CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label permainan anak. Show all posts
Showing posts with label permainan anak. Show all posts

11 May 2019

Mobilan Bambu & Kaleng Oli Esso

Mobil Bambu Foto : Google
Bagi yang pernah merasakan masa kecil era 80 & 90 an pasti mengenal apa yang namanya  mobil bambu, mobil sederhana yang di buat dari potongan bilah bambu yang di ikat menggunakan karet gelang, untuk ban nya sendiri menggunakan karet potongan sendal jepit yang sudah tidak terpakai, sedangkan hiasan di tengahnya di gunakan lah kaleng oli esso, atau kaleng susu anak atau juga kaleng bekas obat semprot nyamuk.

Kalau malam hari bisa di pasang lilin di dalam kaleng tersebut sehingga sorot lilin yang redup cukup menambah keceriaan bermain pada malam tersebut.

Oli Lawas spesialis untuk Vespa
Foto ; Google
Dengan menggunakan barang bekas yang sudah tidak terpakai, dulu mainan ini di buat sendiri secara beramai-ramai dengan teman-teman. dengan memanfaatkan potongan-potongan bilah bambu yang sudah di  di haluskan dan di bagi menjadi beberapa bagian, masing-masing bagian nanti di ikat dengan karet gelang, untuk bagian depan yang juga berfungsi sebagai pendorong di buat dari bilah bambu yang agak panjang untuk bagian slongsong roda biasa kami gunakan bekas pipa listrik atau pipa air, untuk rodanya sendiri menggunakan dari sandal karet bekas yang sudah tidak terpakai, satu lagi biar mobilan kita tambah menarik penampilannya adalah menggunakan karpet bekas yang di buat untuk karpet penahan percikan air.

kalau sudah selesai membuatnya biasanya kita bermain beramai-ramai karena di situlah letak keseruan di dalam permainan tempo dulu ini.

Permainan tempo dulu sangat jarang sekali yang namanya "membeli" karena memang saat itu untuk membeli mainan saja uangnya tidak ada, jalan satu-satunya adalah dengan mengasah sedikit bakat trampil.

28 August 2018

LAYANGAN PALEMBANG

Ku ambil buluh sebatang
Ku potong sama panjang
Ku raut dan kutimbang dengan benang
Ku jadikan layang-layang
...... 
Demikianlah sepenggal syair lagu anak-anak yang sangat populer.

Layangan atau layang-layang merupakan salahsatu permainan tradisional masyarakat Palembang sejak doeloe. Jenis-jenis permainan tradisional masyarakat adat Palembang sangatlah banyak dan beragam, di antaranya ialah layangan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan "Layang" bermakna mainan yang terbuat dari kertas berkerangka yang diterbangkan ke udara dengan memakai tali (benang) sebagai kendali.

Permainan tradisional ini diminati oleh semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa, dari lapisan masyarakat biasa maupun golongan bangsawan. Di jaman Kesultanan Palembang Darussalam, layangan sudah menjadi pemandangan indah, menghias langit negeri Palembang. Selain sebagai permainan yang mengasyikkan, juga layangan sekaligus sebagai hiburan pelepas penat. Memainkan layangan di tanah lapang perlu keterampilan khusus serta peralatan layangan yang disiapkan dengan teliti dan terbaik. Para pembesar Kesultanan Palembang seperti Manteri, Raden ataupun Pangeran cukup piawai dalam bermain layangan di lingkungan keraton.

