CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label Bioskop. Show all posts
Showing posts with label Bioskop. Show all posts

01 June 2019

Bioskop Oriental Palembang

Bioskop pertama yang ada di kota Palembang seperti yang dilansir dari berbagai sumber adalah Bioskop Flora pada tahun 1910, kemudian pada tahun 1920 berganti nama menjadi Bioskop Orintal, kemudian pada tahun 1956 berubah menjadi bioskop SAGA. Tahun Tidak diketahui
Foto : Bapak Rozali Ali Yasin 
Bisokop Oreintal tahun 1947-1950

Pada masa itu setiap film terbaru promosinya poster film diarak memakai gerobak sambil ditabuh semacam genderang drum band, untuk era tahun 1990-an promosi film sudah menggunakan mobil sambil menebarkan flyer fotocopy gambar film, walaupun sebagian masih menggunakan grobak dorong.

29 January 2017

Bisokop Orental 1947

Bioskop oriental / Saga di Jalan Merdeka sumber : indiegangers.nl

Bioskop oriental / Saga di Jalan Merdeka sumber : Facebook Rozali Ali Yasin

Lebih lengkap baca : Bioskop Oriental

15 January 2017

Bioskop Luxor Palembang

Pemutaran Film Seven Sweetheart's di bioskop Luxsor tahun 1946 (atau lebih di kenal bioskop intium/Mustika di era tahun 70-an) sumber foto : Indiegangers.nl
















Film Seven Sweethearts (1942)
Plot Summary

    Seven Sweethearts (1942) - Plot Summary Poster
  • Covering the tulip festival in Little Delft, Michigan, reporter Henry Taggart takes a room at an inn ran by an eccentric old Dutchman, Mr. Van Maaster and his seven daughters. The eldest, Regina, is spoiled and stage-struck while Billie, Victor, Albert, Cornelius, Peter and George work there as boys. Henry, momentarily attracted to Regina, realizes he is in love with Billie when he hears her sing. Billie, resists his attentions, believing him the property of Regina since it is a Van Maaster family tradition that no girls in the family can marry until the eldest has. Billie admits her love for Henry but Regina will not relent. The old man trails Regine to New York where she says she has eloped, and asks that Billie marry Henry. Six couples in wedding clothes stand at the altar in the Little Delft church; Billie and Henry and the five other sisters with their intended.
    - Written by Les Adams
Meliput festival tulip di Little Delft, Michigan, reporter Henry Taggart mengambil sebuah kamar di sebuah penginapan yang dikelola oleh seorang Belanda tua yang eksentrik, Tuan Van Maaster dan tujuh putrinya. Yang tertua, Regina, dimanjakan dan dipukul panggung sementara Billie, Victor, Albert, Cornelius, Peter dan George bekerja di sana sebagai anak laki-laki. Henry, sesaat tertarik pada Regina, menyadari bahwa dia jatuh cinta pada Billie ketika dia mendengarnya bernyanyi. Billie, menolak perhatiannya, percaya padanya properti Regina karena itu adalah tradisi keluarga Van Maaster bahwa tidak ada gadis dalam keluarga dapat menikah sampai yang tertua memiliki. Billie mengakui cintanya pada Henry tetapi Regina tidak mau menyerah. Pria tua itu mengikuti jejak Regine ke New York di mana dia mengatakan dia kawin lari, dan meminta Billie menikahi Henry. Enam pasangan berpakaian pernikahan berdiri di altar di gereja Little Delft; Billie dan Henry dan lima saudara perempuan lainnya dengan maksud mereka.

- Ditulis oleh Les Adams
Buka di Google Terjemahan

25 July 2012

Kawasan Internasional Plaza dan Sekitarnya

Bioskop Internasional yang sekarang menjadi Internasional Plaza, Apotik Kinol yang sudah menjadi Supermaket Marathon, Toko sepatu Bata juga tampak di antara jajaran bangunan ini sumber : Facebook

Foto yang satu ini di perkirakan pada tahun 1965 - 1970 an dimana lokasi yang di ambil adalah di jalan Jenderal Sudirman tampak diantara jajaran gedung tersebut antara lain :

Bioskop Internasional (sekarang menjadi Internasional Plaza), di bioskop ini dibagi kelas. Untuk paling depan didekat layar adalah kelas III, makin atas maka kelaspun makin tinggi, hingga yang kelas yang paling tinggi saat itu di Balkon. Di bioskop ini pernah diadakan  konser musik undergound THE PEELS yang di iringi oleh band asli Palembang “The Golden Wing’.

