CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label ziarah Kubro. Show all posts
Showing posts with label ziarah Kubro. Show all posts

29 April 2019

Ziarah Kubro Palembang Tempo Dulu

Salah Satu lokasi Pemakaman yang masih apa adanya
Ziarah kubro yang berarti berziarah ke kubur secara bersama-sama. Ziarah kubro ini merupakan tradisi dari masyarakat Palembang, kegiatan mengunjungi makam para ulama dan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam seminggu menjelang Ramadhan.


Pemerhati sejarah Palembang, Yudhi Syarofie, menuturkan, ziarah kubro pertama kali dilakukan oleh warga keturunan Arab, terutama asal Yaman yang diduga sudah tiba di Palembang sejak zaman Sriwijaya, sekitar abad ke-8. Ketika itu, mereka melakukan secara eksklusif, yakni hanya di lingkungan keluarga.

Tradisi itu mulai menjadi ritual bersama warga keturunan Arab dan pemimpin Palembang ketika masa Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823). ”Saat itu, terjadi akulturasi budaya Arab dan Palembang, seperti pawai diiringi prajurit berpakaian khas Melayu Palembang dan mengunjungi makam pendiri ataupun penguasa Palembang terdahulu,” tutur Yudhi.

Ziarah Kubro merupakan tradisi yang dilakukan sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Namun saat itu kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh kerabat kesultanan dan baru terbuka untuk umum pada 1970-an. Saat itu kegiatan hanya dilakukan selama satu hari, namun karena jumlah jemaah terus bertambah, waktu pelaksanaannya ditambah menjadi tiga hari sejak 2010.

Warga yang tak ikut ziarah kubro menyambut antusias. Ada yang berebut menyentuh tubuh ataupun mencium tangan ulama. Bagi warga, bisa menyentuh tubuh ataupun mencium tangan ulama merupakan berkah tersendiri. Ada pula yang menawarkan minuman dan makanan gratis kepada jemaah. Mereka berupaya merayu jemaah agar mengambil minuman dan makanan yang disajikan agar mendapat berkah. Suasana yang terbangun mirip saat Lebaran.

Di Rangkum dari https://travel.kompas.com/
Foto : 


Ziarah Di Pemakaman Kawasan kawah Tengkurep




26 April 2019

Ziarah Kubro Hari Ke-1 Tahun 1440 H n/ 2019 M





Ziarah Kubro hari pertama ini Perjalanan dimulai dari Masjid Darul Muttaqien di Kuto menuju makam habib Aqil Bin Yahya dan Pemakaman Habib bin Syech Shahab dan berakhir di kawasan Kubah Syahab Jalan M Isa Palembang.

Palembang dalam sketsa, April 2019
Foto By : Palmbang Darusallam

30 May 2016

Ziarah Kubro Tahun 2016

Sumber : Youtube

Kota Palembang, saat mendekati bulan Ramadhan. Ribuan warga kota ini dan para habaib dari berbagai kota, berkumpul menjadi satu dan membentuk barisan panjang. Mereka menyebutnya sebagai ziarah kubro, yakni kegiatan mendatangi makam para wali atau auliya di kota ini secara massal. Tujuannya, adalah untuk menaburkan doa-doa, sambil mengenang perjuangan dan kemuliaan para fisabilillah, atau orang-orang yang berjuang untuk Yang Mahatinggi.

Fenomena berziarah ke makam para wali atau keluarga dekat, kerap dianggap sebagai warisan pra-Islam. Karena itu, fenomena itu bisa ditemui di negara Islam mana pun. Termasuk, tempat asal-muasal agama Islam dikembangkan, yakni kawasan Timur Tengah, dengan Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam, sebagai tokoh sentralnya. Setelah sang Rasul wafat, para keturunannya yang disebut ahlul ba’it, memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam. Sisi lain, mereka juga kerap dianggap sebagai pewaris spiritual Rasulallah, dan berhak mencantumkan gelar-gelar syarif atau sayyid sebagai simbol bangsawan spiritual.

