembatan ini lebih kokoh dibanding Jembatan Musi II.

Catatan sejarah jembatan Ogan di Kertapati ibarat misteri. Banyak memperkirakan, catatan dibangun penjajah itu, dibawa sang penjajah ke negerinya, Belanda. Para pelaku sejarah pun banyak sudah meninggal.

Ada juga orang-orang tua asli Palembang, berumur 70 tahun keatas tak mengetahui kapan dibangunnya jembatan tersebut. Ketika koran ini menyambangi kawasan jembatan, beberapa orang tua yang sudah berumur 70 tahun keatas mengaku ketika mereka kecil menginjak umur 10 tahun, jembatan tersebut telah terbangun.

Keterangan didapat koran ini dari masyarakat sekitar jika jembatan tersebut merupakan kawasan vital, tempat lewatnya tentara serta kendaraan perang ketika terjadinya pertempuran. Mulai dari pertempuran Belanda melawan Jepang hingga perang lima hari lima malam.

Bahkan, saat Jepang masuk, Belanda dikabarkan menghancurkan jembatan untuk menghambat pergerakan tentara Jepang. Sempat menggunakan kayu sebagai penyangga, tahun 1956, jembatan tersebut akhirnya kembali dipugar.

Dibangun Dari Pajak Petani Karet


Jembatan Ogan saat ini
Dari Badan Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Kota Palembang, catatan terkait jembatan Ogan Kertapati hanya didapati koran ini dari sebuah buku. Berjudul “Palembang Zaman Bari” karangan sejarawan serta budayawan, almarhum Djohan Hanafiah.

Data diuraikan pun tak begitu banyak. Hanya dikatakan jika jembatan tersebut dibangun tahun 1939 lalu dan diresmikan dengan nama Wilhelmina Brug (Jembatan Wilhelmina, Red). Pembangunan jembatan dikatakan berasal dari sumbangan dari para petani-petani karet. Dimana setiap kati getah karet dikenakan satu sen.

Meski ada beberapa masyarakat mengungkapkan jika pembangunan menggunakan tenaga romusha, sesepuh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang Sumsel, Ir H Anwar Arifai membenarkan jika dana pembangunan jembatan berasal dari sumbangan petani karet di Sumsel. “Bukan sumbangan sih, tapi semacam pajak. Dipilih petani karet karena karet pada masa itu dan sampai sekarang memang tingkat ekonominya bagus,” ungkap Anwar.

Anwar yang lahir tahun 1935 lalu saja, dan asli kelahiran Palembang tak mengingat kapan jembatan tersebut dibangun. Seingatnya sejak kecil, jembatan itu sudah ada. Jembatan itu pun termasuk bangunan fenomenal pada masanya. Termasuk jembatan terbesar di Sumsel, sebelum dibangunnya jembatan Ampera tahun 1965 lalu.

Secara stuktur, Anwar Arifai menilai jika jembatan Ogan Kertapati termasuk kokoh. Blak-blakan, ia mengatakan jembatan dibangun Belanda tersebut lebih kuat dibanding Jembatan Musi II yang umurnya lebih muda karena dibangun tahun 1992.

Alasannya, dengan stuktur beton bertulang, bentang jembatan lebih pendek serta tidak begitu beratnya beban diatas, jembatan Ogan diperkirakannya akan lebih bertahan lama. Bisa jadi. Karena saat ini, hanya kendaraan beban tak begitu berat dapat melintas di jembatan Ogan.

Saat inipun, jalurnya hanya diarahkan satu arah. Dari Simpang Jakabaring menuju Terminal Karya Jaya. Truk hingga tronton dengan beban berat diwajibkan melintas melalui jembatan Musi II yang kini dilewati kendaraan dua arah.


Terbantu Jembatan Ogan II
 

Penilaian Anwar Arifai tak sepenuhnya mendapat dukungan. Pejabat Pembuat Komitmen dari Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional Metropolis, Azwar Edie mengakui jika jembatan Ogan yang panjangnya 205,2 meter, lebar enam meter dengan enam bentang termasuk kokoh. Karena umumnya jembatan dibangun paling tidak untuk bertahan selama 50 tahun kedepan. Sedangkan jembatan Ogan umurnya sudah mencapai 71 tahun.

Hanya saja, jika dikatakan lebih kokoh dari jembatan Musi II, Azwar tampaknya kurang sreg. Alasannya, kokohnya jembatan Ogan karena hingga kini bebannya dibantu oleh jembatan disebelahnya, disebut dengan nama Jembatan Ogan II, dibangun tahun 1994 lalu dengan kontruksi baja Australia. Dengan panjang 231,6 meter, lebar tujuh meter dengan lima bentang, jembatan Ogan II menahan beban kendaraan melaju dari arah terminal Karya Jaya menuju simpang Jakabaring.

Berbeda dengan jembatan Musi II yang panjangnya 534,6 meter dengan lebar tujuh meter. Jembatan dibangun tahun 1992 dengan kontruksi baja Australia ini harus menahan beban dari dua arah sekaligus.

“Yang lewat di Musi dua saja kendaraan berat. Dan dua arah sekaligus. Seharusnya Musi dua ini sudah dibangun jembatan pendamping seperti Ogan dua biar lebih bertahan lama,” tandas Azwar.

