CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label Pasar Cinde. Show all posts
Showing posts with label Pasar Cinde. Show all posts

20 May 2012

Sejarah Pasar Cinde Palembang

Awal pendirian pasar lingkis / cinde pada tahun 1960 sumber foto koleksi :kiagus.irfanzen

Pasar cinde tempo dulu
Foto : kawangkoan.multiply.com/
Pasar cinde pada awal mulanya di sebut dengan pasar lingkis dimana dulunya banyak pedagang yang berasal dari daerah lingkis, Jejawi, Oki yang dulunya juga banyak tinggal di tempat tersebut. Pada masa perang 5 hari 5 malam 1947 tempat ini merupakan salah satu titik pertempuran di mana sebagian pejuang dari kebon duku mengambil posisi di area ini

Pasar Cinde di Palembang adalah karya arsitek Herman Thomas Karsten (1884-1945). Pasar ini kembaran Pasar Johar Semarang yang juga dirancang oleh Karsten. Segala macam barang ada di tempat ini, mulai perlengkapan kapal sampai kerupuk tetapi sekarang ini lebih di dominasi dengan penjualan perlengkapan meliter dan alat-alat pertanian, selain kebutuhan pokok yang juga banyak tersedia di pasar ini.

Awalnya sebelum terbentuk bangunan pasar, kawasan ini di era setelah kemerdekaan sampai tahun 1950-an menjadi terminal tjinde, dimana bisa menampung angkutan baik dari dalam dan luar kota Palembang. Pada tahun 1958 pasar cinde Palembang mulai di bangun menggantikan fungsinya sebagai terminal,  pasar cinde merupakan pasar pertama di Kota Palembang yang dibangun setelah kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan rancangan dari Herman Thomas Karsten tersebut. Pasar-pasar yang lain sebelum itu dibangun pada waktu penjajahan kolonial, bangunan pasar cinde di bangun dengan struktur utama memakai konstruksi cendawan (paddestoel). Pasar kedua yang memakai konstruksi tersebut setelah “Pasar Djohar” di Semarang.

Pasar cinde saat ini (2008)
Menurut penuturan (Alm) HM Idris Ibrahim, IAI yang mengikuti pembangunan Pasar Cinde, ketika ada yang meragukan kekuatan konstruksi cendawan, dilakukan tes beban dengan menaikkan tank baja ke atas atap pasar tersebut.

Setelah Pasar 16 Ilir terbakar dan diganti dengan bangunan yang sampai sekarang tidak berfungsi sebagai pasar tradisional di pusat kota, maka Pasar Cinde merupakan pasar tradisional utama di pusat Kota Palembang. 

Pasar ini telah menjadi trade mark bagi Kota Palembang dan menempati tempat yang khusus di hati masyarakat Palembang. Banyak kebutuhan masyarakat yang tidak terdapat di pasar lain, dapat diperoleh di Pasar Cinde. Banyak pedagang dan pengunjung (yang pada umumnya penduduk pribumi) sudah merasa akrab dengan pasar ini.

Pasar Cinde Tahun 1950 saat masih jadi terminal Sumber Foto : kawangkoan.multiply.com/
Sumber Foto Cinde Tahun 1950-an  : kawangkoan.multiply.com
Sumber Tulisan : Di rangkum dari berbagai sumber  

20 November 2009

Iklan 3 Dimensi di Pasar Cinde Palembang

Iklan Tiga Dimensi yang berada di atas Pasar Cinde Palembang
Pertama kali lihat iklan yang ada di atas pasar cinde ini, adalah orang yang sedang bekerja memasang iklan tetapi setelah di perhatikan betul-betul ternyata iklannya yang 3 dimensi dimana media iklannya memakai alat-alat "Safety" / alat pelindung diri, keren juga iklan seperti ini.

 ---------------------------------------
Sejarah PT. Jamsostek

Penyelenggaraan program jaminan sosial merupakan salah satu tangung jawab dan kewajiban Negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai dengan kondisi kemampuan keuangan Negara, Indonesia seperti halnya berbagai Negara berkembang lainnya, mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social security, yaitu jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat pekerja di sektor formal.

Sejarah terbentuknya PT Jamsostek (Persero) mengalami proses yang panjang, dimulai dari UU No.33/1947 jo UU No.2/1951 tentang kecelakaan kerja, Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.48/1952 jo PMP No.8/1956 tentang pengaturan bantuan untuk usaha penyelenggaraan kesehatan buruh, PMP No.15/1957 tentang pembentukan Yayasan Sosial Buruh, PMP No.5/1964 tentang pembentukan Yayasan Dana Jaminan Sosial (YDJS), diberlakukannya UU No.14/1969 tentang Pokok-pokok Tenaga Kerja, secara kronologis proses lahirnya asuransi sosial tenaga kerja semakin transparan.