Van Sevenhoven (1821), dalam tulisannya melukiskan tentang permainan layangan di Kesultanan Palembang tempo doeloe sebagai berikut:
"Di sini lagi-lagi ada sebuah bidar atau pancalang yang membawa seorang Mantri, Raden atau Pangeran. Ia sungguh sibuk. Tidak ada yang mengalihkan perhatiannya. Ia melihat dengan tajam ke udara dan seorang yang baru akan berpikir, bahwa ia sedang mengawasi dengan seksama sesuatu yang ajaib di udara dan dari waktu kewaktu menceritakan kepada yang ada bersamanya apa yang dilihatnya. Kenyataannya adalah jauh daripada itu.
Orang itu kelihatannya begitu terhormat, kepada siapa banyak soal-soal penting harus dilaporkan, sedang menghibur diri dengan main layang-layang, yang talinya diperkuat dengan tumbukan gelas dan dicampur dengan beberapa benda tajam lainnya dengan maksud agar dapat memutuskan tali layang-layang lain semacam itu akan diputuskan oleh yang terakhir ini dengan tali yang juga diperkuat dengan cara yang sama. Itulah kesibukannya; dan tidak mengherankan! Dalam hal ini ia mengikuti rajanya yang mulia dan tuannya yang disamping itu masih mempunyai keistimewaan yang rupa-rupanya hanya dimiliki oleh keluarga raja, yaitu bahwa ia mengawasi layang-layangnya yang berada tinggi di awang-awang dengan sebuah teropong yang biasa dipakai untuk mengikuti suatu pementasan (tonel). .....yang kalah ialah orang-orang yang tali layang-layangannya dapat diputuskan oleh lawannya. Untuk memutuskan layang-layang atau untuk menghindarkannya diperlukan sedikit banyak keterampilan. Orang yang tidak ahli akan segera kehilangan layangan-layangannya."

Di dalam rumah adat Limas, layangan dan ulakannya disimpan di ruangan pawon, digantung di dinding luar sebuah pangkeng yang berada tidak jauh dari ruang makan. Pada saat ini, layangan masih menjadi permainan dan hiburan alternatif yang menyenangkan, terutama ketika musim layangan ataupun pada saat memeriahkan momen bulan Agustusan. Hampir disetiap kampung dulu terdapat tukang layangan yang memproduksi dan menjualnya secara luas. Bentuk layangan khas Palembang cukup sederhana, namun memiliki banyak corak dan variasi reko/gambar yang menarik dilukis dengan sumbo.

Istilah dalam Dunia Pe"Layangan" :
- layangan
- kuncung
- reko
- ulakan
- padek
- tali benang
- tali timbo
- cul / ngecul
- prigel
- ngepal
- sinting
- ngoter
- ngencot
- paritan
- legoo
- gelasan
- ngambul
- kukutan
- nyempret
- ngedek
- nyerucup
- mongkoti
- nganteng
- tebik
- silem
- julur
- tarik
- ngebir
- katak-katak
- putus di tangan
- ceracahan
- ngokot
- ruwet
- ngulak tali
- melawan angin 
- katek angin
- beri
- besetan
- bandelan
- gelondongan
- sumbo
- ngejer layangan
- satang
- Tukuk i
- Ser ken
- Julur
- Ngelipek
- Belamburan
- Gelas wak mo
- Kaberken
- Slentek
- Gelas blang bleng
- Anjalken
- Kertas beluang
- Kuncung kaset
- Layangan gundul
- Sinting
- Embati
- Beset
- Tarik masuk
- Tarik metu
- Cedok
- Agangi
- Bladokkan
- Gelagaran
- dan lain-lain.
Bermain layangan hendaklah jangan sampai melalaikan waktu untuk beribadah.

Palembang, 12 Agustus 2018
Kms.H. Andi Syarifuddin
(KHAS)

21 January 2017

Permainan dengan Ban Motor

Anak-anak yang sedang memainkan Ban bekas motor di kawasan 13 Ulu Palembang
Memainkan permainan ini bisa dilakukan sorang diri, namun yang paling mengasikkan tentu saja bermain bersama teman-teman, waktu yang pas untuk memainkannya adalah pada sore hari supaya cuaca tidak terlalu panas, biasanya pada saat pulang sekolah anak-anak akan membuat janji untuk berkumpul di suatu tempat sambil membawa ban yang akan digunakan untuk bermain, setelah semuanya berkumpul maka mulailah permainan ini dilakukan, rute yang dilalui ya disekitar jalanan yang ada di kampung, semua jalan dan gang yang ada di kampung akan habis dilalui dengan berlari-lari kecil sambil memukul ban bekas motor tersebut, selain melalui rute di sekitar kampung, terkadang anak-anak yang bermain bisa juga sampai ke kampung sebelah atau ke suatu tempat yang direncanakan, misalnya ke pantai atau ke sungai, istilah jaman sekarangnya mungkin touring, namun jika touring yang kita kenal adalah dengan mengendarai kendaraan tertentu, makan touring disini adalah mengunjungi suatu tempat sambil membawa ban bekas.


