CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label mobil ketek. Show all posts
Showing posts with label mobil ketek. Show all posts

03 October 2016

Tour de Ketek (Video)





2 Video ini cukup menghilangkan kerinduan kita akan transportasi yang satu ini.

Perjalanan yang di awali dari bawah jembatan ampera (7 ulu) kemudian di lanjutkan ke 1 ulu dan memutar balik lagi ke 7 ulu.

Kalau yang berbadan agak besar sebaiknya jangan duduk di depan dikarenakan sempit, selama perjalanan hanya ada ibu dan anak yang ikut kendaraan ini. Untuk satu kali perjalanan cukup membayar 1.500 (Tahun 2008).

Kata Pak Hermain ini mobil ini punya kakaknya yang akan dijual seharga 3-4 Juta, karena yang punyanya dulu mobil ketek warna merah sudah di beli oleh hotel horizon seharga 6 juta.

Mobil ketek dan nasibmu kini...............................kasihan.

DNP - Juni 2008

30 September 2016

Mobil Ketek "Sejarah Yang Tiada Berbekas"



Masih ingat gambar mobil di atas, gambar mobil ketek tersebut saya Upload pada tahun 2008 di kisaran bulan April yang di ambil di kawasan 7 Ulu Palembang, jenis Jeep Lansiran 50-an ini pada mesin sudah di ganti dengan mesin kijang yang informasinya lebih irit dan bertenaga di banding masin aslinya. Dokumen yang tersisa pada saat saya melakukan tour de ketek 2008 ini ......

 1. Bagian Depan Mobil





2 Bagian Ruang Kemudi







3 Bagian Dalam Mobil


Penumpang mobil ketek

Kursi panjang yang tebuat dari kayu di lapisi busa kursi
Menutup pintunya agak harus di banting
4 Bagian Luar ketek

Engsel pintu seperti di kijang doyok
Tutup ban depan



Bagian samping mobil

Ban belakang mobil

Tutup ban depan khas jeep

Brand nya.....

DNP - Memories Tour de Ketek 2008

03 February 2009

Mobil Ketek - Sejarah Seonggok Besi Tua



Walau tua mobil yang satu ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan model trasportasi khususnya di wilayah Palembang, tetapi sudah sejak pertengahan tahun 2008 di Palembang sendiri tidak ada lagi yang beroperasi, sekarang tinggal menjadi seonggok besi tua yang mungkin tidak lama lagi akan menjadi barang "Kiloan".

Lebih lengkap tentang mobil ketek klik di sini :
penyebaran mobil ketek di palembang

21 October 2008

"Mobil Ketek" - Route yang tersisa


Setelah di telusuri mobil ketek yang tersisa dan dapat beroperasi saat ini hanya tinggal 2 unit dengan rute :
Kuning : Pasar 7 Ulu - 1 ulu - Pasar 7 Ulu
Biru : Pasar 7 Ulu - 16 ulu - Pasar 7 Ulu


Dan yang kali ini sempat tertangkap kamera sedang mangkal di pasar 7 ulu (warma Kuning) dimana mobil ketek yang di kemudikan oleh bpk Hermain ini sudah banyak di ganti terutama mesin yang menggunakan kijang dan tangki yang menggunakan drigent, peminat sudah mulai berkurang yang banyak menggunakan ini pedagang yang bawa barang ke pasar dari jam 06.00 s/d 09.00.

Kondisi kendaraan yang juga tidak mendukung turut menyurutkan minat penumpang untuk naik seperti mobil ini rem yang berfungsi hanya ban bagian depan.

20 May 2008

Sisa kejayaaan sang "Mobil Ketek"


Mobil-mobil "ketek" yang mulai tersingkirkan dari hasi wawancara dengan Bpk M Amin atau yang sering di panggil dengan Bapak Sangkut yang pernah menjadi juragan mobil "ketek" di Seberang Ulu.

Beliau membeli pertama kali mobil ketek tersebut tahun 1944 pada tahun 1961 dengan 90 suku emas, dan yang paling mahal yaitu beliau beli dengan 200 suku emas. (Saat ini (2008) di Palembang satuan emas suku seharga 1, 6 Juta s/d 1,7 Juta, 1 suku = 6.3 gram).