 Rumah Makan Kejora (Sekarang Martabak HAR). Uniknya  Di RM Kejora ini siapa yang makan di lantai atas, gulai dan nasinya “ditarik” menggunakan  bandul keatas, tidak di hidangkan dengan tangan seperti yang kita sering lihat di rumah makan padang saat ini, dan di atas sudah ada orang yang menunggu untuk mengambil gulai dan nasi tersebut, dan lucunya pernah kejadian bandul itu lepas sehingga nasi dan gulai jatuh berantakan. 

Toko Sepatu Bata dan Apotik Kinol (sekarang Supermarket Marathon). Apotik Kinol ini merupakan apotik yang cukup terkenal pada saat itu, di sebelahnya ada toko kain INDIA pindahan dari jalan TENGKURUK karena terkena pengusuran Jembatan MUSI, tetapi ada juga apotik lain yaitu yang berjarak 2 toko yang menghebokan saat itu yaitu Apotik “Perdani” yang di milik oleh  HAMID KEMANG Tokoh PKI SUMSEL, pada zaman itu banyak yang demo dengan melempar batu dan melakukan perusahakan terhadap apotik tersebut, sehingga  pihak KODAM lah yang melakukan penyitaan pada apotik tersebut.

Sumber  : dirangkum dari berbagai sumber

09 May 2012

Bioskop Rosida ( Rex ) Palembang

Bioskop Rosida/Rex di Jalan Sekanak yang sekarang tinggal kenangan ( Mei 2012 )
Pada tahun awal 90-an, masyarakat Indonesia masih sering mengadakan acara nonton bareng dengan menggunakan layar tancap yang biasanya di putar oleh Departemen Penerangan ataupun pihak swasta  (Perusahaan rokok ataupun lainnya), biasanya acara ini diadakan di daerah-daerah dengan penduduk yang mayoritas kurang mampu, film yang diputar pun kebanyakan film lokal atapun film yang sudah sangat sering di putar di layar tancap.Pada tahun tersebut pun perkembangan masyarakat yang menonton di bioskop pun masih terbilang minim. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai meninggalkan budaya layar tancap dan beralih ke layar digital.

Salah satu "Gedung layar tancap" adalah Bioskop Rosida di Jl Depaten Baru, Kelurahan 28 Ilir, Ilir Barat II, yang sudah ada sejak awal tahun 60-an tetapi sekarang ini hanya tinggal bangunan tua yang sudah lama tidak di gunakan lagi entah gedung ini dijadikan gudang atau penangkaran walet juga belum ada informasi yang pasti). 

Dulu bioskop masih banyak menggunakan nama-nama asing termasuk juga bioskop ini. Dengan fasilitas "Kelas" dari kelas terbaik sampai kelas III, yang menentukan tingkat kenyamanan kita duduk, kengan fasilitas kursi kayu yang dbalut dengan busa (pada awalnya menggunakan kursi rotan), cukup pas menjadi sarana rekreasi pada saat itu.

Penulis mempunya pengalaman sendiri saat nonton di bioskop ini di era  90 an dalam 1 kali pertunjukan bisa menonton 2 film, dengan duduk di kursi yang busa joknya sudah tidak "sempurna" lagi itupun di selling dengan garuk-garuk karena digigit "kepinding" ataupun tikus yang melintasi di kaki kita. 

