CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label Pasar 16 Ilir. Show all posts
Showing posts with label Pasar 16 Ilir. Show all posts

31 July 2012

Sejarah Pasar 16 Ilir Palembang

Suasana Pasar 16 Ilir di tahun 1970 an sumber : kitlv.nl
Geliat perekonomian 16 Ilir dan sekitarnya sesungguhnya sudah dimulai sejak Kimas Hindi Pangeran Ario Kesumo Abdulrohim memindahkan pusat kekuasaan dari 1 Ilir yang dibakar habis oleh VOC tahun 1659 ke Kuto Cerancang (kini kawasan Beringin Janggut, Masjid Lama dan sekitarnya) pada tahun 1662. Denyut perekonomian itu makin terasa saat cucu Kimas Hindi Sultan pertama Palembang yang bergelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam yaitu Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo memindahkan keraton ke Kuto Kecik, seiring pembangunan Masjid Agung pada tahun 1738.

Kawasan itu pun menjadi pemukiman tepian sungai, dengan sistem budaya tepian sungai (riverine culture) yang dianut rakyatnya. Sungai Tengkuruk dan Sungai Rendang yang bermuara ke Sungai Musi ersama Sungai Kapuran menjadi "benteng" bagi Masjid Agung dan Keraton Kuto

Pasar 16 Ilir tahun 1980 an
sumber : Tropenmuseum
Kecik menjadi pusat perdagangan kala itu. Rakyat dari hulu dan hilir Sungai Musi membawa hasil alam dan menjualnya di sepanjang tepian sungai ini.

Setelah menaklukkan Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1821, Belanda kemudian mengangkat potensi perekonomian di kawasan itu. Dimulailah pembangunan dengan planologi yang "disesuaikan" dengan keadaan semula.

Sebagai daerah perdagangan, dibangunlah pertokoan dan perkantoran di sepanjang tepian Sungai Tengkuruk. Seperti lazimnya perkembangan pasar saat ini, perdagangan di Pasar 16 Ilir berawal dari "pasar tumbuh", yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl Kebumen).

Pola perdagangan di lokasi itu, setidaknya hingga awal 1900-an, dimulai dari berkumpulnya pedagang “cungkukan”(hamparan), yang kemudian berkembang dengan pembangunan petak permanen.

Untuk kawasan Pasar Baru (hingga kini masih bernama Jl Pasar Baru) saat itu sudah berderet bangunan bertingkat dua yang di bagian bawahnya menjadi tempat berjualan. Los-los mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan dipermanenkan sekitar tahun 1939.

Sementara itu, muara Sungai Rendang menjadi salah satu "dermaga" pilihan perahu kajang (perahu beratap) berlabuh. Perahu, yang sekaligus menjadi tempat tinggal, ini membawa hasil bumi dari daerah di hulu Sungai Musi untuk diperdagangkan di Pasar 16 Ilir. Hal yang sama juga berlaku di Sungai Sekanak. Menurut W.F. Wertheim (1958), Kotapraja (Gemeente) kemudian dilafazkan lidah Palembang sebagai Haminte melakukan beberapa kebijakan pembangunan. Dibangunlah semacam taman di Talangsemut, pusat perdagangan di 16 Ilir, pelabuhan di Sungai Rendang, serta pusat perkantoran di sekitar Benteng dan Tengkuruk.