Garis keturunan secara lahiriah ini, kerap diangap sebagi jembatan langsung untuk menjangkau sang Nabi terakhir. Bahkan, mereka pun dianggap sebagai wali, sang pelindung, yang mencintai dan dicintai oleh Dzat Yang Mahasempurna. Karena itu, makam para wali, atau secara jamak disebut auliya, dianggap memiliki barokah untuk mendapatkan syafaat dari Rasulallah. Sehingga, ziarah ke makam para wali pun menjadi tradisi tahunan sejak tahun 70-an.

Hampir setiap mendekati Ramadhan, kota ini menjadi pusat perhatian umat Islam dari mana pun. Lebih khusus lagi, para habaib, atau orang-orang yang memiliki garis keturunan dari Rasulallah. Karena, komunitas habaib itulah yang merasa paling berkepentingan untuk mengunjungi makam-makam para wali, yang ternyata merupakan para leluhurnya sendiri.

Kota Palembang di masa silam adalah kejayaan Kerajaan Sriwijaya di masa pra-Islam, dan kebesaran Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-13. Kesultanan Palembang Darussalam berkembang, setelah kehancuran Kerajaan Sriwijaya dan kekosongan kekuasaan selama sekitar dua abad. Pimpinan Islam yang pertama kali berkuasa di Palembang adalah Sultan Mughni. Saat itu, Palembang juga masih bagian dari Kerajaan Majapahit.

Kesultanan Palembang Darussalam makin semarak, setelah Sultan Mahmud Badaruddin I berkuasa. Genderang syiar Islam terus terdengar, dan tatanan budaya yang bersendikan Islam di kota ini pun, kian kokoh. Nama besar sang Sultan, ternyata masih berkaitan dengan wali songo dan sultan-sultan di Kesultanan Demak Bintoro.

Sumber : Youtube

Begitu kuatnya hubungan darah keluarga Kesultanan Palembang Darussalam dengan wali songo hingga Rasulallah salallahu ‘alaihi wassalam, maka mereka pun dekat dengan kaum pedagang atau ulama dari jazirah Arab. Sebagian besar dari para ulama itu berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan, tempat salah seorang keturunan sang Rasul bermukim. Mereka dikenal sebagai komunitas Keluarga Allawiyin, yakni keturunan ke-12 dari Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam. Dan, sebagian besar warga keturunan arab yang bermukim di kota Palembang, umumnya berasal dari Keluarga Allawiyin.

Eratnya hubungan antara keluarga Kesultanan Palembang Darussalam dan para habib dari Hadramaut, adalah diangkatnya para habib itu sebagai guru di lingkungan istana. Penghormatan keluarga kesultanan terhadap keturunan ahlul bait itu, juga ditunjukkan dengan kehadiran makamnya yang dekat dengan makam sang Sultan. Kesatuan antara makam guru dan murid.

Pada akhirnya, para habib itu memang menjadi imam kubur, ulama yang seakan mendampingi muridnya yang sultan, sejak hidup hingga ke liang lahat. Imam kubur di dekat makam Sultan Mahmud Badaruddin I adalah Al Habib Abdullah bin Idrus Alaidrus. Namun, selain sang imam kubur, nama Sultan Mahmud Badaruddin I pun memiliki kemuliaan tersendiri di mata para penziarah. Karena, selain masih keturunan ahlul bait, sang Sultan merupakan ulama dan pemimpin yang arif bijaksana. Bahkan, para sejarahwan menjulukinya sebagai tokoh pembangunan Palembang modern.

Ikatan lahir dan batin antara Hadramaut dan Palembang, adalah buah sejarah panjang yang digelar para habib, ulama, atau wali, asal Hadramaut di kota Palembang, berabad-abad yang silam. Kehadiran para auliya membuat warna Islam di kota Palembang kian semarak, dan memperkuat perjuangan para wali songo dan ulama-ulama lain, untuk mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan kedamaian.