Setelah mengalami kemajuan dan perkembangan, baik menyangkut landasan hukum, bentuk perlindungan maupun cara penyelenggaraan, pada tahun 1977 diperoleh suatu tonggak sejarah penting dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) No.33 tahun 1977 tentang pelaksanaan program asuransi sosial tenaga kerja (ASTEK), yang mewajibkan setiap pemberi kerja/pengusaha swasta dan BUMN untuk mengikuti program ASTEK. Terbit pula PP No.34/1977 tentang pembentukan wadah penyelenggara ASTEK yaitu Perum Astek.

Tonggak penting berikutnya adalah lahirnya UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Dan melalui PP No.36/1995 ditetapkannya PT Jamsostek sebagai badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Program Jamsostek memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi tenaga kerja dan keluarganya, dengan memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya penghasilan yang hilang, akibat risiko sosial.

Selanjutnya pada akhir tahun 2004, Pemerintah juga menerbitkan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional, yang berhubungan dengan Amandemen UUD 1945 dengan perubahan pada pasal 34 ayat 2, dimana Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) telah mengesahkan Amandemen tersebut, yang kini berbunyi: "Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan". Manfaat perlindungan tersebut dapat memberikan rasa aman kepada pekerja sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatan motivasi maupun produktivitas kerja.

Kiprah Perseroan yang mengedepankan kepentingan dan hak normative Tenaga Kerja di Indonesia terus berlanjut. Sampai saat ini, PT Jamsostek (Persero) memberikan perlindungan 4 (empat) program, yang mencakup Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya.

Dengan penyelenggaraan yang makin maju, program Jamsostek tidak hanya bermanfaat kepada pekerja dan pengusaha tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian bagi kesejahteraan masyarakat dan perkembangan masa depan bangsa. 

sumber tulisan : http://www.jamsostek.co.id/

16 March 2009

Kuis Catur


Kuis catur yang berhadiah rokok, jam tangan dan sejumlah uang ini memberikan kesempatan kepada para pemain untuk mematikan langkah raja hitam sebanyak 3 langkah, dengan uang sebesar seribu Rupiah untuk sekali permainan banyak juga yang penasaran dengan permainan ini walaupun setelah di hitung-hitung raja hitam tersebut tidak mungkin di mati dalam langkah ke 3.

13 November 2008

Barang BJ





Baju baju bekas ini di Palembang sering disebut barang "BJ" (Burukan Jambi) karena barang-barang ini memang di datangkan dari daerah Jambi, Riau, Batam dan kepulauan sekitarnya.

Pakaian seperti ini merupakan alternatif pemenuhan kebutuhan sandang bagi masyarakat kalangan bawah, dengan harga yang masih terjangkau dengan kocek mereka, mereka beli, cuci, seterika siapa yang tahu kalau pakaian tersebut adalah barang "BJ",

Di Palembang sendiri banyak yang menjual BJ terutama berpusat di Cinde dan Pasar 16 Baru di lantai atas.

15 October 2008

Tower Di Cinde





Bangunan yang paling tinggi di daerah pasar cinde adalah Bangunan ini walaupun lama sudah tidak di gunakan tetapi bangunan ini tetap kokoh berdiri, informasi yang pernah saya dapat bahwa bangunan yang paling tinggi saai itu gunanaya untuk memantau kapal yang lewat di sungai musi untuk melintasi jembatan Ampera dan jika ada di teruskan ke operator pengangkat jembatan, untuk mengangkat bagian tengah jembatan Ampera tersebut.

Tetapi kalau menggunakan logika sepertinya infomasi tersebut kurang bisa di terima karena pada saat itu justru tower amperalah yang paling tinggi di dekat sungai musi, sedangkan gedung ini berjarak beberapa kilo dari sungai musi. entah salah entah benar ...????

12 August 2008

Pasar Cinde Palembang





Pasar tradisional di Palembang yang di bagun setelah masa kemerdekaan, ini kemabaran pasar Johar yang ada di Semarang.

20 April 2008

Pengasah Batu Cincin Di Kawasan Cinde





Para penggemar batu aki banyak berkumpul di sini terutama pada hari Minggu pagi, jalan tembus ke arah eks bioskop mawar menjadi tempat yang nyaman bagi mereka, di antara mereka ada juga pengasah batu cincin yang masih menggunakan peralatan manual dengan menggunakan engkol dari pedal sepeda yang di hubungkan dengan rantai.

Tidak hanya satu dua orang yang mengasah batu di sini tetapi ada beberapa yang melakukan kegiatan ini dan sudah bertahun-tahun lamanya, dan untuk menjadikan bahan batu menjadi sebuah batu cincin juga tidak mahal harganya hanya di kisaran 5-10 ribu Rupiah saja.

Pasar Loak Cinde Update








Di bidik tanggal 20 April 2008

19 February 2008

Becak Dilarang


Walaupun sudah ada larangan dari pemerintah kota Palembang untuk larangan becak melintas di Jalan Protokol di kota ini, tapi masih ada saja yang membandel bahkan melawan arus, 

Kendaraan angkutan masyarakat yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini dianggap sebagai salah satu biang kesemerawutan lalu lintas kota, dengan jalan melawan arus ataupun parkir di sembarang tempat. Semoga ada solusi bagi kepentingan ke dua belah pihak.