CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

11 June 2012

Golden Wing, Band Palembang Tempo Dulu

Golden Wing Personil  : Carel Simon (violin, vocals), Peter Kenn (guitar, 1969-76), Sandi Prabu (bass, flute, 1969-76), Soleh (drums, vocals, 1969-72), Freddy (piano, vocals, 1969-72), Adhimantra (piano, vocals, 1972-?), Victor Ekki (drums, vocals, 1972-?) Foto : dennysakrie63.wordpress.com

Di era tahun 1960-an tidak banyak dikenal kelompok musik di Indonesia yang merekam lagu-lagu mereka sendiri dan me-release album-nya ke tengah khalayak. Sebagian besar kelompok musik pada waktu itu hanya menjadi kelompok musik pengiring para penyanyi tunggal, pada masa ini dikenal nama-nama kelompok musik seperti Zaenal Combo, Arulan, Empat Nada, Panca Nada, Eka Sapta dan sebagainya. Masa ini memang masa keemasan para penyanyi tunggal. Memang ada sedikit perkecualian, yakni pada kelompok musik Koes Bersaudara dan Eka Sapta (yang merekam lagu-lagu tanpa syair/instrumentalia). 

 Album Golden Wing Mutiara Palembang (1974) Foto : http://rateyourmusic.com/

Pada masa itu, di kota Palembang tidak banyak kelompok musik yang eksis. Maklum, mendirikan band bukan perkara mudah, untuk ini diperlukan biaya yang mahal — khususnya untuk membeli peralatan musik. Apalagi di Palembang tidak ada tempat untuk menyewa peralatan band, seperti yang dapat ditemui di kota-kota besar di pulau Jawa. Pada pertengahan tahun 1960-an, di Palembang dikenal tiga kelompok musik yang bagus dan memiliki peralatan yang cukup mewah untuk ukuran waktu itu, yakni Kerangga Combo,  Octarina dan Rheniara. Ketiga kelompok musik ini sudah menggunakan peralatan musik dan sound system merk Fender dan Hofner.

Memasuki paruh kedua tahun 1960-an mulai bermunculan kelompok-kelompok musik elit pesaing Kerangga Combo, Octarina dan Rheniara. Perusahaan pelayaran PT. Pelni mendirikan kelompok musik yang diberi nama Nada Samudra dan Pertamina mendirikan kelompok musik yang bernama Kuda Laut. Karena dicukongi oleh dua perusahaan besar, tidak heran apabila kedua kelompok musik ini memiliki peralatan yang mewah. Tapi sama halnya di tempat-tempat lain, kelompok-kelompok musik Palembang ini hanya eksis sebagai band pengiring para penyanyi solo. Mereka tidak pernah merekam dan merilis album sendiri, meskipun mereka juga punya stock lagu-lagu ciptaan sendiri.

Album Senyum Harapan (1975)  foto : madrotter-treasure-hunt
Di bawah bayang-bayang kelompok-kelompok musik elit di atas, di Palembang pada tahun 1960-an juga tumbuh banyak kelompok musik lapis kedua dan ketiga. Kelompok-kelompok musik kelas ini, kebanyakan menggunakan peralatan musik yang lebih rendah mutunya, yakni peralatan musik buatan dalam negeri atau paling banter buatan Jepang. Salah satu kelompok musik yang kemudian menjadi embryo kelompok musik besar di Palembang adalah kelompok musik Black Stones yang bermarkas di Lorong Batu Item, jalan Kapten A. Rivai Palembang. Black Stones ini di awaki antara lain oleh : Fit Kien (lead guitar); Bakar (Bass Guitar); Karel Cassidy (rhythm guitar), dan Ismet Soewondo (lead vocal).