Semakin siang, suasana ziarah kubro kian semarak. Iring-iringan para penziarah terus bergerak. Kali ini, tujuan mereka mengarah ke areal Pemakaman Kambang Koci, tempat dimakamnya puluhan wali dan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam.

Meski areal pemakamannya lebih sederhana, namun para penziarah merasa yakin, di tempat inilah jasad para ulama besar asal Hadramaut dimakamkan. Para habaib masih menyimpan nama-nama besar dan kemuliaan yang ditorehkan oleh para wali ini. Sejarah mencatat, para ulama yang kini namanya tengah diagungkan ini berjuang dan bergerak ke seluruh pelosok Sumatera Selatan, untuk menyiarkan Islam.

Dan, perjuangan dan kemuliaan mereka itulah, yang kini terus disimpan oleh keturunannya yang bermukim di kota Palembang dan kota-kota lain. Sehingga, mereka pun seakan menjadikan palembang seperti Hadramaut, kota penuh sejarah, makam para waliyullah, dan juga tempat kelahiran para leluhurnya.

Sehingga, mereka merasa wajib untuk terus berdatangan setiap menjelang bulan Ramadhan, meski sekedar menemui makam dan mendoakan arwah auliya. Yakni, orang-orang terpilih, yang mampu melindungi islam dan umatnya, serta senantiasa mencintai dan dicintai oleh Yang Maha Memiliki Cinta.

Palembang sebagai Hadramaut Kedua, bukan hanya tempat peristirahatan terakhir para wali dan keturunan ahlul bait. Tapi, juga tempat berseminya nuansa cinta, kaum muslim terhadap Rasul pilihannya dan para pejuang-pejuang Islam.


By : syaiful halim

14 June 2015

Ziarah Kubro 2015 / 1437 H


Tentang Ziarah Kubra di Palembang

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -------
Tiap tahun menjelang Bulan Suci Ramadhan, Kota Palembang dibanjiri ulama, habaib dan kyai dari penjuru tanah air dan luar negeri yang menyempatkan diri menghadiri Haul dan Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam.

Suasana berbeda seringkali terjadi pada hari-hari terakhir Bulan Sya’ban. Hari-hari tersebut dimanfaatkan oleh kaum muslimin untuk berziarah, baik menziarahi makam anggota keluarga yang telah mendahului, maupun ke makam ulama dan para wali Allah. Suasana tersebut juga dirasakan di Kota Palembang, terlebih dengan digelarnya Ziarah Kubra Ulama dan Auliya Palembang Darussalam yang biasanya diadakan seminggu menjelang masuknya Bulan Ramadhan.

Di kota ini juga akan digelar Haul seorang Waliyullah besar yang menjadi penghulu sebagian nasab keturunan Alawiyyin. Beliau adalah Al-Faqihil Muqaddam Tsani Al-Habib Abdurrahman As-Seggaf bin Muhammad Maula Ad-Dawilaih R.A. yang merupakan salah seorang tokoh para wali dan ulama dari Ahlil Bait Alawiyyin. Beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman Zanbal di kota Tarim (Hadramaut – Yaman) pada tahun 819 H.

Acara Ziarah Kubra merupakan salah satu tradisi turun temurun, terutama bagi kaum alawiyyin yang bermukim di Kota Palembang maupun masyarakat pencinta ulama dan wali-wali Allah. Acara ini juga melibatkan keluarga Kesultanan Palembang Darussalam mengingat eratnya hubungan kekeluargaan kaum alawiyyin dengan para sultan di Kesultanan Palembang Darussalam.

Sebagai acara pertama dari rangkaian ziarah kubra ini adalah Haul Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Shahab dan Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Hamid. Al-Habib Abdullah bin Idrus merupakan salah satu tokoh kebanggaan masya-rakat Palembang, semasa hidupnya ia mempunyai kedudukan yang tinggi disebabkan ilmu dan akhlaknya yang mulia, itu terjadi dimanapun ia berada, bahkan di Hadhramaut sendiri pun ia mendapatkan penghormatan yang lebih dari para habib disana.