Selain cuma berputar-putar sambil berjalan dan berlari menelusuri jalanan yang ada di Kampung, kegiatan yang paling mengasikkan ketika bermain menggunakan ban motor bekas ini adalah adu kecepatan alias balapan. Aturannya sama dengan balapan pada umumnya, dimulai dari garis start kemudian berlari dengan kencang sampai ke garis finish, siapa yang sampai duluan maka dialah yang menjadi pemenang, namun yang membedakan adalah tentu saja pada ban motor bekas yang harus dibawa berlari, perlu strategi dan ketepatan supaya kita bisa sampai garis finis lengkap dengan ban yang dibawa, jangan sampai kita duluan berlari dan ban tertinggal atau malah sebaliknya, ban yang duluan sampai sementara kita belakangan, selain itu yang harus diperhatikan adalah laju ban yang tetap stabil dan tetap pada jalur supaya tidak saling menabrak dengan ban teman berlomba, sepintas cukup mudah namun sulit dilakukan, tidak jarang ban yang dibawa berlari akan saling bersenggolan sehingga keluar dari lintasan dan itu akan menghambat laju lari kita, kegiatan balapan ini adalah kegiatan yang paling seru untuk dilakukan, sorak sorai teman-teman yang menyemangati akan semakin menambah semarak suasana perlombaan. 

Tulisan by Kaskus.co.id

01 June 2008

Congklak





Congklak adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu kecil. Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Di beberapa daerah di Sumatra yang berkebudayaan Melayu, permainan ini dikenal dengan nama congkak. Di Lampung, permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban, sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan beberapa nama: Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata. Permainan ini di Malaysia juga dikenal dengan nama congkak, sedangkan dalam bahasa Inggris permainan ini disebut Mancala.

Permainan ini selain untuk mengasah otak juga untuk mengasah kejujuran pemain, kalau ada yang curang pasti permainannya akan berhenti.

27 April 2008

KIF Park Palembang





 




 



 


KIF Park yang merupakan wahana baru di kawasan Kambang Iwak Besak yang memadukan antara konsep resto, permainan anak, permainan outdor, olahraga dan panorama, lumanyan menjadi daya tarik baru bagi yang mengunjunginya.

24 February 2008

Main Ekar


Di Palembang disebutnya ekar, di masyarakat Betawi namanya gundu. Buat anak-anak Sunda namanya kaleci. Orang Jawa nyebutnya neker, di Banjar Kleker dan kalau buat orang Belanda, namanya knikker.
Sebutan ini juga kadang dipakai anak-anak di Inggris selain sebutan marbles. Kalau di Prancis namanya billie.
Permainan ini mulai populer di Eropa, Amerika dan tentunya Asia di abad ke-16 sampai 19. Tapi tahukah Anda dari mana permainan ini awalnya berasal?
Ternyata dari berbagai penelusuran sejarah, permainan ini awalnya berasal dari peradaban Mesir Kuno sejak tahun 3000 Sebelum Masehi (SM). Di Mesir, kelereng terbuat dari tanah liat atau batu.
Sementara kelereng tertua dunia yang saat ini masih eksis, berasal dari Pulau Kreta dari tahun 2000-1700 SM dan kini dikoleksi The British Museum di London, Inggris.
Kalau kelereng yang biasa kita mainkan sekarang dan terbuat dari kaca, baru dikembangkan di pertengahan abad ke-19. Tepatnya di tahun 1864 dan dibuatnya di Jerman dengan beragam warna mirip permen.
Tidak sedikit nilai-nilai yang bisa kita dapatkan dari permainan ini. Sebut saja relaksasi atau mengatur emosi, mengasah otak, melatih motorik, kesabaran, kecermatan, melatih karakter kompetitif, melatih kejujuran, hingga mengembangkan kemampuan sosial. 
Sumber https://news.okezone.com/
Blog diupdate : 2017

05 March 2007

Eksistensi Permainan Rakyat Kota Palembang

Permainan Pantak Lele 
Kredit foto by : https://steemit.com/esteem/@wanilay
Kota Palembang sebagai ibukota propinsi Sumatera Selatan, yang tumbuh dan berkembang menjadi barometer pertumbuhan di Sumatera bagian selatan, pernah mengenal berbagai macam jenis permainan tradisional, khususnya yang dimainkan oleh anak-anak. Namun sebagai dampak derasnya kemajuan teknologi dan arus informasi, pada saat sekarang, hampir tidak ditemukan lagi anak-anak di kota Palembang yang memainkan permainan-permainan tradisional tersebut. Padahal didalam permainan tradisonal tersebut banyak terkandung nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang sangat bagus dalam perkembangan si anak. Meskipun pada umumnya permainan tersebut dimainkan dengan tujuan rekreatif dan pengisi waktu luang, namun secara tidak disadari, permainan-permainan tradisional tersebut dapat melatih keterampilan, ketangkasan, kreatifitas, daya ingat, kekompakan dan mengajarkan anak untuk bersosialisasi serta beradaptasi di dalam lingkungan sosialnya.