Pada waktu yang hampir bersamaan, sekitar tahun 1968, Batalyon Zipur (Zeni Tempur) Palembang juga menyediakan peralatan band buatan dalam negeri dan merekrut beberapa pemain Black Stones untuk mendirikan kelompok musik yang diberi nama Band Pionir. Pemain band Pionir ini terdiri antara lain : Fit Kien (Gitar Utama); Bakar (gitar bass); Karel Cassidy (gitar pengiring dan vokal); Musiardanis/Ferdinand Tuyu (drums), dan Ismet Soewondo (lead vocal). Selain dari menyediakan peralatan musik, Yon Zipur Palembang (yang waktu itu dikomandani oleh Mayor Rustandi) juga menyediakan peralatan radio siaran, yang mengudara dengan nama Suara Pramuka.

Pada akhir tahun 1970 kelompok band Pionir ini bubar karena sebagian besar personilnya memilih untuk melanjutkan pendidikan, misalnya : Musiardanis pindah ke Yogya; Ferdinand Tuyu pindah ke Jakarta, dan Ismet Soewondo lebih mengutamakan kuliahnya di Fakultas Tehnik Unsri. Ketiga anggota lainnya (Fit Kien, Karel dan Bakar) tetap bertahan di Band Black Stones. Namun hal ini tidak lama, sebuah pabrik kecap di Palembang, yakni pabrik kecap Tong Hong, membeli peralatan musik dan merekrut Fit Kien dan Karel Cassidy. Era kelompok musik Golden Wing dimulai dari saat ini.
Sumber : Youtube

Band Golden Wing Palembang generasi pertama ini masih berbau band pengiring, era rekaman lagu kelompok-kelompok musik belum lagi dimulai. Golden Wing generasi pertama diawaki oleh pemain-pemain antara lain : Fit Kien (kemudian berganti nama menjadi Piter Kenn) pada lead guitar; Kun Lung (Bass Guitar); Tarno (drums), dan Karel Cassidy (kemudian berganti nama menjadi Karel Simon) bertugas sebagai pemain gitar pengiring dan penyanyi utama.

Sekitar tahun 1972 atau 1973 personil Golden Wing mengalami perombakan, beberapa pemain diganti dan awak band ini menjadi terdiri dari : Piter Kenn; Kun Lung (ganti nama menjadi Iksan); Carel Simon; Dedi Mantra (keyboard), dan Victor Eky (drums). Pada tahun 1973, kelompok-kelompok musik mulai merekam lagu-lagu mereka sendiri. Kita tentu ingat, mulai tahun ini bermunculan band-band tenar dengan lagu-lagu mereka sendiri, seperti : Rollies; Rhapsodia; Aka; Mercy’s; Panbers; Band Bentoel; Favourites Group, dan sebagainya.

Pada tahun 1974, Golden Wing Palembang meluncurkan album pertama mereka yang diberi label Mutiara Palembang. Beberapa lagu dalam album ini menjadi hit, antara lain lagu : Mutiara Palembang; Di Mana; Give Me, dan Hanny. Pada tahun 1975, Golden Wing meluncurkan sebuah album yang berisikan lagu-lagu pop melayu. Dalam album ini mulai dinyanyikan sebuah lagu pop daerah Sumsel yang diracik secara apik berjudul Sebambangan. Pada album ini, awak Golden Wing sudah dengan formasi baru, yakni : Piter Kenn pada gitar utama; Areng Widodo (berasal dari Yogya) pada bass; Carel Simon/lead vocal; Dedi Mantra (keyboard), dan seorang pemain drum baru. Album pop melayu ini boleh dikatakan merupakan album terakhir Golden Wing, karena setelah itu Carel Simon bersama-sama dengan isterinya, Hera Sofyan, dan S. Tarno mendirikan kelompok musik No Wing, yang mengkhususkan diri merekam lagu-lagu pop daerah Sumbagsel.

Download lagu Golden Wing :  palembang di waktu malam. 
                                               Dimana
                                               Lain-Lain

Sumber tulisan : H. Musiardanis di palembangkito.multiply.com

10 June 2012

Bekang DAM II/ Sriwijaya Palembang

Gedung Bekang DAM II/ Sriwijaya yang dulunya merupakan Jetty Sekanak


Seiring kejatuhan Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda membangun pelabuhan yang dinamakan Boom Jetty di  depan Benteng Kuto Besak (sekarang Perbekalan dan Angkutan [Bek Ang] Kodam II Sriwijaya). 

