CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

14 October 2018

BUYUT CILIK (CILI) Keramat Guguk Kumpe Berayun

Seorang tokoh kharismatik masa silam yang dikenal oleh masyarakat banyak memiliki karomah, terutama ketika ia telah wafat. Makamnya sering dikunjungi warga.

Nama lengkapnya Kemas Cilik Ibrahim, namun lebih dikenal dengan sebutan Buyut Cili (Cilik/kecil). Ayahnya Pangeran Krama Diraja bin Syekh Kms. Muhammad bin Syekh Kms. Ahmad bin Kms. Abdullah bin Kms. Nuruddin bin Kms. Syahid bin Sunan Kudus.
Sedang ibunya bernama Raden Ayu Krama Diraja binti Sultan Mahmud Badaruddin Ternate (SMB ll).

Putera tunggal dari dua bersaudara, adiknya bernama Nyimas Maimunah menikah dengan Pangeran Nato bin Pangeran Kramo Jayo Perdana Menteri.

Sedangkan Kms. Cilik sendiri menikah dengan Masayu Chodijah binti Mgs.H Abdul Choliq dari guguk Kumpe Berayun. Dari pernikahannya ini beliau mempunyai seorang putera yang diberi nama Kms. Jalal Ismail.

Ayahnya, Pangeran Kramo Dirajo, selain ulama ia juga seorang pembesar keraton, pahlawan, Panglima Perang, Komandan Buluwarti sektor ulu BKB, Komandan Benteng Tambakbaya di Sungai Komering Plaju dengan memegang sejata pusaka Meriam Sri Palembang, Komandan Benteng Pulau Manguntama, Juru bicara (jubir) sekaligus menantu SMB II. Makamnya terletak di ungkonan Gubah Talang Keranggo.

Pun kedua kakek dari sebelah orang tuanya masing-masing, merupakan orang-orang hebat pula. Kakek dari sebelah ayahnya, adalah Syekh Kms. Muhammad (w.1837) bin Kms. Ahmad seorang tokoh ulama besar di Kesultanan Palembang Darussalam, mursyid Tarekat Sammaniyah dan guru utama sekaligus mertua SMB II. Makamnya juga di Talang Keranggo. Sedangkan kakek dari pihak sebelah ibunya adalah Sri Sultan Mahmud Badaruddin bin Sultan Muhammad Bahauddin, Sultan Palembang Darussalam (memerintah: 1803-1821). Dengan demikian beliau adalah cucu SMB II.

Buyut Cili wafat dan dimakamkan di guguk Kumpe Berayun jalan Pulo Palembang. Makamnya ini terletak di atas pulau kecil, sebab daerah tanah wilayah lingkungannya dikelilingi cabang Sungai Kemenduran yang bertemu dengan Sungai Sekanak. Oleh karena itu disebut dengan Pulo (pulau). 

Sedangkan penamaan guguk Kumpe Berayun, Kumpe adalah tumbuhan enceng gondok, sejenis tanaman air yang memenuhi permukaan air seakan berayun-berayun di sungai.

Lingkungan guguk ini berada di belakang Keraton Kuto Besak (BKB) di bagian arah Barat Daya. Di lokasi ini dulu sebagai tempat pemeliharaan kuda serta istal-istalnya. Di lapangan belakang keraton Kuto Besak ini pula Sultan melatih para pasukan berkuda. Daerah ini di masa kolonial disebut Kampung 21 ilir, tapi sekarang masuk dalam bilangan Kampung 22 ilir.

Menurut keterangan manda Mgs. Anwar Ali (75 th), sesepuh guguk Kumpe Berayun, makam Buyut Cili ini diyakini oleh masyarakat memiliki keramat. Di antara kekeramatannya yaitu:
- Burung akan jatuh jika melintas di atas makamnya.
- Waktu air pasang naik makamnya tidak kebanjiran, sedangkan rumah-rumah warga dan sekitarnya kacap terendam air.
- Sewaktu terjadi kebakaran besar, gubah makamnya yang terbuat dari kayu waktu itu tidak terbakar.
- Tanah di makamnya meninggi (tanah mungguk).
- Jika ada orang kencing sembarangan di makamnya, orang tersebut akan jatuh sakit.
- Makam keramatnya sering dikunjungi para peziarah.
- dll.
Wallahu a'lam.