Pasar 16 dan Mobil yang lalu lalang sumber : Raden M Amin
Kebijakan ini termasuk rencana pembuatan bulevar. Untuk merealisasikan rencana itu, Sungai Tengkuruk ditimbun pada tahun 1928. Di atasnya, dibangunlah jalan dalam dua jalur. Di bagian kiri dari arah Sungai Musi tampaklah jajaran pohon, dan kanannya, bangunan dua tingkat, yang merupakan perkantoran. Kawasan 16 Ilir sebagai pusat perekonomian tampaknya semakin "hidup". Apalagi saat terjadi rubberboom sekitar tahun 1912 dan 1915, orang-orang di Keresidenan Palembang (masuk seluruh daerah di Sumsel) demikian mudahnya membeli mobil. Peningkatan kemakmuran makin menjadi setelah tahun 1920. Dalam tahun 1920, mobil pribadi belum sampai 300 buah. Tetapi, pada tahun 1927, jumlahnya meningkat sampai 3.475 buah. Mobil ini terdiri atas berbagai mereka, antara lain Ford, Albion, Rugby, Chevrolet, dan Whitesteam (Djohan Hanafiah: Dicari, Walikota yang Memenuhi Syarat: 2005).

Betapa makmurnya para toke para dan pebisnis masa itu tampaknya menjadi "wajah" Pasar 16 Ilir. Berita di Pertja Selatan, 17 Juli 1926, tertulis bahwa di kawasan Sungai Rendang, telah berdiri show room mobil Ford. Bahkan, penjual mobil pun telah memakai surat kabar sebagai sarana promosi dalam bentuk iklan. Dalam perkembangan selanjutnya, yaitu zaman kemerdekaan, geliat perekonomian makin tampak di kawasan ini. Antara lain, menurut kesaksian lisan beberapa orang yang hidup pada masa itu, keberadaan beberapa bank di Jl Tengkuruk. Yaitu, Nederland Indische Bank, Bank Esconto, Chinese Bank, Bank Ekonomi, dan Bank Indonesia. Di dekat Bank Indonesia, ada Kantor Listrik yang bersebelahan dengan Kantor Pajak. Di dekat Chinese Bank, berderat pula bangunan bernama Cuan Ho, yaitu semacam usaha jasa angkutan (ekspedisi). Perusahaan ini mengangkut barang dari Boombaru ke Pasar 16 Ilir. Pada masa ini, dikenallah kuli king, yaitu orang-orang Tionghoa yang bertubuh tegap dan kuat. Di dekatnya, terdapat Toko Dezon, atau toko matahari menurut sebutan wong Plembang. Di bagian tepi Sungai Musi, terdapat dua dermaga. Yaitu, dermaga perahu tambangan di bagian hilir dan Dermaga Kapal Marie di bagian hulu (saat ini, lokasinya di bawah Jembatan Ampera).

Pasar 16 Ilir sumber : Raden M Amin
Tingginya tingkat perdagangan, juga terlihat dari sejarah pemindahan pelabuhan di Palembang pada masa penjajahan Belanda. Juga catatan mengenai banyaknya kapal yang keluar masuk lewat Sungai Musi ke kota ini. Seiring kejatuhan Kesultanan Palembang Darussalam, Belanda membangun pelabuhan yang dinamakan Boom Jeti di depan Benteng Kuto Besak (sekarang Perbekalan dan Angkutan [Bek Ang] Kodam II Sriwijaya). Sebelumnya, sudah ada pelabuhan di kawasan 35 Ilir. Tahun 1914, pelabuhan dipindahkan ke muara Sungai Rendang (kini dikenal sebagai Gudang Garam). Dengan alasan pelabuhan tidak mampu lagi menampung kapal yang keluar masuk, Belanda kembali

memindahkan pelabuhan ke kawasan di antara Sungai Lawang Kidul dan Sungai Belebak. Pelabuhan yang dikenal sebagai Boom Baru ini ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda lewat Staadblad No. 545 Tahun 1924. Kala itu, panjang dermaganya sekitar 250 meter dan dilengkapi dengan Kantor Doane atau Bea Cukai terapung. Sebagai perbandingan, perkembangan perdagangan berskala ekspor dan impor di Palembang dapat dilihat dari total jumlah kapal yang beraktivitas serta banyaknya barang di dua pelabuhan itu pada dua masa berbeda. Pada tahun 1880, kapal yang beraktivitas di Boom Jeti sebanyak 177 unit dengan volume barang sejumlah 30.330 meter kubik (sekarang, satuan yang dipakai adalah TEUS). Sementara tahun 1929, jumlah kapal mencapai 1.559 unit dan barang sebanyak 4.050.408 meter kubik.Semua barang yang diangkut kapal berbendera Hindia Belanda, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Norwegia, Swedia, Denmark, dan Italia itu sebagian besar dipasarkan di Pasar 16 Ilir. Ini merupakan salah satu faktor yang membuat pesatnya perkembangan kawasan ini.