Berdasarkan informasi beliau bahwa mobil "ketek"/jeep yang masuk ke Palembang mulai tahun 1944 sampai dengan 1961.

Hingga tahun 2004 karena adanya pelarangan penggunaan mobil ketek ini maka beliau saat ini menjadi mekanik mobil ketek sesuai dengan pesanan yang ada.


Mobil yang di bangun kembali oleh pak Amin



19 May 2008

Mekanik Mobil Ketek



Pak Amin atau pak Sangkut yang telah dari awal berkecimpung dengan mobil "ketek" ini sangat ahli dengan seluk beluk kendaraan jeep ini.


05 May 2008

"Mobil Ketek" Tergerus Pembaharuan Zaman


  Hasil gambar untuk mobil ketek palembang
















Siang yang panas. Puluhan mobil antik berjajar untuk ngetem, di sekitar Pasar Simpangtiga di Kawasan 10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, Sumatera Selatan. Setelah dipenuhi penumpang, satu per satu mobil itu bergerak dengan suara riuh, kemudian menembus keramaian jalan di pinggiran Sungai Musi.

Ganti Ban

Pintu belakang yang jadi saksi

 Mobil-mobil itu memang antik. Kepala dan mesin berasal dari sisa-sisa kendaraan zaman perang dunia kedua, umumnya dari jip Willys buatan Amerika tahun 1946 sampai 1952. Modifikasi dilakukan pada hampir semua bagian dengan onderdil rakitan dari suku cadang bekas merek lain. Tapi, ada juga yang mempertahankan posisi setir di sebelah kiri.


Yang unik, badan mobil dan hampir seluruh aksesoris di dalamnya dibuat dari kayu jati, mrawan, atau racuk. Kayu diolah menjadi dinding, jendela-jendela di samping, atap, dan pintu di bagian belakang. Untuk tempat duduk, bangku kayu yang keras diberi tambahan busa tipis di atasnya. Bangunan kayu itu biasa disebut rumahan atau angkong, dengan bagian luar dilapisi pelat yang dicat warna-warni.

Masyarakat Palembang menyebut kendaraan klasik itu sebagai “mobil ketek”. Konon, sebutan “ketek” diberikan karena, setiap berjalan, mesin mobil mengeluarkan bunyi keras, “ketek-ketek-ketek...” Sebutan itu juga dilekatkan pada perahu ketek yang banyak berkeliaran di Sungai Musi, yang mesinnya juga mengeluarkan bunyi serupa.
Antrian mobil ketek



M Amin alias Sangkut yang menjadi Juragan Mobil ketek sekaligus mekanik mobil ketek
Foto Koleksi Pribadi

Menurut juragan mobil ketek di Kelurahan 1 Ulu, M Amin alias Pak Sangkut, mobil ketek mulai menjadi angkutan umum terutama setelah revolusi kemerdekaan, sekitar tahun 1960-an. Pada masa kejayaannya antara tahun 1970-an sampai awal 1980-an, mobil yang bisa memuat 10 penumpang itu menjadi sarana transportasi murah dan massal yang andal. Jumlahnya mencapai 300-an unit 
yang melayani banyak jurusan, bahkan sampai menelusup ke lorong-lorong kecil.


Seiring dengan masuknya berbagai angkutan baru, jumlah mobil ketek terus menyusut. Saat ini, diperkirakan hanya tersisa 100-an unit, itu pun melayani rute-rute terbatas, seperti di Plaju, Kertapati, dan kawasan 1 Ulu sampai 16 Ulu. Tarifnya Rp 1.500 untuk sekali jalan.

Masa kejayaan mobil ketek sudah surut. Angkutan antik itu terus terdesak di tengah perubahan Kota Palembang yang semakin metropolis. Mobil-mobil tua itu bagaikan veteran perang yang sudah ngos-ngosan, tetapi tetap berusaha setia melayani warga. Warga pun berusaha maklum, ketika mesin mobil kadang batuk-batuk sehingga harus didorong ramai-ramai.