Palembang, 7/10/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Di sadur dari halaman facebook Ustadz Kms.H. Andi Syarifuddin

05 October 2018

Asal Mula Guguk Talang Ratu

Tipikal keadaan tanah di Palembang setidaknya dikenal dengan 3 sebutan, yaitu: Tanah Endep, Talang, dan Bukit. Tanah endep adalah tempat permukaan tanah yang rendah yang selalu dimasuki air terutama pada waktu air pasang, daerah rendah ini biasa disebut lebak atau rawa-rawa. Talang, ialah tempat yang lebih tinggi dari tanah endep, sulit dimasuki air meskipun hujan sangat lebat. Dengan kondisi tanah yang cukup tinggi, talang sering juga dimanfaatkan untuk saluran penampung air hujan. Oleh karena itu, daerah ini biasanya cocok digunakan sebagai lahan untuk berkebun atau bercocok tanam. Sedangkan Bukit, ialah permukaan tanah yang lebih tinggi lagi dari talang. Di antaranya bukit yang terkenal di Palembang adalah Bukit Siguntang, Bukit Sangkal, dll.

Di Palembang banyak terdapat daerah-daerah atau tempat yang disebut talang, di antaranya: Talang Semut, Talang Keranggo, Talang Jawo, Talang Kelapo, Talang Betutu, Talang Buruk, Talang Jambe, Talang Makrayu, Talang Banten, Talang Ratu, dsb. Salahsatu tanah talang yang terkenal sejak doeloe yaitu Talang Ratu.

Talang Ratu dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Mansur bin Sunan Abdurrahman Candi Walang yang bergelar Sultan Ratu (berkuasa: 1706-1714). Diceritakan ketika Sultan Ratu pulang dari sebuah ekspedisi ke Jambi, dalam perjalanannya beliau singgah di suatu lokasi tanah talang. Talang tersebut kemudian oleh Sultan Ratu ditanami pohon-pohon Bidara dan dibuatlah sebuah benuaran. Benuaran merupakan “Kebun Raya” yang di dalamnya banyak terdapat berbagai jenis pohon-pohon rindang dan tanam-tanaman yang menghasilkan beraneka buah-buahan, di antaranya pohon Bidara. Bidara adalah pohon yang terkenal yang banyak sekali manfaat dan khasiatnya dapat menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani.

Talang ini kemudian disebut dengan Talang Ratu sesuai dengan nama Sultan Ratu. Sekarang guguk ini terletak di lingkungan wilayah Palimo (Km. 5). 

Benuaran Talang Ratu ini kemudian diserahkan sebagai pemberian hadiah oleh Sultan Ratu Muhammad Mansur kepada anaknya, Pangeran Cakra Diningrat. Selain itu, Pangeran Cakra Diningrat membuat pula benuaran di dalam batanghari kumbang di area Sungai Kumpi. Dalam manuskrip Palembang disebutkan:

“…Bermula Pangeran Cakra Diningrat putera Sultan Muhammad Mansur ibn Suhunan Abdurrahman, maka Pangeran Cakra Diningrat itulah yang punya benuaran Talang Ratu itu. Sekalian pohon-pohon itu Bidara pemberian Sultan Muhammad Mansur kepada Pangeran Cakra Diningrat. Syahdan, kemudian dari itu maka Pangeran Cakra Diningrat membuat pula benuaran di dalam batanghari kumbang di kiri mudik di dalam Sungai Kumpi….”

Pangeran Cakra Diningrat adalah putera Sultan Ratu Muhammad Mansur Jayo ing Lago bin Sunan Abdurrahman Candi Walang. Ibunya bernama Ratu Mas Pertiwi. Pangeran Cakra Diningrat mempunyai beberapa orang isteri, di antaranya ialah Denayu Cakra Diningrat binti Pangeran Dita Kesuma bin Pangeran Sido ing Rajek. Dari pernikahannya ini mempunyai beberapa orang anak, yaitu: RM. Hasan Seno, RM. Husin, R. Barik, R.A. Suma Sari, R.A. Mariah, Mgs. Rakit, dll.
Wallahu a’lam.#


Plg. 30/9/2018
Kms. H. Andi Syarifuddin

Sumber:
RM. Akib bin R. Idris, Manuskrip Sejarah Keturunan Raja2 Palembang, th 1267H.