Sekarang bioskop ini hanya tinggal kenangan karena kalah bersaing dengan stasiun TV yang semakin banyak dan juga serbuan film dalam bentuk "DVD/VCD" maka bioskop ini sendiri tidak bisa lagi untuk menutupi biaya operasionalnya sehingga memiliki nasib yang sama seperti bioskop yang ada di Palembang lainnya seperti : Bioskop Mawar, Bioskop kop Odeon (Kertapati), Bioskop Sanggar dan juga Bioskop Cineplex.

Palembang, Sekanak , 0512, Dodi NP

01 May 2012

Wajah International Plaza (IP) Tempo Doeloe

Bekas Bioskop Yang Disulap Jadi Mall Pertama di Metropolis Sumber : Sumeks Minggu
Gedung International Plaza (IP) di kawasan Jl Jendral Sudirman berdiri megah sejak Februari 1991. Namun, anak-anak muda asli Plembang mungkin tak banyak mengetahui, mall pertama di metropolis tersebut merupakan bekas sebuah bioskop bernama International. Apa pula yang melatarbelakangi para pemilik bioskop, terdiri dari berbagai etnis, menyulapnya menjadi sebuah mall?
----------------------------------------------------------------------------
Sejak berabad-abad lamanya, pasar 16 Ilir diyakini sudah menjadi pusat perdagangan. Mempertemukan para pedagang luar hingga lokal. Nah, usai kemerdekaan tahun 1945 lalu, pusat perdagangan tersebut diyakini terus berkembang ke jalan Jendral Sudirman.

Dari pasar 16 Ilir, hingga Sudirman terus dibangun pertokoan serta tempat hiburan. Salah satunya di kawasan simpang empat International Plaza (IP) saat ini. Ditempat ini dulunya ternyata terdapat sebuah bioskop. Namanya bioskop International Palembang. Bioskop dibawah naungan NV (semacam PT,red) dibangun sejak Februari 1952. Para pemilik saham atau ownernya terdiri dari berbagai etnis. HM Amin serta H Hasanuddin (wong Plembang,red), Said Abdurahman bin Alwi Assegaf (keturunan Arab,red) serta Tan Kak, Liau Lee dan Jap Sung Sing (keturunan Chinese,red). Nama bioskop International pun diyakininya dengan alasan perpaduan etnis para pemilik bioskop tersebut. 

“Zaman dulu, bisnis bioskop memang berkembang. Bisa dikatakan hiburan utama masyarakat,” ungkap M Nasir Amin, anak kelima almarhum HM Amin kepada Sumeks Minggu, ditemui dikediamanya, Jl KA Dahlan, Lrg Soak Bato No 2 Kelurahan Talang Semut Kecamatan Bukit Kecil Palembang, Kamis (6/10) lalu. 

Pada tahun 1950 an saja, seingat Nasir terdapat beberapa bioskop. Seperti bioskop Mahkota yang sekarang menjadi JM, Jl Letkol Iskandar. Kemudian bioskop Saga yang sekarang menjadi kantor Dinas Pendapatan (Dispenda)Palembang, Panca warna di kawasan Cinde yang menjadi eks bioskop Cineplex, Intium/Mustika yang sekarang menjadi balai Prajurit di kawasan Pasar Sekanak, bioskop Raya depan Majid Agung serta bioskop Rosida di pasar Sekanak. 

Hanya saja, dari beberapa bioskop tersebut, Amin menyatakan bioskop International merupakan bioskop terbesar. Karena daya tampungnya yang cukup besar. Hanya saja, akhir tahun 1980 an, para pengunjung bioskop secara global mengalami penurunan. Dampak keluarnya kaset video serta didominasinya film lokal serta luar negeri membuat penggelola bioskop kesulitan berkembang.

Internasional Plasa Saat kini 2008
Alasan ini pula yang membuat generasi kedua dari pemilik bioskop International putar otak. Yang ujung-ujungnya mengeluarkan ide brilliant dengan memberanikan diri membangun pusat perbelanjaan skala besar yang sekarang disebut mall. 