Tinggal Masalah Perawatan
Kokohnya jembatan Ogan juga ditegaskan Kasatker Pelaksanaan Pembangunan Jalan Metropolitan Palembang, Ir H Aidil Fiqri MT. Dalam pandangannya jembatan tersebut bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Apalagi, jembatan ini sudah dibantu dengan hadirnya jembatan Ogan II dibangun tahun 1992 lalu. Membuat beban terhadap kendaraan tidak terlalu berat.

Yang masih dibutuhkan tinggal perawatan. Baru-baru ini, dikatakan Aidil pihaknya melakukan penggerukan aspal. Pasalnya, aspa diatas jembatan pernah mencapai 20 cm. Sehingga, kendaraan besar seperti truk pernah masuk hingga trotoar jalan.

“Aspal diatas jembatan itu tidak boleh tebal. Kalau tebal, nanti kendaraan, terutama truk naik ke trotoar. Sedangkan trotoar jembatan itu tidak boleh dinaiki mobil apalagi truk. Bebannya tidak seimbang dan bisa merusak jembatan. Jadi aspal mesti tipis sekitar lima centimeter. Kalau sekedar motor naik ke trotoar seperti di Ampera tidak masalah,” tegasnya.

Selain masalah aspal dan trotoar, pihaknya terus memantau jika terjadinya penggeroposan tiang beton penyangga jembatan. Arus air sungai dapat membuat keropos tulang beton serta karat pada besi. “Masalah ini akan terus kita awasi dan kita perbaiki. Agar jembatan bisa bertahan lama,” tandasnya.

Mirip  Dengan Jembatan Ogan di Baturaja


Di Baturaja ada juga jembatan tua namun kokoh yang menjadi jalur lalu lintas melewati Sungai Ogan I, namanya juga sama yakni Jembatan Ogan. Meskipun usianya sudah 62 tahun,namun jembatan Ogan I,yang menghubungkan pusat kota Baturaja dengan area pasar atas, kondisinya kokoh.

‘’Keberadaan jembatan yang berbentuk lengkung yang telah beberapa kali dicat dan berubah warna pink ini, menjadi salah satu ciri khas dan land mark Kota Baturaja dan Kabupaten OKU,’’jelas Muzaim Aliansya ST Msi, Kabid Pemeliharaan jalan Jembatan PU Bina Marga OKU.

Diceritakan Muzaim, sejak berdiri dan dibangun jembatan Ogan I pada tahun 1948 lalu oleh Belanda, jembatan ini memang sempat mendapatkan perawatan khusus dari Dinas PU Bina Marga Kabupaten OKU. Pada tahun 2001 lalu bagian lantai jembatan ada yang jebol,yaitu tepatnya bagian join antara jembatan. Kerusakan tersebut sudah diperbaiki dengan dicor kembali,selain itu aspal permukaan jembatan ini juga pernah di angkat dan diganti dengan material baru. Pada saat itu material aspal lama gunakan ATB (Asphalt Trade Base) diganti dengan aspal ACBC, aspal konkrit untuk perata permukaan .

Keunikan yang terlihat pada jembatan Ogan I yang berbentuk melengkung setengah lingkaran ini,sebetulnya menunjukkan bahwa pada masa itu seni arsitektur mengedepankan nilai estetika yang juga tidak mengeyampingkan nilai kekuatanya.

Model jembatan ini yang bentuknya serupa menurut Muzaim, yakni Jembatan setengah lingkar dapat ditemukan juga di Kota Martapura Kabupaten OKU Timur, Jembatan Gunung Batu Kabupaten OKUT, di Kabupaten Musi Banyuasi, serta Jembatan Ogan Kertapati Palembang. (wwn/bn)

Sumber tulisan : Sumeksminggu.com

03 April 2009

Jembatan Kertapati /Ogan Palembang


Walaupun sudah berusia lebih dari 80 tahun ini masih tetap tegar menjadi media penyambung dari sarana transportasi di kawasan kertapati ini.

02 April 2009

Tiang Jembatan Kertapati / Ogan Palembang


Ternyata tiang jembatan sungai ogan ini selain menjadi penyangga jembatan yang di bangun tahun 1930-an ini juga menjadi tempat berteduh bagi sampan kecil ini.

25 April 2008

Jembatan Kertapati/Ogan Palembang

Jembatan kertapati yang membelah sungai Ogang merupakan penghubung yang penting bagi masyarakat di Palembang.

Lebih lengkap Klik : Jembatan Kertapati

13 April 2008

Jembatan Ogan/Kertapati








Jembatan yang di bangun pada tahun 1939 yang diberi nama wihelmina Burg ini, sampai sekarang masih tegak berdiri walaupun sudah di duplikasi karena untuk mengurangi beban dari jembatan ogan itu sendiri tetapi kesan keperkasaanya masih tampak dari struktur bangunannya.

02 April 2008

Kendaraan di Jembatan Kertapati


Ramainya kendaraan yang melintasi jembatan ogan Kertapati, terutama saat kereta api datang kondisi ini akan lebih macet lagi.

09 May 2007

Jembatan Ogan Kertapati


Awal-awal pembangunan Wilhelmina Brug (Jembatan Wilhelmina) sekitar tahun 1939
Jembatan ogan kertapati tahun 1940-an Foto : Plamboom.Divisie.nl
Jembatan ogan kertapati  masih dalam tahap pembangunan tahun 1940-an 
 
Jembatan Ogan Kertapati tahun 1948