Didalam kitab Tuhfatu Al-Ahbab fi Manaqib Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Shahab disebutkan bahwa setiap kali Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun datang ke kota Tarim, beliau selalu berusaha untuk memuliakan dan mengutamakan Habib Abdullah untuk menjadi imam shalat baik di majlis-majlis umum maupun khusus. Beliau berkata “Aku melihat semua hati manusia mencintainya dan tidak ada satupun yang memusuhinya”. Habib Abdullah bin Idrus adalah ayah dari Habib Alwi Qolbu Tarim, Hadramaut. Makamnya yang terletak di Gubah Duku yang merupakan tanah wakaf Habib Syech bin Ahmad bin Shahab ini sering diziarahi oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar kota Palembang, bahkan tamu-tamu dari Pulau Jawa dan Hadramaut.

Sedangkan Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Bin Hamid merupakan seorang habib yang mulia, ia banyak menimba ilmu pengetahuan dari para habib baik di Palembang maupun dari Hadramaut, diantaranya Habib Abdullah bin Idrus bin Shahab. Adapun tokoh habaib yang banyak menimba ilmu pengetahuan darinya antara lain putranya sendiri Habib Ahmad, Habib Ahmad bin Zein bin Shahab dan Habib Muhammad bin Hamid bin Syech Abubakar.

Acara yang diadakan di perkampungan Alawiyyin Sungai Bayas Kelurahan Kuto Batu Palembang ini selain dihadiri oleh para ustadz dan sesepuh habaib kota Palembang, juga dimeriahkan dengan kedatangan beberapa ulama dan habaib dari luar kota Palembang bahkan dari luar negeri, seperti dari Kota Mekkah, Madinah, Yaman, Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam. Haul berakhir pada pukul 09.00 dan dilanjutkan dengan ziarah bersama.

Perjalanan dari tempat haul ke tempat-tempat pemakaman dilakukan dengan berjalan kaki dan disemarakkan tetabuhan hajir marawis dan untaian qasidah, juga dengan membawa umbul-umbul yang bertuliskan kalimat tauhid. Antusias yang begitu besar terlihat dari para jemaah dalam mengikuti ziarah kubra ini meskipun perjalanan yang ditempuh cukup jauh, selain mengharapkan berkah, juga dikarenakan turut sertanya para habib dalam perjalanan tersebut.

Rangkaian ziarah dimulai di Pemakaman Al-‘Arif Billah Al-Habib Pangeran Syarif Ali Syekh Abubakar yang berlokasi di Kelurahan 5 Ilir Boom Baru. Al-Habib Pangeran Syarif Ali, merupakan seorang waliyullah yang ‘alim dan berwibawa, sehingga ia disegani oleh banyak orang. Syarif Ali dilahirkan di Palembang pada tahun 1795 M dari seorang ibu yang bernama Syarifah Nur binti Ibrahim bin Zain bin Yahya. Adapun ayahnya Habib Abubakar dilahirkan di kota Inat, Hadramaut. Habib Abubakar datang ke kota Palembang bersama ayahnya yaitu Habib Sholeh bin Ali sekitar tahun 1755 diakhir masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I. Setelah itu Habib Sholeh kembali ke Hadramaut dan meninggal di kota kelahirannya Inat.

Sebagaimana lazimnya para wali, disamping mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, ia juga banyak menimba ilmu agama dari para habib baik dari kota Palembang sendiri maupun dari Hadhramaut. Selain terdidik dalam lingkungan keagamaan, pada usia dewasanya, Syarif Ali giat melakukan pelayaran niaga, terutama ke Kalimantan dan Jawa. Pelayaran dengan kapal kayu sederhana (Pinisi), mengarungi lautan luas selama beberapa waktu dengan segala macam rintangan, membentuk watak dan kepribadian yang kuat dalam jiwanya sehingga ia dikenal sebagai seorang yang gagah berani, teguh pendirian, tidak banyak berbicara dan bersikap tegas dalam menangani persoalan.