03 July 2012

Warna Warni Pasar 16 Ilir Palembang

Pasar 16 ilir yang bekerjasama dengan XL sehingga membuat pasar kebanggaan wong kito ini berwarna- wa

Sempat tarik ulur, akhirnya pengelolaan pasar 16 Ilir diserahkan kepada Perusahaan Daerah (PD) Pasar, Palembang Jaya. itu setelah pemerintah kota (pemkot) ini memutus kontrak pengelolaannya dari PT Prabu Makmur. Pemutusan kontrak sendriri tertuang dalam surat keputusan (SK) Wali Kota Palembang nomor 119 tahun 2011 tentang Pemutusan Perjanjian kerja sama kontrak bagi tempat usaha dalam rangka pembangunan Pasar 16 Ilir. 

Artinya, terhitung SK tersebut ditandatangani pada 31 Januari 2011, maka kontrak Prabu Makmur resmi diputus. "Jadi pasar 16 Ilir dikoelola oleh Pemkot dan diserahkan ke kita (PD Pasar, red),"
ujar Kepala PD Pasar Palembang Jaya, Syaifuddin Azhar kemarin.
Menurut Syaifuddin, dengan diambil alihnya pengelolaan Pasar 16 Ilir, pihaknya dapat total berupaya memperbaiki pasar kebanggaan wong kito tersebut. 

Dikatakan, pembangunan dan perbaikan psar 16 Ilir tetap melibatkan pihak ketiga. Khusus lantai 4-5 yang rencananya menjadi hotel atau restoran, tambah dia, akan ditawarkan kepda investor yang berminat. Tapi itu tergantung dari keinginan investor. 

"Tentu investor mempunyai naluri lebih tajam mau dibuat apa biar ramai pengunjung dan dapat keuntungan." Hanya, kata pria bertubuh tinggi itu, menunjang usaha yang dilakukan, hendaknya investor ikut melengkapi sarana prasarana penunjang Pasar 16 Ilir seperti lift atau eskalator. Jika tidak, khawatir usaha tersebut kurang ramai dikunjungi warga.

Lanjut, Sayifuddin, tahap awal pengelolaan pasar 16 Ilir, pihaknya fokus pada perbaikan fisik yang tampak dari luar. Apa saja? Pertama yaitu perbaikan lampu merk pasar 16 Ilir. Saat ini, merk yang berada di atas bangunan tersebut kondisinya sangat memprihatinkan, selain ada yang copot, sebagian lampunya tidak lagi menyala.

"Jadi nanti merknya akan kita hidupkan lagi," cetusnya. Untuk perbaikan merk pasar 16 Ilir tadi, PD Pasar menggandeng pihak ketiga yang berminat. "Sudah kita tawarkan, dan kebetulan ada pihak XL yang bersedia, sekarang mereka sudah mengecek ke lokasi," ungkapnya.

Tak hanya itu, kata Syaifuddin, XL juga berencana untuk membantu pengecatan dinding bagian luar bangunan. Nah, sebagai kompensasi atas hal tersebut, maka pihak ketiga akan dibebaskan dari retribusi pemasangan iklan di gedung Pasar 16 Ilir selama setahun.