Ubah Mindset Perwajahan Palembang  dibawah naungan PT Indah PlazaInternational, gedung berlantai lima dibangun dengan nama International Plaza akrab disebut IP, mulai dibangun tahun 1989. Gedung bioskop yang dulunya menghadap ke jalan Jendral Sudirman sedikit bergeser dan mengarah kedua sudut jalan. Jendral Sudirman serta Jl Letkol Iskandar. IP sendiri mulai beroperasi sejak Februari 1991, dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumsel kala itu, H RamliHasan Basri. 

Dampak pembangunan IP dikatakan Nasir Amin yang kini duduk sebagai Komisaris IP, cukup besar. Pertama, mindset perwajahan Palembang berubah menjadi lebih maju dengan berdirinya sebuah plaza atau mall.  “Temen saya dari Jawa yang sempat gak mau datang ke Palembang karena dulu masih dianggapnya seperti dusun terkejut dengan pembangunan plaza tersebut,” ungkap Nasir tersenyum. 

Didukung berbagai tenant terkenal, sebut saja Matahari DepartemenStore yang menyewa 3,5 lantai IP, KFC, food court, 21 dan lainnya pengunjung IP pun membludak. Bahkan, saat awal dibuka, IP seperti menjadi Ikon Palembang. Masyarakat luar Palembang asal Sumsel, saat plesiran berusaha menyempatkan diri datang ke mall ini. (wwn)

Sumber Tulisan dan Foto Lama : http://www.sumeksminggu.com/ 

10 September 2008

Bioskop Ciniplex 21

Bioskop Cineplex 21 di kawasan Cinde Palembang



Ini bioskop terakhir di Palembang yang tidak bergabung dengan Mall atau di komplek pertokoan, bioskop yang berdiri di eks area Panca Warna ini walaupun group 21 tetapi sekarang ini sepi pengunjung mungkin nasibnya akan sama dengan bioskop lainnya yang ada di Palembang.

27 July 2008

Sejarah Bioskop Majestic Palembang


Restourant World Bar ( Restouran Cina & Tempat Dansa ) dan Bioskop Majestic di tahun 1953
Sumber Foto :Troppenmuseum

"JM" begitu yang sering terdengar sekarang, padahal pasar raya yang terletak di jalan Letkol Iskandar ini memiliki sejarah yang panjang. JM dulunya merupakan eks Majestic Bisokop pada sekitar tahun 50-an,  di mana merupkan bioskop yang cukup terkenal di zamannya sama  bioskop Capitol, Intium (Balai Prajurit), Bioskop Internasional, Bioskop elite ataupun bisokop Chung HWA yang terletak di ujung  jalan Pasar Baru.

Selain bioskop di atas nya juga terdapat Restourant the world bar yang merupakan restaurant kelas “Elit” yang menyedikan “Chinese Food”  dan juga tempat berdansa orang orang berduit di masa itu.

Di era tahun 1970-an bioskop ini berganti nama menjadi mioskop “Mahkota” dimana di bioskop ini juga memliki ciri khas sendiri yaitu pada hari Sabtu siang di adakan Liga yaitu menontong dengan ticket separuh harga. Sedangkan pada hari Jumat pagi biasanya banyak tentara yang menonton di bioskop mahkota ini.

Pasar Raya JM Tahun 2008
Seiring perjalanan waktu dan juga persaingan di antara bioskop yang semakin ketat mulai lah satu persatu “kenyamanan” bioskop ini hilang  mulai dari restaurant yang tidak beroperasi lagi, perawatan gedung yang seadanya sehingga banyak burung dan kelelawar yang berterbangan di atas pennonton.

Sehingga bioskop mahkota ini mengakhiri masa kejayaannya di tahun 1980-an yang di ambil alih oleh pedagang yang memulai usahanya di Pasar Kepandean yaitu Bapak Jusuf Masawan (JM) sehingga dengan pengelolaan yang baik dan saingan yang belum terlalu banyak membuat pasar raya ini menjadi besar. Di tambah kebakaran besar yang menghanguskan supermarket makmur sehingga banyak konsumen yang beralih ke pasar raya JM .

