Masjid Ceng Ho Palembang di kawasan Jakabaring Palembang |
---------------------------------
Sejarah Muslim Tiongkok di Palembang
Palembang - Sejarah perkembangan muslim Tiongkok di Palembang tak lepas
dari keterkaitan Sungai Saudagar Kocing. Sungai yang merupakan anak dari
sungai Musi ini kini berada di kampung 3-4 Ulu Palembang.
Cerita sungai ini berawal saat tiga pangeran dari negeri Tiongkok melarikan diri saat terjadi pergolakan di masa Dinasti Ming. Dari Tiongkok ketiganya kemudian singgah ke Palembang. Mereka adalah Kapiten Bela, Kapiten Asing dan
Kapiten Bungsu.
Demikian diceritakan Ki Agus Muhamad Idris (78), salah satu keturunan saudagar Yhu Cing, yang ditemui di rumahnya, Jl Jaya Laksana, Seberang Ulu I, Palembang, Rabu (16/09/2009).
Kapiten Bungsu kemudian diketahui meninggal dunia di pulau Kemaro, sebuah delta di sungai Musi. Sedangkan Kapiten Bela dan Kapiten Asing menikah dengan perempuan melayu Palembang dan memiliki keturunan di wilayah tersebut.
Salah satu keturunan mereka yang terkenal kaya raya bernama Yhu Cing. Lantaran rumahnya di dekat sebuah anak sungai yang dijadikan dermaga, maka sungai itu pun disebut sungai Saudagar Yhu Cing. Namun, seiring berubahnya zaman, sebutan 'Yhu Chig' berubah lapas melayu menjadi 'Kocing'.
Saudagar Yhu Cing inilah yang kemudian memiliki anak yang merupakan tokoh penting dalam perkembangan islam. Adalah Jaya Laksana yang kemudian ikut dalam pembangunan masjid Agung Palembang di masa Sultan Mahmud Badaruddin I.
Beriringnya waktu, sejarah saudagar Yhu Cing pun banyak dikaburkan. Banyak masyarakat juga beranggapan penamaan Kocing karena banyaknya warga yang memelihara kucing di masa lalu sehingga diberi gelar sebagai saudagar kucing.
Saat ini kondisi sungai Saudagar Kocing cukup memprihatinkan. Selain dipenuhi sampah, di muara sungai itu pun dipenuhi oleh tanaman liar seperti enceng gondok serta timbunan serbuk kayu.
sumber : tw - detikNews / Kamis, 17/09/2009 02:16 WIB
Cerita sungai ini berawal saat tiga pangeran dari negeri Tiongkok melarikan diri saat terjadi pergolakan di masa Dinasti Ming. Dari Tiongkok ketiganya kemudian singgah ke Palembang. Mereka adalah Kapiten Bela, Kapiten Asing dan
Kapiten Bungsu.
Demikian diceritakan Ki Agus Muhamad Idris (78), salah satu keturunan saudagar Yhu Cing, yang ditemui di rumahnya, Jl Jaya Laksana, Seberang Ulu I, Palembang, Rabu (16/09/2009).
Kapiten Bungsu kemudian diketahui meninggal dunia di pulau Kemaro, sebuah delta di sungai Musi. Sedangkan Kapiten Bela dan Kapiten Asing menikah dengan perempuan melayu Palembang dan memiliki keturunan di wilayah tersebut.
Salah satu keturunan mereka yang terkenal kaya raya bernama Yhu Cing. Lantaran rumahnya di dekat sebuah anak sungai yang dijadikan dermaga, maka sungai itu pun disebut sungai Saudagar Yhu Cing. Namun, seiring berubahnya zaman, sebutan 'Yhu Chig' berubah lapas melayu menjadi 'Kocing'.
Saudagar Yhu Cing inilah yang kemudian memiliki anak yang merupakan tokoh penting dalam perkembangan islam. Adalah Jaya Laksana yang kemudian ikut dalam pembangunan masjid Agung Palembang di masa Sultan Mahmud Badaruddin I.
Beriringnya waktu, sejarah saudagar Yhu Cing pun banyak dikaburkan. Banyak masyarakat juga beranggapan penamaan Kocing karena banyaknya warga yang memelihara kucing di masa lalu sehingga diberi gelar sebagai saudagar kucing.
Saat ini kondisi sungai Saudagar Kocing cukup memprihatinkan. Selain dipenuhi sampah, di muara sungai itu pun dipenuhi oleh tanaman liar seperti enceng gondok serta timbunan serbuk kayu.
sumber : tw - detikNews / Kamis, 17/09/2009 02:16 WIB
No comments:
Post a Comment