CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label Masjid. Show all posts
Showing posts with label Masjid. Show all posts

11 May 2012

Masjid Taqwa Palembang Update


Masjid Taqwa setelah renovasi
Masjid taqwa yang terletak di Jalan Ki Ronggo Wiro Santiko kawasan talang kerangga ini merupakan masjid milik provinsi Sumatera Selatan dengan renovasi menelan dana hampir 11 M,  memang dari sisi penampilan masjid Taqwa berubah total di tambah juga dengan 1 tower yang mengarah ke arah Kambang Iwak Kecil. Kubah besar yang ada diatas  di damping oleh 6 kubah kecil yang ada di samping kiri, kanan dan depan.

Masjid Taqwa ini cukup luas di mana ruangan masjid bisa menampung jemaah sampai dengan 800 orang dan jika pada hari raya ied bisa sampai 1.200 -1.300 orang termasuk di pelataran masjid.
Masjid Taqwa dari sudut kambang iwak kecil

Selain itu juga di sini juga terdapat perpustakaan yang lumayan memiliki koleksi yang cukup lengkap, dana ada pula kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) Provinsi Sumatera Selatan, begitu juga  dengan BKPRMI juga berkantor di sini.

Palembang, Kambang Iwak Kecil, 0512, Dodi NP

20 January 2010

Masjid Taqwa Palembang

Yang tidak mau ketinggalan "Bersolek" seiring perkembangan pembangunan kota ini.

31 March 2009

Masjid Lawang Kidul Palembang

Masjid ini dibangun tahun 1310 H oleh Kyai Merogan (Mgs. H. Abdul Hamid Bin Mgs. Mahmud) dengan menggunakan biaya sendiri. Sebagai seorang ulama yang memiliki pandangan kedepan beliau mendirikan Rumah Allah SWT dengan membuat pernyataan tertulis disebut "Najar Mujal Lillahi Ta'ala" naskah tersebut tertanggal 6 Syawal 1310. Masjid Lawang Kidul berada di tepi Sungai Musi daerah Seberang Ilir Kelurahan 5 Ilir.

pendiri masjid itu wafat tetapi sampai dengan saat ini tetap ramai dikunjungi orang karena makam beliau dilokasi Masjid Ki Merogan dianggap keramat dan ada beberapa kisah menarik pada saat beliau masih hidup.

Kisah tentang ikan

Seorang pedagang ikan dari OKI membawa ikan untuk dijual di pasar ikan di Palembang. Mendekati kota Palembang, si Pedagang tiba-tiba menyaksikan ikannya dalam keadaan mati dan dia akan mengalami kerugian yang cukup besar.

Tiba-tiba ia teringat kemasyuran Ki Merogan untuk meminta nasehat, setalah tiba, belum sempat berkata, Sang Kyai menegur, kisanak ikan-ikan yang berada d perahumu tidaklah mati. Insya Allah ikanmu hidup juallah ke pasar dan hiduplah serta peliharalah keluargamu baik-baik. Benar saja tiba di perahu dilihatnya ikan yang dibawanya dalam keadaar hidup.

Cerita lain tentang ikan dari dari seorang penduduk yang ingin membuktikan kekramatan Ki Merogan dengan melepas seekor ikan besar sambil berucap "hai ikan pergilah engkau menemui Ki Merogan sebagai hadiah dariku" beberapa hari kemudian dia menemui Ki Merogan di masjid Merogan, sebelum sempat mengutarakan maksudnya Sang kyai menyapa lebih dulu dan berkata bahwa kirimannya sudah diterima.

Zikir merogan

Beliau mengajarkan zikir dengan cara unik yaitu bila beliau mengajar ke Masjid Lawang Kidul atau sebaiknya menggunakan perahu sambil berkayuh inilah Kyai mengajak murid-muridnya bersama-sama mengucapkan zikir berulang-ulang dan maklumlah penduduk sekitarnya bahwa Ki Merogan lewat.

Sumber: CBN

14 February 2009

Masjid Agung SMB II



Kemegahan dari Masjid ini merupakan salah satu bukti dari perkembangn kota ini dimana dia berdiri kokoh sebagai saksinya.

09 January 2009

Renovasi Masjid Taqwa Palembang




Masjid yang terletak di kawasan telaga (kambang iwak kecik), sedang di renovasi untuk penambahaan ruangan baik di sisi kiri maupun di sisi kanan ruangan di mana masjid ini akan menjadi bertingkat.

08 August 2008

Masjd Suro





Masjid Al Mahmudiyah ini di kenal dengan nama masjid suro di karenakan tepat terletak di Jalan Ki Gede Ing Suro, banyak cerita-cerita magis yang ada di masjid ini dari awal pembangunan sampai mahluk halus penjaga masjid ini sendiri.