Dari pergaulan yang luas dalam hubungannya dengan para pembesar kesultanan, Syarif Ali memperoleh pengalaman diplomatik. Karena itu ia tampil sebagai seorang yang berwibawa dan mendapat kepercayaan Sultan. Pernah suatu ketika Syarif Ali melakukan misi khusus ke Kalimantan untuk keperluan Sultan Husin Dhiauddin dan misi tersebut berhasil dengan baik. Karena ini Sultan menikahkan salah seorang putrinya yang bernama Laila dan dari perkawinan inilah Syarif Ali diberi gelar Pangeran. Bahkan beliau meskipun dalam usia yang relatif muda sudah dipercaya untuk menduduki jabatan bendahara kesultanan. Pangeran Syarif Ali wafat pada tanggal 27 Muharram 1295 H / 1877 M.

Selain makam Habib Pangeran Syarif Ali dan keluarganya, disini juga dimakamkan Habib Umar bin Alwi bin Zain bin Syahab yang merupakan ipar dari Pangeran Syarif Ali, beliau dimakamkan tepat disebelah makam Pangeran Syarif Ali. Habib Umar adalah seorang ulama yang banyak menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok terpencil, beberapa suku adat di pedalaman Palembang masuk Islam berkat beliau, terutama di pesisir sungai Musi, antara lain daerah Pegayut, Pemulutan, Muara Batun, Lingkis, Ulak Temago, Suko Darmo, bahkan sampai saat ini banyak keturunannya tinggal di daerah Bungin Kiaji yang lebih dikenal dengan dengan Desa Pegayut.

Dari Pemakaman Pangeran Syarif Ali, rombongan ziarah melanjutkan perjalanan menuju ke Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep yang terletak di Kelurahan 3 Ilir Boom Baru Palembang. Pemakaman ini dibangun pada tahun 1728 M oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758 M), yang merupakan seorang pemimpin yang arif dan adil, bahkan ia adalah seorang ulama yang hafal Al-Qur’an. Didalam pemerintahannya, Sultan Mahmud Badaruddin I banyak mengadakan musyawarah terutama dengan para habib, iapun memiliki guru-guru agama dari kalangan habaib. Bahkan hampir semua putrinya dinikahkan dengan habaib.

Adapun Imam Kubur - istilah untuk penasehat agama kesultanan yang biasanya dimakamkan bersebelahan dengan para sultan - dari Sultan Mahmud Badaruddin I yaitu Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Al-Idrus. Habaib lainnya yang dimakamkan di Pemakaman Kawah Tengkurep ini antara lain Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Husin Al-Idrus (Maula Taqooh) yang merupakan Imam Kubur Sultan Ahmad Najamuddin (1758-1776 M), Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Haddad (Datuk Murni) yang merupakan Imam Kubur Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803 M), Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Yusuf Al-Angkawi, Al-‘Arif Billah Al-Habib Agil bin Alwi Al-Madihij (Penghulu Al-Madihij di Palembang) serta Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad dan Habib Ahmad bin Idrus Al-Habsyi, yang merupakan ayah dan kakek dari Habib Nuh Al-Habsyi (Keramat Tanjung Pagar Singapura).

Selain itu disini juga dimakamkan seorang waliyah bernama Hababah Sidah binti Abdullah bin Agil Al-Madihij. Dikisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan Rasulullah SAW secara yaqozoh (dalam keadaan sadar) dengan iringan tetabuhan rebana dan aroma harum wewangian, sehingga seluruh perkampungan disekitar rumahnya pun dapat mendengar suara tabuhan rebana tersebut. Hingga kini rumah tempat tinggalnya masih ada dan terawat dengan baik.