Dengan gedung berlantai empat yang berisi produk pakaian, mainan, supermarket dan perlengkapan rumah tangga, tetapi pada awal pendiriannya JM di lengkapi dengan arena bermain di lantai 4 yang menyediakan Boom car, mobil-mobilan untuk anak-anak dan Ding-dong, tetapi di tahun 1997-an tempat permainan anak tersebut di tutup diganti dengan tempat penjualan perlengkapan rumah tangga.

Walaupun di tahun 1991 mucul saingan besar dengan di bukanya Internasional Plaza tetapi JM tetap eksis dengan usahanya sampai dengan saat ini, malahan saat ini JM sudah banyak mengembangkan sayap seperti JM Pulau Mas ( Sudah terbakar di tahun 1995),  Grand JM di Palembang Square, JM Patal, JM Plaju, JM Sukarami,  dan beberapa tempat di luar kota dan propinsi Sumatera Selatan.

Sumber tulisan : Di rangkum dari berbagai sumber

16 July 2008

Eks Bioskop Saga Palembang

Eks Bioskop Saga yang menjadi kantor Dinas Pendapatan Daerah Kota Palembang



Bioskop pertama yang ada di kota Palembang ada lah Bioskop Flora pada tahun 1910, kemudian pada tahun 1920 berganti nama menjadi Bioskop Orintal, kemudian pada tahun 1956 berubah menjadi bioskop SAGA.

Pada zaman pendudukan jepang 1942-1945 gedung ini menjadi gedung Bintang Berlian tempat pertunjukan tonil tradisional bangawan H Gung/Miss Tina, juga di gedung ini lah lahir lagu gending Sriwijaya ciptaan A Dahlan Mahibat, dan tari gending Sriwijaya oleh miss Tina Sukina A Rozak, Bioskop SAGA sekarang sudah berubah menjadi Kantor dinas Pendapatan Daerah.

20 May 2008

Eks Bioskop Di Seberang Ulu Palembang

Di kawasan seberang Ulu sendiri di era awal 1990-an masih banyak bioskop yang sempat beroperasi sebuatlah seperti Bioskop Odeon yang pernah berjaya di kawasan 7 ulu, Bioskop Apollo dan Bioskop Dewi di 10 ulu, Bioskop kertapati di Jl. Ki Wahid Hasyim dan Bioskop Asia di Jl. Di Panjaitan Lr. Asia, walaupun saat ini mereka sudah tutup usia kalah bersaing dengan bioskop modern saat ini.

Bioskop Yang Sudah Ada Sebelum Tahun 1950-an
Exs bioskop Asia yang terletak di Lr. Asia di Plaju yang saat ini menjadi komplek perumahaan 

Exs Gedung bioskop Persatuan Kertapati yang saat ini menjadi gedung Suzuki dan mini mart

Gedung Eks Bioskop Dewi yang sudah menjadi ruko 2008
Bioskop Dewi yang terletak di samping klenteng dewi kwan im pasar 10 ulu satu arah dengan jalan ke arah dermaga 10 ulu, pada era tahun 1947-an bioskop ini memiliki nama "Bioskop Oranje", yang merupakan salah satu bioskop terkenal di kawasan uluan saat itu, dan berubah lagi menjadi bioskop Merdeka dan setelah itu baru menjadi bioskop dewi (yang di ambil dari kata dewi kwan im).

Eks Bioskop Dewi Update 2019
Bioskop kalangan menengah ini di era 90-an menyajikan film-film silat cina dan juga film Indonesia yang saat itu banyak menjual sensualitas di tengah lesunya produksi perfilman Indonesia saat itu, Bioskop dewi sendiri melakukan perubahaan filmnya mulai 1 minggu sampai 1 bulan sekali, dengan fasilitas menggunakan bangku dari kayu yang di lapisi dengan busa (seperti jok untuk becak saat ini) bisa di bilang lumayan sesuai dengan harga yang di bayar saat itu.

Kondisi bioskop yang melayani seadanya saja seperti pepatah " Mati segan hiduppun tak mau" membuat bioskop ini pun harus berjalan terseok-seok di tambah lagi dengan di bukanya Cineplex 21 di kawasan ex bioskop Lucky Taman Pancawaran / Cinde dan Bioskop 21 di Internasional Plaza, menjadikan bioskop ini kehilangan pamornya.