31 July 2008

Masjid Ceng Ho Palembang

Masjid Ceng Ho Palembang di kawasan Jakabaring Palembang
Masjid yang terletak di kawasan Jakabaring ini memiliki arsitek khas cina di mana pembangunan masjid ini di prakarsai oleh PITI (Persatuan Islam Tionghoa) walau sekarang untuk tahap finising masih kekurang dana +/- 1 M.
---------------------------------
Sejarah Muslim Tiongkok di Palembang

Palembang - Sejarah perkembangan muslim Tiongkok di Palembang tak lepas dari keterkaitan Sungai Saudagar Kocing. Sungai yang merupakan anak dari sungai Musi ini kini berada di kampung 3-4 Ulu Palembang.

Cerita sungai ini berawal saat tiga pangeran dari negeri Tiongkok melarikan diri saat terjadi pergolakan di masa Dinasti Ming. Dari Tiongkok ketiganya kemudian singgah ke Palembang. Mereka adalah Kapiten Bela, Kapiten Asing dan
Kapiten Bungsu.

Demikian diceritakan Ki Agus Muhamad Idris (78), salah satu keturunan saudagar Yhu Cing, yang ditemui di rumahnya, Jl Jaya Laksana, Seberang Ulu I, Palembang, Rabu (16/09/2009).

Kapiten Bungsu kemudian diketahui meninggal dunia di pulau Kemaro, sebuah delta di sungai Musi. Sedangkan Kapiten Bela dan Kapiten Asing menikah dengan perempuan melayu Palembang dan memiliki keturunan di wilayah tersebut.

Salah satu keturunan mereka yang terkenal kaya raya bernama Yhu Cing. Lantaran rumahnya di dekat sebuah anak sungai yang dijadikan dermaga, maka sungai itu pun disebut sungai Saudagar Yhu Cing. Namun, seiring berubahnya zaman, sebutan 'Yhu Chig' berubah lapas melayu menjadi 'Kocing'.

Saudagar Yhu Cing inilah yang kemudian memiliki anak yang merupakan tokoh penting dalam perkembangan islam. Adalah Jaya Laksana yang kemudian ikut dalam pembangunan masjid Agung Palembang di masa Sultan Mahmud Badaruddin I.

Beriringnya waktu, sejarah saudagar Yhu Cing pun banyak dikaburkan. Banyak masyarakat juga beranggapan penamaan Kocing karena banyaknya warga yang memelihara kucing di masa lalu sehingga diberi gelar sebagai saudagar kucing.

Saat ini kondisi sungai Saudagar Kocing cukup memprihatinkan. Selain dipenuhi sampah, di muara sungai itu pun dipenuhi oleh tanaman liar seperti enceng gondok serta timbunan serbuk kayu.

sumber : tw - detikNews / Kamis, 17/09/2009 02:16 WIB

13 February 2008

Masjid Al Mahmudiyah (Masjid Suro)


Nama asli dari masjid ini adalah masjid Al-Mahmudiyah yang terletak di persimpangan jalan Ki. Gede Ing Suro dan Jalan Ki. Rangga Wira sentika, sehingga itulah sering di sebut dengan masjid suro yang merupakan kependekan dari nama Ki. Gede Ing Suro.

Masjid besar Al Mahmudiyah berlokasi di Jl Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat (IB) II, Palembang merupakan salah satu masjid bersejarah. Tempat ibadah umat muslim yang akrab disebut Masjid Suro ini sempat terlantar sejak didirikan oleh Ki H Abdurahman Delamat bin Syarifuddin bersama sahabatnya Kiai Ki Agus H. Mahmud Usman (Kgs. Khotib) tahun 1889.

Pada masa penjajahan Belanda, Masjid Suro ini pernah dibongkar dan dilarang untuk dipergunakan sebagai tempat ibadah selama kurang lebih 36 tahun. Setelah kepengurusan masjid diserahkan kepada Kiai. Kgs. H. Mahmud Usman atau Kiai Khotib, akhimya nama masjid ini berubah menjadi Masjid Al-Mahmudiyah sesuai nama pengurusnya.

Setelah Kiai Kgs. H. Mahmud Usman meninggal dunia maka sekitar tahun 1343 H/1919 M diadakanlah pertemuan antara pemuka agama dan masyarakat di Kelurahan 30 Ilir untuk membentuk kepengurusan masjid yang baru. Ini atas prakarsa Kiai Kiemas H. Syekh Zahri. Maka, terpilihlah kepengurusan BAM yang diketuai oleh Kgs H.M. Ali Mahmud.

Di masa kepengurusannya, pada tahun 1920, masjid ini mulai dibongkar untuk diperbaiki. Pada tahun 1925 dibangun menara masjid, Yang lebih penting bagi masyarakat, diperbolehkannya kembali shalat Jumat oleh Tuan Residen.

Masjid yang pemah dipakai sebagai tempat berkumpulnya pemuda-pemuda pejuang yang tergabung dalam BPRI (Badan Pelopor Republik Indonesia), pemah mendapat bantuan dana dari Bapak H. Alamsyah Ratu perwiranegara, semasa ia menjadi Menteri Agama.

Tulisan  di rangkum dari berbagai sumber