Foto dan Naskah: Kompas / Ilham Khoiri

 "Sekarang sungguh berbeda mobil ketek yang beroperasi hanya tinggal 1 unit itupun mesinya sudah di ganti dengan mesin kijang dan di hotel Horizon ada 1 unit yang merah tapi hanya untuk Pajangan"

18 April 2008

Mobil ketek Terkini



Ternyata masih ada Mobil ketek yang beroperasi di daerah 7 ulu laut walaupun harus berat bersaing dengan angkot, entah masih berapa banyak lagi yang tersisa.

18 March 2008

Mobil Ketek di Hotel

Dulu merupakan transportasi utama ( Lihat di palembang http://www.palembangdalamsketsa.com/), terakhir banyak terdapat di daerah jalan Laut di Seberang Ulu dan di Jln Sosial di KM5, tapi sekarang tidak ada lagi di makan zaman mungkin, tapi kok nongkrong di hotel......????

24 November 2007

Sejarah Mobil Ketek Palembang

Mobil ketek terakhir dengan rute Ampera 7 ulu s.d 1 Ulu Kertapati

Setelah Perang Dunia II selesai, muncullah jip untuk kalangan sipil, yakni CJ yang merupakan singkatan dari civilian jeep. Tahun 1945, Willys meluncurkan CJ2 dan CJ3. Bahkan, Willys tidak lagi hanya diproduksi di Amerika Serikat, tetapi juga diproduksi di negara lain dengan lisensi. Di Perancis, Willys muncul tahun 1950 dan tahun 1955, masing-masing dengan nama Delahaye dan Hotchkiss. Di Jepang, Willys muncul dengan nama Mitsubishi Jeep J3 tahun 1953. Di Taiwan, jip Willys muncul tahun 1956.

Pada awal agresi Belanda di Palembang, dimana pada saat tanggal 12 Oktober 1945 Pasukan Inggris pimpinan Kolonel Carmickel tiba di palembang diboncengi oleh NICA (tentara belanda).

Suasana diperkeruh dengan masuknya tentara Belanda dari bangka dengan cara menyamar sebagai tentara inggris. Puncaknya pada Maret 1946 Pasukan inggris semakin besar jumlahnya setelah masuk dari Talang Betutu. Kedatangan ini disambut dengan pertempuran yang berkobar hampir disemua lokasi di kota palembang dan sekitar. Tiang listrik dan pipa yang banyak berada dilokasi plaju dimanfaatkan secara cerdik oleh masyarakat palembang menjadi senjata perlawanan Kecepek menghadapi peralatan canggih Inggris dan Belanda.

Belanda datang dengan segala kekuatan matranya dimana salah satu yang di bawa adalah kendaraan Jeep Willys yang sesuai dengan kondisi dan medan saat itu, pada saat kekalahan belanda dan perintah untuk menarik pasukan dari seluruh wilayah Indonesia termasuk juga Palembang maka banyak kendaraan Jeep wiliys yang di pakai untuk perang di tinggalkan. 
 
Mobil ketek di terminal tahun 1970-an
"Pada tahun 1950 itu berbagai jenis kendaraan bekas perang dunia II (dump) dan kendaraan lain tentara kerajaanBelanda dikumpulkan di bekas lapangan terbang Sekojo di Sungai buah dan ditanah kosong dekat kantor DPLAD di ujung jalan Bukit Kecil. Kendaraan-kendaraanbekas (dump) ini dijual kepada umum. Kendaraan-kendaraan inilah yang kemudian dijadikan truk angkutan barang dan opelet (di Palembang opelet ini disebut“taksi”) yang terbuat dari bekas jeep dengan body konstruksi kayu (semacam Jeepney di Manila dengan ukuran lebih kecil). “Taksi” Palembang didominasi oleh jeep hasil rekonstruksi dan renovasi yang kreatif ini". (inilah awal mula adanya "Taxi" angkot di Palembang) Sumber : http://kedaikopi.com/

Secara berangsur dengan mulaiberoperasinya kembali perusahaan dealer yang sudah ada sejak sebelumkemerdekaan, seperti Koek & Co yang memasukkan kendaraan merek Chevrolet, kendaraan barupun mulai bermunculan, termasuk juga merek Fiat, Austin, Dodge,Fargo, dan lain-lain.