Di sadur dari sebuah halaman facebook Ustadz 
Kms. H. Andi Syarifuddin

26 September 2018

GUGUK SUNGI BAYAS


Palembang dikenal dengan banyak aliran sungai (sungi), lebih dari 100 anak Sungai Musi mengalir di Kota Palembang. Kondisi alam ini membuat Palembang menjadi kota di atas pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh sungai-sungai kecil. Simpang siur aliran anak-anak sungai yang menghubungkan antar kampung-kampung ini sehingga transportasi laut (sungai) saat itu lebih dominan selain perhubungan di darat. Hal ini pula setidaknya membentuk pembagian wilayah pemukiman penduduk tradisional Kota Palembang yang biasa disebut Guguk.

Kata Guguk berasal dari kata Jawi-Kawi (gugu) yang artinya: diturut, diindahkan. Wilayah pemukiman penduduk kota Palembang di masa kesultanan pada mulanya berpusat kepada keraton. Sedangkan pemukiman asli penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem inilah dikenal dengan nama guguk (gogok). Setiap guguk biasanya memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Setidaknya ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi, usaha, dan fungsi. Sektor yang menunjukkan fungsinya ini antara lain ialah sungai. Biasanya disetiap ungkonan wilayah guguk ini dipimpin oleh seorang tokoh karismatik, baik karena kedudukannya dia menjadi golongan bangsawan ataupun karena kebangsawanannyalah ia sebagai pemimpin. Salahsatu guguk dan sungai yang terkenal serta bersejarah adalah Sungai Bayas.

Bayas adalah sejenis nama tumbuhan Palma/Nibung besar yang dalam bahasa latinnya "Omcosperma horridum" (lihat KBBI). Jadi Sungai Bayas ialah guguk perkampungan di wilayah sungai yang sekitarnya ditumbuhi oleh banyak tumbuhan Palma. Sekarang wilayah ini masuk dalam bilangan kampung 8 ilir Palembang.

Tokoh yang mula-mula mendiami perkampungan ini ialah keluarga Priyai Sungai Bayas atau dikenal juga Ki. Gede ing Sungai Bayas. Bersama anak dan menantunya, yaitu Arya Kebon Jati bin Pangeran Sido ing Lautan. Di awal era Kesultanan Palembang Darussalam, masa pemerintahan Sultan Susuhunan Abdurrahman Candi Walang (1659-1706), terdapat keluarga Kemas Temenggung Jayo Kramo bin Kms. Silo Penawar berdomisili di guguk ini pula. Dalam catatan sejarah, Keluarga besar Pangeran Temenggung Singa Yuda Wira Kencana Kemas Silo Penawar yang menjadi menantu Sunan Abdurrahman Candi Walang ini, memiliki beberapa orang anak yang masing-masing menyebar di berbagai daerah guguk di kota Palembang, di antaranya:
1. Kemas Miyako, keturunannya banyak tersebar di sekitar guguk kampung Masjid Agung 19 ilir Palembang.
2. Kms. Agus, zuriatnya banyak tersebar di sekitar guguk Bawah Buluh dan Kebon Duku (23 ilir dan 24 ilir).
3. Kms. Temenggung Jayo Kramo, keturunannya banyak tersebar di sekitar guguk kampung Sungai Bayas (8 ilir).
4. Kms. Ahmad, banyak juga anak cucunya.
5. Kms.M. Yunus, keturunannya banyak tersebar di sekitar Sungai Tengkuruk (16-17 ilir) dan di Kampung Perigi (2 ulu).
6. Kemas Rindo, menetap dan wafat di daerah Kertapati Palembang.

Di Guguk Sungi Bayas ini terdapat pemakaman keramat. Ungkonan makam Kms. Temenggung Jayo Kramo, dan anaknya Kms. Ahmad Jalaluddin Sukadana serta keluarga terdapat di Talang Duku Sungai Bayas (jalan Pasar Kuto). 
Belakangan para komunitas Arab-Palembang (Habaib) berdomisili pula di guguk Sungi Bayas ini.
Wallahu a'lam...