Permainan rakyat tradisional merupakan salah satu manifestasi tingkah laku manusia yang dilakukan dalam kegiatan fisik dan mental sebagai bagian dari kebudayaan bangsa dimana setiap suku bangsa yang mempunyai permainan rakyat tersendiri (Yunus, 1992). Permainan rakyat daerah sangat berguna sebagai sumber informasi bagi sejarah dan budaya masyarakat setempat. Hal ini karena pada dasarnya manusia senang dan harus bermain, sudah lama diketahui. Buktinya adalah bahwa setiap kebudayaan memiliki banyak macam permainan dan alat-alat permainan.

Didalam permainan rakyat tradisional terkandung nilai-nilai dan gagasan vital masyarakat pengembangannya, serta merupakan sumber daya manusia yang sangat besar. Dengan kata lain permainan rakyat merupakan suatu tradisi yang mengandung fungsi dan nilai-nilai budaya masyarakat pendukungnya. Menurut sifatnya permainan rakyat dapat dibedakan atas dua golongan besar yaitu permainan rakyat untuk bermain (play) dan permainan untuk bertanding (game). Golongan yang sifatnya untuk bermain lebih menekankan fungsi untuk mengisi waktu senggang, melepaskan kejenuhan atau rekreasi, sedangkan golongan untuk bertanding yang kedua kurang mempunyai sifat itu tetapi lebih terorganisir, diperlombakan (kompetisi) dan dimainkan paling sedikit oleh dua orang untuk menentukan yang kalah dan yang menang (Subdit Nilai Budaya : 42).

Di tengah gencarnya serbuan teknologi yang semakin hari semakin canggih serta tuntunan zaman yang mengkondisikan penguasaan iptek sedini mungkin, menjadikan eksistensi permainan rakyat tradisional berada pada taraf yang dilematis. Di satu sisi, perkembangan iptek memunculkan berbagai macam jenis permainan digital yang jauh lebih menarik dan atraktif, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga seluruh golongan usia. Di sisi lainnya, permainan rakyat tradisional ini semakin hari semakin ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya karena hadirnya berbagai jenis permainan yang berbasis teknologi, seperti video game yang dihadirkan oleh berbagai perusahaan pembuat konsol game.

Dalam hasil penelitian oleh Moesono dkk (1996 : 26), video game yang dapat dibedakan atas 3 (tiga) jenis yaitu game komputer, dingdong dan nintendo/sega (pada saat sekarang ditambah dengan playstation, x-box dan cyber game), mulai marak di Indonesia semenjak awal tahun 80-an.

Seperti halnya permainan rakyat tradisional di daerah atau di negara lainnya serta di daerah-daerah lainnya di kepulauan Nusantara (Indonesia), bentuk-bentuk permainan rakyat di kota Palembang biasanya berdasarkan gerak tubuh seperti berlari atau kejar-kejaran, lompat, sembunyi-sembunyian, ketangkasan anggota tubuh, kecekatan tangan dan keterampilan menggunakan alat serta berdasarkan matematika dasar. Selain itu ada pula bentuk permainan yang berdasarkan untung-untungan. Sedangkan jenis-jenis permainannya seperti pantak lele, gasing, cup mailang, cak ingkang gerpak, ulo cadang (dang-dangan), yang-yang buntut, perahu bidar dan luk-luk cino buto.

Beberapa jenis permainan rakyat tradisional di kota palembang yang masih eksis di kota Palembang sekarang adalah permainan Pantak Lele, Cup Mailang, Luk-Luk Cino Buto, Cak Ingking Gerpak, Ulo Cadang (Dang-Dangan) dan Engkek-Engkek.