Mobil ketek di Jl. Jend Sudirman tahun 1970-an
Dari sinilah mulai banyak Jeep Willys yang di gunakan sebagai sarana transportasi sehingga peninggalan jeep meliter di ubah bentuknya menjadi kendaraan angkutan dan transportasi, kendaraan ini di gunakan mulai selesai perang kemerdekaan dan sangat terkenal dan memenuhi jalanan Palembang pada era 1960an -1980an dikarenakan tidak adanya saingan dengan kendaraan yang lain dan belum banyaknya kendaraan jepang yang masuk ke Palembang,Penyebaran kendaraan ini makin hari makin sedikin karena di makan zaman sehingga pada tahun 1990an hanya tersisa didaerah seberang ulu sepanjang jalan Laut ( dari 16 ulu sampai ke 1 ulu simpang jembatan kertapati), jalan Sosial Km 5 dan beberapa tempat di daerah lainnya.

Banyak keunikan dari Kendaraan yang setirnya berada kiri ini, dengan dengan pintu di sebelah belakang yang bisa memuat 6 penumpang dan di depan 2 penumpang dan 1 sopir untuk menghidupkan mesinnya tidak menggunakan starter seperti saat ini tetapi di engkol dari depan, dan tidak tahu mengapa masyarakat menyebutnya mobil “ketek” apakah bunyi mesinya sedikit berisik sehingga mirip dengan suara mesin kapal/“ketek”.

Tetapi pada tahun 2004 adanya larangnan pengoerasian kendaraan ini oleh pemerintah kota Palembang yang menganggap sudah tidak layak pakai baik dari segi keamanan, kenyamanan dan beberapa aspek lainnya, dan sehingga saat ini hanya satu dua mobil ketek saja yang beroperasi dan yang lain hanya menjadi besi tua. Sekarang mobil ketek kalah bersaing dengan angkot-angkot keluaran baru yang lebih bagus, yang lebih aman dan nyaman. 

Sumber tulisan : di rangkum dari berbagai tulisan.

01 June 2007

Mobil Ketek, Angkot Sisa Orde Lama

"Hai oplet tua, dengan bapak sopir tua/ cari penumpang di pinggiran Ibu Kota/ sainganmu mikrolet, bajaj dan bis kota/ kini kau tersingkirkan oleh mereka..."("Barang Antik", Iwan Fals)

SELAIN angkot dan bus kota yang full music, Palembang punya alat transportasi lain yang unik, berupa jip kuno merk Willis dan Mitsubishi. Masyarakat setempat menyebutnya mobil ketek, karena angkot-angkot itu berjalan lambat, laiknya perahu ketek yang hilir-mudik di sungai Musi.
Dari wujudnya saja, terlihat betapa angkutan tersebut sudah teramat renta. Suara mesinnya terdengar kasar, sementara lajunya perlahan seperti menahan beban. Sebagian bodi mobil-mobil ketek sudah diganti dengan kayu, baik atap, tempat duduk, sampai lis kaca depan. Manakala berjalan, acap terdengar suara berderit-derit. Posisi bangkunya menyamping berhadap-hadapan. Sekali jalan mampu mengangkut sembilan sampai 10 orang penumpang.
Jip-jip tua itu itu rata-rata dibuat pada masa Orde Lama, atau bahkan pendudukan Jepang. Mesinnya empat silinder, dengan onderdil bandrekan di sana-sini. Beberapa tangki bensin mobil ketek bahkan sudah diganti dengan jerigen.
Sehari-hari, angkutan ini beroperasi pada tiga jalur, yaitu Ampera 7 Hulu-Kertapati, Ampera 7 Hulu-Simpangsuki, serta Plaju-10 Hulu. Jarak trayek-trayek itu tak terlampau jauh. Rata-rata tak lebih dari 5 Km.
Menurut Zainal Abidin (43), seorang sopir mobil ketek jalur Ampera 7 Hulu-Simpangsuki, angkutan kuno ini sudah ada sebelum Jembatan Ampera dibangun. "Dulu mobil ketek mangkalnyo di Seberang Ilir dekat Pasar 16," tuturnya dengan logat Palembang yang kental.
Penumpang Setia
Meski berumur, mobil ketek ternyata punya penumpang setia, yakni ibu-ibu rumah tangga yang pulang-balik dari dan menuju pasar. Kendaraan yang dikemudikan Zainal misalnya, banyak bergantung ibu-ibu yang belanja di Pasar Klinik.
Kesempatan untuk menutup setoran Rp 15.000 sehari dia kejar dari pukul 07.00-12.00, waktu buka pasar tersebut. Selepas itu, kata Zainal, penumpang sepi.
Pemkot Palembang sebenarnya pernah berencana menghapuskan mobil ketek dan menggantinya dengan jenis angkutan lain. Namun mengingat sepinya penumpang, tidak ada perusahaan angkutan yang mau mengoperasikan armadanya pada jalur tersebut. Para sopir pun sebenarnya berkeinginan sama.
Dengan menjalankan mobil ketek, mereka mengaku hanya mengantongi pendapatan bersih Rp 10.000-Rp 15.000 per hari. Para sopir berharap mendapat kredit ringan angkutan kota dari Pemkot. "Seperti sopir bajaj PON itu yang mendapat kredit murah," lanjut Zainal.
Tapi apalah daya, mobil ketek tetap harus beroperasi di pinggiran Kota Palembang, mengangkut ibu-ibu yang setiap hari belanja di pasar. Maka, seperti kata Iwan Fals: "Tunggu nanti di tahun 2001, mungkin opletmu jadi barang antik yang harganya selangit." Tapi sayang, tahun 2001 sudah lewat.(Rukardi-22http://www.suaramerdeka.com/