Dikatakan, pihak XL diperbolehkan untuk menempelkan atau mengecet dinding bangunan dengan iklannya. "Asalkan bersih, bagus dan rapi silahkan saja," terangnya. Memastikan hal tersebut, berjalan sesuai yang diinginkan, pengerjaan nanti tetap akan diawasi oleh PD Pasar.

Masih menurut Sayfuddin, pihaknya secara bertahap membersihkan kondisi dalam ruangan sehingga tidak terlihat semrawut seperti sekarang. Masalah banjir di basement bangunan yang kerap terjadi saat hujan deras turun, juga akan menjadi perhatian.

Jika selama ini, untuk mengatasi banjir digunakan pompa air yang menimbulkan suar bising ketika dioperasikan. Ke depan akan dicarikan solusi lebih tepat dan tidak menimbulkan polusi suar dan udara.

Lebih lanjut, katanya, putusnya kontrak dengan PTPM maka pasar 16 Ilir 100 persen dikelola oleh PD Pasar. Uang sewa dan kredit ruko dan toko di pasar yang berdiri di tepian Sungai Musi tersebut disetorkan ke PD Pasar. "Nanti kalau mereka (pedagang, red) membayar, akan mendapatkan surat izin penempatan petak dari kita," tukasnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Palembang, Husni Thamrin menegaskan hal yang sama. "Saat ini Pasar 16 Ilir sudah dikelola oleh PD Pasar," ujarnya. Ditegaskan dalam SK Walikota, berarti seluruh pengelolaan pasar tadi dilakukan oleh PD Pasar. "Kalau kita (Pemkot, red) hanya mendukung melalui apa yang perlu dilaksanakan. Nah, operatornya ya PD Pasar," tukas Husni.

Sebelumnya, Walikota Palembang Eddy Santana Putra menegaskan jika pemkot secepatnya mengeksekusi pengelolaan pasar 16 Ilir dari PT Prabu Makmur. Hanya saja, terlebih dahulu pemkot masih perlu membahas mengenai mekanisme pengambilalihan pasar yang berdiri di tepian Sungai Musi tersebut.

"Memang kita harus tegas," ujar Wako Eddy. Apalagi, katanya, hingga saat ini pemkot sudah beberapa kali melayangkan panggilan kepada perusahaan yang dimiliki oleh Feri Sulistio alias Alai tersebut.

"Yah, sampai sekarang kan tidak juga nongol," terang Eddy. Oleh karena itu, pihaknya memutuskan untuk segera menarik pengelolaan pasar 16 Ilir dari PT Prabu Makmur, meskipun kontrak pengelolaannya baru akan berakhir pada 2016 mendatang. (mg13)

Sumber tulisan :
sumeks.co.id

Palembang, Ampera, 0712, Dodi NP

30 January 2009

Pasar 16 Ilir update



Pasar 16 ilir yang di ambil dari seberang dermaga 16 ilir, beberapa hari yang lalu.

19 September 2008

Pasar 16 Ilir terkini





Pasar yang merupakan jantung dari pasar tradisional di kota Palembang ini sudah mulai berbenah dengan penataan ruang di harapkan akan ada kenyamanan dan keamanan dalam berbelanja, dalam konsep yang di buat oleh Pemkot pasar ini akan di buat menjadi tempat wisata di mana yang akan di lengkapi dengan hotel dan fasilitas lainnya.

05 August 2008

Gedung Pasar 16 Ilir





Merupakan pasar yang awal mulanya berasal dari pasar tumbuh atau "cungkukan" di mana masyarakat saat itu melakukan transaksi seadanya, perubahan besar terjadi saat 1928 dimana pemerintahan kolonial Belanda melakukan penimbunan sungai tengkuruk.

09 July 2008

Pasar 16 Ilir






Pasar yang merupakan pasar tertua di Palembang ini merupakan tempat di mana banyak terjadinya transaksi barang dan uang, saat ini pasar ini terus berbenah sehingga dapat menghilangkan kesan kumuh, becek, kotor dan lain sebagainya.