Plg, 23/9/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin


Di sadur dari sebuah tulisan di laman facebook Ustadz Kms. H. Andi Syarifudin

19 September 2018

GUGUK di Palembang

Sebelum nama-nama kampung atau tempat di Pelembang seperti peninggalan sekarang ini di tulis oleh kolonial Belanda dengan nomor-nomor angka, yaitu: 1 ilir, 2 ilir, 3 ilir, 1 ulu, 2 ulu, 3 ulu, dst. Di Pelembang sejak jaman kerihin sudah terdapat nama-nama asli wilayah pemukiman atau kampung yang secara global dan spesifik lingkungan tersebut disebut "guguk".

Kata Guguk berasal dari kosakata Jawi-Kawi (Gugu) yang artinya: diturut, diindahkan. Pada mulanya wilayah pemukiman penduduk Kota Palembang di zaman Kesultanan berpusat kepada Keraton. Sedang pemukiman penduduk saat itu dibentuk menurut sistem struktur masyarakat tradisional setempat. Keseluruhan sistem atau lembaga ini berada dalam satu lingkungan dan lokasi. Sistem ini dikenal dengan nama Guguk (gogok). Setiap Guguk biasanya mempunyai tugas dan fungsinya tersendiri. Paling tidak ada 3 sektor menurut sifatnya, yaitu: Sektor Profesi (kedudukan/jabatan), Usaha, dan Fungsinya. Disetiap wilayah Guguk ini dipimpin oleh pemimpinnya, baik karena kedudukannya dia menjadi golongan bangsawan ataupun karena kebangsawanannyalah ia sebagai pemimpin.

Adapun nama kampung yang dikaitkan dengan ketiga sektor guguk menurut sifatnya itu dapat disebutkan misalnya antara lain:
1. Sektor Profesi (kedudukan/jabatan):
- Keraton = tempat Keratuan/Raja (istana)
- Keputren = tempat tinggal para puteri di dalam keraton.
- Kebumen = tempat tinggal Mangkubumi (16 ilir)
- Purban = tempat tinggal Pangeran Purbaya (16 ilir).
- Kemartan = tempat tinggal Pangeran Marta Wijaya (23 ilir).
- Kedipan = tempat tinggal Adipati (13 ilir)
- Ketandan = tempat tinggal Tandha/bendahara/pajak (17 ilir).
- Kedemangan= tempat tinggal para Demang (8 ulu).
- Kebalen = tempat tinggal orang-orang Bali.
- Kebangkan = tempat tinggal orang-orang Bangka (9 ilir).
- Depaten = tempat tinggal Pangeran Adipati/Adipatihan (27 ilir).
- Pengulon = tempat tinggal para penghulu dan alim ulama (19 ilir).
- Kampung Anyar= tempat tinggal komunitas Arab di lingkungan Masjid Agung (19 ilir).
- Jero Pager = tempat tinggal Kms. Temenggung Jumpong mertua Jero Pager, mertua SMB I (1 ilir).
- Temenggungan = tempat tinggal para Temenggung (13 ulu).
- Pedatuan = tempat tinggal para Datuk (12 ulu).
- dll.

2. Sektor Usaha:
* Kepandean = tempat Pandai Besi (18 ilir).
* Sayangan = tempat Pandai/perajin Tembaga (17 ilir).
* Pelengan = tempat perajin membuat minyak.
* Rendang = tempat pembakaran (13 ilir).
* Kuningan = tempat perajin kuningan (15 ilir).
* Pelampitan = tempat membuat lampit (18 ilir).
* Kapuran = tempat mengolah kapur (19 ilir).
* dll.

3. Sektor Menunjukkan Fungsinya (sungai, dsb):
× Segaran = tempat penyegaran (15 ilir).
× Penedan = tempat yang dipelihara/keindahan.
× Terusan = Saluran/kanal (14 ilir).
× Karang Waru = Kumpulan pohon-pohon.
× Temon = tempat Pertemuan (27 ilir).
× Sungai Tengkuruk = Sungai yang diuruk.
× dll.

Plg, 16/9/2018
Kms.H. Andi Syarifuddin

Sumber:
Demang R.M. Hasir (1917)

Di sadur dari sebuah halaman facebook ustadz Kms. H. Andi Syarifudin