Setelah melakukan perjalanan ke kedua pemakaman tersebut, rute ziarah pun berakhir di Pemakaman Habaib Kambang Koci yang terletak bersebelahan dengan Pemakaman Kawah Tengkurep. Konon, pada tahun 1151 H / 1735 M, Sultan Mahmud Badaruddin I mewakafkan sebidang tanah yang cukup luas untuk pemakaman anak cucu serta menantunya. Tanah pemakaman tersebut dinamakan Kambang Koci yang berasal dari kata-kata kambang (kolam) dan sekoci (perahu), karena jauh sebelumnya tempat itu merupakan tempat pencucian perahu.

Dalam sejarahnya, areal pemakaman ini telah beberapa kali berusaha direbut oleh pihak-pihak yang merasa berkepentingan. Bermula pada masa pendudukan Belanda sekitar tahun 1913 M, melihat posisinya yang begitu strategis terletak di tepi Sungai Musi, di kawasan ini dibangun Pelabuhan Boom Baru, dan berselang 11 tahun kemudian, Pihak Belanda berusaha mengambil areal pemakaman ini, namun pihak ahli waris mempertahankannya sehingga sampailah pada suatu perundingan di Batavia (sekarang Jakarta) dengan dimenangkan oleh pihak ahli waris. Demikian pula pada masa penjajahan Jepang, upaya-upaya perebutan areal pemakaman tersebut masih terjadi namun tetap tidak berhasil.

Pada masa kemerdekaan, tepatnya 16 Nopember 1974, Pemakaman Kambang Koci ini diresmikan menjadi pemakaman anak, menantu, serta cucu-cucu Sultan Mahmud Badaruddin, yang dihadiri oleh Bapak R.H.A. Arifai Tjek Yan, Walikota Palembang kala itu serta pihak dari Pelabuhan Boom Baru. Berselang setahun kemudian, kembali terjadi persengketaan dengan pihak pelabuhan sehingga terjadi pembagian luas areal pemakaman ini dari 5000 meter persegi dibagi 2/3 untuk pihak pelabuhan dan 1/3 untuk ahli waris, sehingga saat ini keseluruhan luas area Kambang Koci ini tinggal 1400 meter persegi.

Upaya-upaya pihak pelabuhan terus dilakukan untuk mendapatkan sisa areal pemakaman yang ada. Pada tahun 1999 pihak ahli waris yang diwakili Ketua Yayasan Kambang Koci, Habib Muhammad Ahmad Shahab dan pihak pelabuhan melakukan pertemuan di Kantor Gubernur Sumsel yang menghasilkan keputusan bahwa pihak pelabuhan harus memasang kembali pagar yang telah mereka robohkan sebelumnya. Dan dipenuhilah keputusan tersebut oleh pihak pelabuhan dengan membangun pagar kokoh yang mengelilingi keseluruhan sisa areal pemakaman Kambang Koci yang terdiri dari lebih kurang 300 makam.

Saat ini, hampir keseluruhan keturunan Alawiyyin yang tinggal di Palembang memiliki silsilah bersambung dengan para habib yang dimakamkan di pemakaman ini, paling tidak silsilah dari sebelah ibu.

Beberapa penghulu habaib yang dimakamkan disini antara lain:
- Al-‘Arif Billah Al-Habib Syech bin Ahmad bin Syahab yang merupakan ulama besar pada masanya dan dikarenakan kedekatannya dengan Sultan Mahmud Badaruddin I, ia dianugerahi tanah yang sangat luas oleh Sultan dari daerah Kuto sampai Kenten, yang antara lain ia wakafkan sebagai tanah pemakaman kaum alawiyyin Palembang serta tanah wakaf masjid Daarul Muttaqien. 

-Al-‘Arif Billah Al-Habib Ibrahim bin Zein bin Yahya (w.1790 M), merupakan seorang ulama besar yang memahami banyak masalah Ilmu Fiqh, beliau adalah menantu Sultan Mahmud Badaruddin I yang beristerikan Raden Ayu Aisyah binti Sultan Mahmud Badaruddin I. 