Permainan rakyat, pada umumnya berfungsi sebagai pengisi waktu senggang dan untuk hiburan bagi anak-anak. Oleh sebab itu permainan-permainan tradisional anak biasanya dimainkan pada waktu siang hari yaitu pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Selain itu juga untuk mengisi waktu istirahat di sekolah. Jadi pada umumnya permainan-permainan tersebut tidak memerlukan waktu-waktu khusus untuk memainkannya dan bisa kapan saja. Durasi atau lamanya permainan tergantung dari masing-masing jenis permainan, tetapi biasanya berkisar antara 15 (lima belas) menit sampai dengan 1 (satu) jam.

Hasil gambar untuk permainan tradisional palembang
Permainan Cak eng kleng

Disamping itu ada juga permainan rakyat tradisional di kota Palembang yang dimainkan pada waktu-waktu tertentu. Pada waktu tertentu maksudnya adalah bahwa permainan tersebut hanya bisa dimainkan pada saat yang telah ditentukan atau pada waktu even-even khusus. Salah satu permainan yang hanya bisa dimainkan pada waktu-waktu khusus ini adalah permainan Perahu Bidar.

Permainan Perahu Bidar ini sangat dikenal oleh masyarakat di kota Palembang, bahkan oleh seluruh penduduk di daerah Sumatera Selatan karena pada setiap tahunnya yaitu pada tanggal 17 Agusutus, perahu bidat ini dijadikan sebagai tontonan publik sebagai perlombaan perhau di sungai Musi. Bentuk perahunya yang panjang sampai dengan 27 (dua puluh tujuh) meter dan dengan lebar hanya 0, 75 meter, dapat memuat pendayung sampai dengan 57 (lima puluh tujuh) orang. Memang ada yang pendek dan pendayungnya hanya berjumlah 35 (tiga puluh lima) orang, tetapi yang paling sering ditampilkan adalah yang panjang. Bentuk perahunya yang panjang akan dapat menanmpung jumlah pendayung yang lebih banyak dan sudah tentu kekuatan laju perahu lebih cepat.

Permainan rakyat tradisional yang ada di kota Palembang, hampir keseluruhan bisa dimainkan oleh seluruh lapisan atau golongan masyarakat tanpa memandang status sosialnya orang yang memainkannya. Golongan masyarakat di desa-desa sampai yang ada di pusat kota, bisa memainkan permainan-permainan tersebut tanpa ada larangan dan cemoohan atas dasar status sosial.

Hal ini menggambarkan bahwa dalam permainan-permainan tradisonal anak yang ada di kota Palembang, anak-anak dan remaja dari segala lapisan sosial masyarakat melebur menjadi satu untuk bermain. Disini terlihat rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang tinggi.

Hakekat dan fungsi permainan rakyat di kota Palembang adalah :
  1. Permainan bertanding, karena permainan itu terorganisasi, dimainkan oleh lebih dari 1 (satu) orang, mempunyai kriteria dan peraturan yang diterima oleh seluruh peserta permainan. Salah satu jenis permainan bertanding adalah lomba perahu bidar, karena hanya dapat dipergelarkan pada waktu-waktu khusus saja yaitu pada waktu HUT Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kota Palembang. Selain itu perlombaan perahu bidar ini memerlukan persiapan yang matang dan terencana, terarah dan terkoordinasi.
  2. Permainan yang bersifat rekreatif atau hiburan seperti permainan Cup Mailang. Permainan ini dapat dimainkan pada setiap waktu dan setiap tempat baik oleh anak-anak, remaja bahkan juga oleh orang dewasa. Permainan seperti ini pada dasarnya bersifat rekreasi karena hanya sebagai pengisi waktu luang pada waktu sore hari atau pada hari-hari libur. Permainan ini tidak terlalu menuntut unsur terorganisasi, kompetitif, dan tidak memerlukan kriteria dan peraturan-peraturan khusus. Dengan hanya minimal 2 (dua) orang peserta saja, permainan ini sudah dapat dimainkan. Unsur terpenting dalam permainan jenis ini pada hakekatnya adalah hiburan, pengisi waktu santai dan saling berkomunikasi secara kekeluargaan serta persahabatan.
Baik permainan yang bersifat bertanding maupun permainan yang bersifat rekreatif, mengandung nilai-nilai kepribadian pembangunan seperti nilai-nilai kekompakan atau juga dapat dikatakan nilai persatuan dan kesatuan, kebersamaan, gotong royong. Permainan jenis ini menunjukkan adanya nilai kerukunan hidup, mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban, saling mencintai, mengembangkan sikap tenggang rasa, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, mengembangkan sikap hormat menghormati, bangga sebagai bangsa Indonesia, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, rela berkorban, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban dan sebagainya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut merupakan nilai budaya bangsa yaitu nilai-nilai Pancasila. Nilai itu merupakan nilai kepribadian pembangunan seperti kesediaan menerima pengalaman baru dan keterbukaan bagi pembaharuan dan perubahan, berpandangan luas, bekerja dengan perencanaan dan organisasi yang ketat, yakni hidup dapat diperhitungkan, yakin akan kemampuan manusia dan imbalan diberikan berdasarkan prestasi.