Sebelumnya, sudah ada  pelabuhan di kawasan 35 Ilir. Tahun 1914, pelabuhan ini dipindahkan ke muara Sungai Rendang (kini dikenal sebagai Gudang Garam). Dengan alasan pelabuhan tidak mampu lagi menampung kapal yang keluar masuk.

Dulu pada saat NV Jacobson van den Berg masih beroperasi di Palembang kawasan ini merupakan tempat pergudangan dalam penyimpanan bahan dagangan baik itu, kopi, katun (Kapas), rotan, ataupun karet. tetapi sejak di lakukan nasionalisasi pada tahun 1957-1958 maka baru kawasan ini di jadikan  di jadikan fasilitas pemerintahaan.

Sumber tulisanm : di rangkum dari berbagai sumber.

---------------------------------------------

Sejarah Bekangdam II/Sriwijaya

Sekilas tentang Sejarah pembentukan korps Bekang.

Cikal bakal pembentukkan korps Bekang diawali pada tanggal 1 November 1945 dengan dibentuknya Badan pengumpul Markas tertinggi Tentara Keamanan Rakyat atau disingkat BPMT-TKR dengan tugas membekali Tentara yang sedang bertugas dilapangan.

Pada saat yang bersamaan pula untuk mendukung mobilitas Tentara dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat Kereta Api atau disebut TKR- KA.

Dalam rentang kurang lebih 4 ( Empat ) tahun kedua Organisasi tersebut digabung menjadi satu dibawah naungan Dinas Perlengkapan dan Angkutan Tentara atau DPAT yang berada dalam Staf Quarter Master pada tanggal 27 Desember 1947. Tanggal ini pernah diabadikan sebagai hari bakti Pembekalan dan Angkutan selama beberapa tahun sebelum dibentuk Organisasi baru korps Pembekalan Angkutan.

Pada tanggal 1 Desember 1951 Dinas Pembekalan dan Angkutan Tentara dipecah lagi menjadi dua organisasi masing-masing bernama Djawatan Intendan Angkatan Darat ( DIAD ) dan Dinas Angkutan Angkatan Darat ( DAAD ). Kemudian DIAD dan DAAD berubah menjadi Jawatan Intendan Angkatan Darat dan Jawatan Angkutan Angkatan Darat sampai tahun 1984.

Perkembangan selanjutnya ,berdasarkan Perintah operasi Kasad  nomor I, tanggal 22 September 1984 kedua Organisasi tersebut dipersiapkan  untuk menghadapi Reorganisasi/Likwidasi,menjadi Direktorat Pembekalan Dan  Angkutan Angkatan Darat (DITBEKANGAD). Yang berfungsi secara administratif pada tanggal 18 September 1985. Sampai akhirnya diresmikan Korps Pembekalan Angkutan pada tanggal 24 Maret 2004 dengan Surat Telegram KASAD  Nomor ST / 271 / 2004 tanggal 23 Maret 2004 tentang Peresmian Korps PEMBEKALAN ANGKUTAN ( CBA ) TNI AD. Tanggal 24 Maret sekarang diabadikan sebagai hari Jadi Bekangad.

Sumber tulisan sejarah bekangdam II/Sriwijaya : hwww.platmerah.net/demo/bekangdam2swj

Palembang, Sekanak, 0612, Dodi NP

09 June 2012

Kantor DPRD Kota Palembang Terkini

Kantor DPRD Kota Palembamg di Jalan Gub A Bastari Jakabaring Palembang
DPRD Kota Palembang berlokasi di jalan sekanak No. 02 Palembang, didirikan oleh Bapak H. AMIR MACHMUD pada tanggal 06 April 1977. DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah yang kedudukannya sebagai Lembaga Pemerintahan Daerah. Anggota DPRD berjumlah 45 Orang diresmikan dengan keputusan Gubernur atas nama Presiden RI, Berdasarkan usul Walikota sesuai Laporan KPU. 