-Al-‘Arif Billah Al-Habib Alwi bin Ahmad Al-Kaaf yang dikenal sebagai seorang wali Quthb, diceritakan bahwa pernah suatu kali saat ayahnya melakukan pelayaran ke Singapura dengan sebuah kapal. Di dalam perjalanan, kapal tersebut mengalami kebocoran pada lambungnya, ketika akan diperbaiki ternyata kapal tersebut telah ditambal dari luar kapal dan setelah diperiksa ternyata didapati sebuah sandal yang menutup rapat kebocoran tersebut. Setelah sandal tersebut diambil dan dihadapkan kepada Habib Ahmad, maka beliau mengenali sandal tersebut adalah milik anaknya, Habib Alwi. Setibanya kembali di Palembang didapati Habib Alwi tengah menunggu ayahnya dengan mengenakan sebelah sandal seraya meminta sandal yang satunya lagi dari ayahnya yang digunakan untuk menambal kapal tersebut. Masih banyak lagi keramat dari Habib Alwi ini, bahkan tatkala ia wafat, maka datanglah surat dari Kampung Al-Hajrain, Hadhramaut (setelah 6 bulan perjalanan laut dari Hadhramaut ke Palembang) yang isinya menanyakan siapakah wali di Palembang yang wafat sehingga di Kota Tarim, Hadhramaut terjadi gempa.

Selain itu, di pemakaman ini juga dimakamkan Habib Abdullah bin Salim Al-Kaaf yang merupakan seorang ulama besar sekaligus pengusaha yang sukses. Beliaulah yang membangun Masjid Sungai Lumpur pada tahun 1287 H yang berlokasi di 11 Ulu Palembang, dan Habib Abdullah bin Ali Al-Kaaf yang merupakan seorang wali yang mastur (tersembunyi) . Adapun keturunannya banyak yang menjadi orang sholeh dan ulama besar yang tersebar di Tegal, Jakarta, Jeddah, dan Hadhramaut. Antara lain Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaaf, Jeddah dan Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaaf, Jakarta dengan anak-anaknya yang menjadi muballighin.

Banyaknya para wali yang dimakamkan disini membuat para peziarah selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke pemakaman ini, baik dari kalangan awam maupun tokoh habaib. Tercatat sebagian kecil diantaranya, yaitu Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor (Bondowoso), Habib Muhammad bin Husin Al-Idrus (Surabaya), Habib Salim bin Ahmad bin Jindan (Jakarta), Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang), Habib Ali bin Husin Al-Atthos (Bungur), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf (Jeddah), Habib Umar bin Hafizh BSA dan Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri (Hadhramaut- Yaman).

Pernah suatu ketika dalam ziarahnya, Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul) diberitahu bahwasanya pemakaman ini akan dibongkar, mendengar hal itu ia hening sesaat dan berkata bahwa pembongkaran tidak akan terjadi, dikarenakan Allah SWT yang akan selalu menjaganya, dan hal ini benar-benar terbukti. Sebagai contoh tatkala ada usaha untuk memindahkan jenazah dari pemakaman ini ke pemakaman lain dalam usaha mengambil alih areal pemakaman pada tanggal 19 Desember 1997, setelah peti-peti jenazah yang berjumlah lebih kurang 104 buah (dihitung berdasarkan jumlah nisan yang nampak) disiapkan di Kambang Koci untuk memindahkan makam yang ada, didapatlah kabar mengenai jatuhnya pesawat Boeing 737-300 Silk Air dari Singapura di Muara Makati, Perairan Sungsang, Sumatera Selatan yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Dan yang mengherankan jumlah korban tewas yang dipastikan sebanyak peti yang disiapkan, yang terdiri dari 104 penumpang termasuk 7 awak. Mengingat keperluan yang lebih mendesak akhirnya peti-peti yang telah disiapkan tersebut tidak jadi digunakan, dan lahan pekuburan yang telah disediakan bagi jenazah Kambang Koci diisi dengan jenazah korban tewas kecelakaan pesawat tersebut.