Keberadaan permainan rakyat yag ada di Sumatera Selatan, khususnya di kota palembang padea saat sekarng, tidk jauh bebeda dengan derah-daerah lainnya di indonesia seperti di Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Masyarakt di Palembang pada umumnya tidak mengenal lagi permainan-permainan rakyat tradisional yang pernah ada dan berkembang di daerahnya. Padahal dalam permainan-permsina rakyat itu, terkandung fungsi-fungsi dan nilai-nilai budeaya yang tinggi peningagalan dari nenek moyang bangsa Indinesia.

Kalau pun masih ada yang memainkn permainan-permainan tersebut, itu hanya ditemukn di diaerah-daerah pinggiran kota dan di desa-desa, itupun sudah sngat jarng( wawancara dengan Bapak Usman Agoes-46 tahun). Faktor-fasktor yang menjadi penyebab hilangnya keberadaan jenis-jenis kesenian rakyat tradisional, di sumatera selatan, khususnya kota palembang, menurut beliau karena banyaknya jenis permainan asing yang lebih modern masuk ke kota palembang. Anak-anak apda mas sekarang lebih senang memainkan permainan modern ketimbang permainan tradisional.

Selain itu juga disebabkan oleh tuntutan zaman saat ini yang menuntut anak-anak menguasai ilmu pengetahuan lebih banyak, tidak hanya melalui pendidikan formal tapi juga melalui pendidikan dan kursus-kursus informal. Hal ini mengakibatkan si anak tidak lagi mempunyai waktu senggang yang banyak untuk bermain, khususnya permainan rakyat tradisional.

Fenomena itu selain mengakibatkan si anak tidak lagi mengenal permainan tradisional, lebih jauh juga menyebabkan kurangnya kreatifitas dan jiwa seni si anak. Karena sebagian besar permainan-permainan rakyat tradisional itu, baik secara langsung maupun tak langsung dapat merangsang kreatifitas dan jiwa seni. Tidak hanya dalam memainkannya, juga dalam membuat peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan.

Selanjutnya, Bapak Usman Agoes berharap bahwa kalau dapat permainan-permainan rakyat tradisional tersebutapat hidup dan berkembang lagi seperti masa dahulu. Karena permainan-permainan itu dapat menambah daya kreatifitas anak-anak. Selain itu menjadikan anak-anak berpikir, sehingga dapat melatih nalar dan daya ingat. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan membuat semacam buku-buku panduan permainan seni tradisional yang berisi panduan permainan-permainan rakyat tradisional.

Diharapkan anak-anak sekarang tertarik mencoba membuat dan memainkan permainan-permainan tersebut, sehingga permainan rakyat tradisional yang merupakan budaya warisan nenek moyang bangsa, dapat hidup kembali serta dilestarikan.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Rencana Strategis Pembangunan Kebudayaan dan Kepariwisataan Nasional 2005-2009, Jakarta, 2005.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Permainan Rakyat Daerah Sumatera Selatan, Palembang : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1983.
Moesono, Anggadewi, Dr, dkk. Manfaat dan Mudarat Video Game Bagi Anak dan Remaja, Jakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, 1996.
Ramlan, Eddy, dkk. Pembinaan Nilai Budaya Melalui Permainan Rakyat Daerah Sumatera Selatan, Palembang ; PD. Alima Jaya, 1997.
Yunus, Ahmad. Kajian Upacara Tradisional, Cerita Rakyat, Ungkapan Tradisional, Permainan Rakyat dan Naskah Kuno Sebagai Sumber Pengungkapan Nilai Sejarah Dan Budaya. Makalah pada penataran tenaga teknis kesejarahan di Jakarta, 1992.