Sejarah ini ada hubungannya dengan penetapan hari jadi Kota Palembang pada tanggal 17 Juli 605 Masehi. Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya sudah ada sejak abad Ke–V dan kemudian dikalakan oleh Kerajaan Majapahit pada abad Ke-X. Kerjaan Sriwijaya diperintahkan oleh raja-raja keturunan syailendra yang menganun agama budha Mahayana, Pusat Pusat Pemerintahan Dipinggir Sungai Musi yaitu Bukit Siguntang.

Pada abad Ke-XVI muncul kerajaan baru yang bernama kesultanan Palembang yang dikirim oleh Kyai Ing Suro, seorang putra priyayi Kerajaan Islam Demak yang bernama Pangeran Sido ing Lautan. Pada tahun 1906 oleh Belanda Kesultanan dijadikan daerah Haminte yaitu dihapuskan daerah Kesultanan Palembang. Hal ini berlangsung sampai terjadinya perang kemerdekaan pada tanggal 22 Agustus 1945.

Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kotamadya Tingkat II Palembang ini dikenal dengan “Gedung Ledeng” atau disebut juga dengan “Menara Air” yang berada dijalan sekanak, yang berdiri pada zaman Pemerintahan Belanda. Pada jaman Jepang di tahun 1942, balai kota tidak ditepati tapi dijadikan Kantor Presiden. Tempet itu terus dimanfaatkan sebagai balai kota sampai tahun 1956, sewaktu ulang tahun Ke-50 Kota Praja Palembang kembali memerintah ke Balai Kota yang aslinya “Gedung Manara Air”

Sumber tulisan : sekwan.palembang.go.id/

Palembang, Jakabaring, 0612, Dodi NP

08 June 2012

Sambal Lingkung Palembang

Sambal Lingkung ; sambal tanpa rasa pedas

Coba tebak namanya sambal di Palembang tetapi tidak memiliki rasa pedas sambal apakah itu ?, jawabannya pasti sambal lingkung, perpaduan antara kelapa dan daging ikan merupakan olahan yang pas sebagai salah satu bahan yang tahan lama.

Tekstur parutan kelapa yang kuat dan perpaduan rasa ikan yang sudah bercampur dengan bumbu-bumbu lainya menjadikan sambal lingkung ini menjadi salah satu lauk pelengkap saat makan. Sambal lingkung ini bukan hanya ada di daerah Palembang saja tetapi di daerah Bangka Belitung, Lampung, Bengkulu, Jambi bahkan di sebagian daerah sumatera tengah

Di Palembang sendiri makanan ini sudah ada sejak zaman penjajah Belanda, sambal lingkung ini merupakan bentuk "pengawetan" terhadap makanan, karena pada zaman penjajahan untuk makanan sangat sulit di dapat, sehingga sambal lingkung menjadi salah satu alternatif lauk saat itu.

Di bawah ini merupakan resep cara membuat sambal lingkung yang di dapat saat browing di Google, bisa di praktekan.

-------------------------------------------------------------------------
Cara membuat Sambal Lingkung

BAHAN:
  • 150 gram daging ikan gabus
  • ½ butir kelapa parut
  • 200 ml santan
Haluskan
  • 7 buah cabai merah
  • 4 butir bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 1 sdt ketumbar
  • ½ sdt jinten

  • 2 batang serai, memarkan
  • 3 cm lengkuas
  • 2 lembar daun salam
  • 3 lembar daun jeruk
  • ½ sdt garam
CARA MEMBUAT:
  1. haluskan daging ikan gabus. Sisihkan.
  2. sangrai kelapa parut sampai kecokelatan,. Angkat, sisihkan.
  3. masak santan bersama bumbu halus, serai, lengkuas, daun salam, daun jeruk, dan garam. Masak sampai mendidih. Masukkan kelapa sangrai dan daging ikan gabus yang dihaluskan. Masak sampai santan kering. Angkat.
UNTUK 4-5 ORANG

Sumber Resep : kitabmasakan.com

Palembang, Kuto, 0612, Dodi NP