Kelebihan bioskop dewi saat itu adalah adanya tempat permainan game koin (ding dong) tepat toko di samping pintu masuknya ( Sekarang sudah menjadi toko pakan ayam), jadi kadang sambil menunggu film selesai kita bisa bermain ding dong terlebih dahulu.

Bioskop Yang Sudah Ada Setelah Tahun 1970-an

Gedung Exs Bioskop Odeon

Bioskop Odeon yang terletak di kawasan Jl. Sukarjo Harjo Wardoyo di kawasan 7 ulu ini sudah eksis sejak akhir tahun 1970-an, informasinya bahwa pemilik bioskop odeon ini yang juga memiliki bioskop makmur, bioskop yang termasuk salah satu tujuan untuk menonton di kawasan 7 ulu selain bioskop dewi dan Apollo di kawasan 10 ulu, tetapi memasuki era 1990-an persaingan semakin berat, biaya operasional yang sudah tidak sebanding dengan pemasukan memaksa bioskop ini menghentikan operasi yang saat ini menjadi gudang ekspedisi darat, yang lucunya dulu banyak berkembang di masyarakat cerita-cerita horor yang terjadi di dalam bioskop ini sebelum menghentikan operasinya.


Gedung Eks Bioskop Apollo di 10 ulu
Tidak jauh berbeda dengan bioskop Apollo yang tidak berjauhan dengan bioskop dewi juga tidak bisa bertahan dengan persaingan bioskop di kota Palembang, juga harus mengakhiri geliat usahanya di akhir 1990-an.

Dengan konsep kursi kayu yang di lapisi dengan busa seadanya menjadikan bioskop yang satu ini menjadi tempat ajang "pacaran" remaja di era tersebut. Dengan menyuguhkan film-film silat cina, film Indonesia dan terkadang film India.

Bioskop Apolo Update 2019

19 May 2008

Eks Bioskop di Seberang Ilir Palembang


Bioskop Yang Sudah ada Sebelum Tahun 1950-an

Bioskop Saga

Bioskop pertama di kota Palembang yang pada tahun 1910 bernama bisokop flora, kemudian pada tahun 1920 berganti nama menjadi bioskop oriental dan pada tahun 1956 menjadi bioskop saga Foto : indiegangers.nl

Bioskop Luxsor Palembang
Bioskop Luxsor pada zaman kolonial kemudian menjadi bioskop intium dan bioskop Mustika dan saat ini menjadi Balai Prajurit Foto : indiegangers.nl

Bioskop Majestic Palembang
Bioskop Majestic tahun 1953 yang saat ini menjadi JM Plaza Foto : Troppenmuseum

Bioskop Rex Palembang
Bioskop Rex yang terletak di kawasan sekanak yang pada era 1970-an berubah nama menjadi bioskop Rosida (2008)
Bioskop Cineplex 21
Gedung Bioskop Ciniplex Exs Bioskop Lucky Taman pancawaran di Kawasan Cinde (2008)
Bioskop Internasional Yang Saat Ini Berubah menjadi Internasional Plaza Foto: Sumeks
Bioskop Capitol Palembang
Bioskop Capitol di era tahun 1950an yang sudah habis terbakar besamaan dengan beberapa rumah dan toko di kawasan tersebut Sumber : Ama Arlan
Bioskop Setelah Tahun 1970-an
Bioskop Sanggar yang menempati gedung Kosgoro 1957 di Jl. Letkol Iskandar (2008)

Bioskop Mawar di kawasan Cinde

Bioskop Gembira atau Bioskop Cermin di simpang sekojo, yang saat ini menjadi gedung penangkaran walet
Bioskop Garuda yang merupakan bioskop spesialis film India dan saat ini berubah menjadi hotel dan sport center

Bioskop Raja di Jl. Slamet Riyadi Pasar Kuto, di mana setelah tidak beroperasi di sewa untuk studio
foto yang cukup terkenal sampai saat ini yaitu Foto Studio Raja.