01 May 2007

Ketek, Opeletnya Orang Palembang

Mobil ketek Foto by : Liputan6

Liputan6.com, Palembang: Bentuknya sederhana. Rangka kayu penyangga badan pun renta. Begitulah kondisi ketek, kendaraan sejenis opelet yang kini masih mengangkut penumpang di Kota Palembang, Sumatra Selatan. Mobil buatan Amerika Serikat ini memang pernah merajai layanan perjalanan di Kota Pempek pada dekade 60-an sampai 80-an. Tapi kini, jumlah angkutan itu kurang lebih tinggal 100 buah.

Adalah Abbas, seorang di antara pemilik mobil tipe Willis 1946 layaknya kendaraan zaman perang kemerdekaan itu. "Mobil ini saya peroleh dari warisan orangtua yang sudah mengoperasikannya sejak 1950-an," ungkap Abbas di Palembang, baru-baru ini. Lelaki tua ini mengaku telah 20 tahun narik angkutan tersebut.

Bukan perkara mudah memelihara ketek. Selain onderdilnya sudah sangat jarang dijual, mesinnya pun harus dirawat dengan penuh ketelitian. Seperti piston yang harus dikikir agar kerak olinya hilang. Lebih ironis lagi, Abbas menggunakan air sabun untuk mengganti minyak rem. "Harga oli rem kemahalan," keluh pria ini. Tapi jangan pikir air sabun tak ampuh. Ketek berhenti dengan sigap bila diberhentikan penumpang.

Pintu belakang mobil ketek


Seiring perjalanan waktu, beruntung pengoperasian mobil ini tak diberangus oleh pemerintah daerah setempat. Cuma rutenya saja yang disingkirkan ke pinggiran kota. Yakni dari bawah Jembatan Ampera sampai ke seberang Ulu Laut serta di sekitar kawasan Plaju. Meski begitu, ketek tetap harus bersaing dengan kendaraan umum modern yang juga beroperasi di rute tersebut.

Menyiasati pesaingan itu, sopir ketek tak menaikkan tarif yang kini masih Rp 700. Sedangkan tarif angkutan umum lain mencapai kendaraan Rp 1.000 per penumpang. "Kalau ikutan naik, nanti penumpang lari," ungkap Abbas. Dari pekerjaan inilah, Abbas memperoleh penghasilan Rp 20 ribu per hari. Dan, dengan tambahan uang dari hasil berusaha warung kecil-kecilan, dia mampu menyekolahkan anaknya, bahkan ke perguruan tinggi.(MTA/Ajmal Rokian dan Yanuar Ihrom)


Barisan mobil ketek

Sumber by Liputan6.com