Mengingat banyaknya para wali yang dimakamkan di Pemakaman Kambang Koci serta di beberapa pemakaman lainnya di kota Palembang, maka banyak dari pemuka habaib dari Hadhramaut menyebut Kambang Koci sebagai Zanbal (pemakaman para wali di Kota Tarim, Hadhramaut)- nya Palembang. Dan Kota Palembang sendiri sebagai Hadramaut Tsani alias Hadramaut Kedua.

Insya Allah, Ziarah Kubra tahun ini akan dihadiri oleh banyak tamu dari luar kota dan luar negeri, antara lain Ulama Pattani (Thailand),Habib Hasan Al-'Atthas (Singapura), Syed Ibrahim bin Ahmad bin Yahya (Pegawai Khas Menteri Besar Pahang, Malaysia) beserta rombongan, Syed Agil bin Yahya dan rombongan tahfizul Quran Malaysia,Jemaah Jenderami (Malaysia), tamu dari Brunei Darussalam.Serta para ulama dan habaib dari Pulau Jawa,antara lain Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aidarus (Malang), Habib Sholeh
Al-Habsyi (Jakarta), dll.

Sumber :
o Kiswah Habaib, Mengungkap Figur Tokoh-Tokoh Sadah Ba’alawi Palembang, Edisi I, 2001.
o Ziarah Kubra & Sekilas Mengenai Ulama dan Auliya Palembang Darussalam, Edisi II, S. Abdullah Syukri Shahab, 2004.
o Pangeran Syarif Ali Asal-Usul dan Keturunannya, S. Ahmad bin Hamid BSA, 2004.

Penulis : Abubakar Rafiq BSA. (Majelis rasullulah)

18 August 2009

Ziarah Kubro 1430 H











Seperti inilah salah satu tradisi yang ada di kota ini sebelum datangnya bulan suci romadhon di adakannya haul Akbar ini di mana, haul yang di hadiri oleh banyak jemaah baik dari dalam dan luar negeri dan untuk tahun ini ketua FPI Habib Riziq dan juga sultan iskadar Badarudin juga berkenan hadir mengikuti haul.

27 August 2008

Hajir Marawis





Marawis
Marawis adalah salah satu jenis "band tepuk" dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan adapt lokal dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.


Sejarah
kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari Yaman Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan “hajir” (gendang besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, “marawis” (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm, “rumbuk” (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecek. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu

Terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Nada zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.

Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.

Jumlah Pemain
Musik ini dimainkan oleh minimal sepuluh orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu. Semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah--kakek, cucu, dan keponakan.sekarang hampir setiap wilayah terdapat marawis.

Sumber : Wiki

26 August 2008

Panji & Umbul-umbul





Panji-panji & umbul-umbul ini mengiringi dari rombongan ziarah kubro dimana panji-panji dan umbul-umbul ini bertuliskan asma allah dan kalimat suci lainnya.

Ziarah Ke Kambang Koci





Terakhir ziarah menuju pemakaman auliya di kambang koci di tengah terminal peti kemas Palembang, di sini juga ada pembacaan Surah yassin, tahlil dan doa-doa yang di akhiri dengan makan siang bersama.

Ke Pemakaman Kawah Tengkurep







Setelah dari Pemakaman Pangeran Syarif Ali rombongan bergerak menuju ke pemakaman kawah tengkurep sama seperti di Pemakaman Pangeran Syarif Ali di sini juga di adakan pembacaan surah yassin dan doa-doa, dan selama perjalanan tetabuhan marawis terus menerus di lakukan yang di iringi dengan puji-pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW.

Ke Pemakaman Pangeran Syarif Ali







Tujuan dari ziarah pertama adalah Pemakaman Pangeran Syarif Ali yang terletak di wilayah 5 ilir, di sini di lakukan pembacaan surah Yassin dan doa -doa.