CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.
Showing posts with label Kampung Arab. Show all posts
Showing posts with label Kampung Arab. Show all posts

31 October 2016

Festival Kopi Al Munawar #2


 Pameran Lukisan Ampas Kopi 

 Bapak H. Herman Deru Ikut hadir di Event ini 

Jalan di Kampung Al Munawar 

TIMESINDONESIA, PALEMBANG – Untuk mempromosikan destinasi wisata andalan di Kota Palembang para komunitas penggiat peduli wisata dan Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan mengadakan Festival Kopi Al - Munnawar. Festival ini akan berlangsung 29 - 30 Oktober 2016 di Perkampungan Al-Munawar Palembang.

Al-Munawar merupakan perkampungan keturunan Arab yang ada di Kota Palembang yang memiliki budaya dan perkampungan khas yang masih lestari bahkan umurnya sudah berabad - abad yang terintegrasi dengan keindahan Sungai Musi.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan Irene Camelin Sinaga, Rabu (26/10/2016), ada berbagai kegiatan dalam festival kopi Al-Munawar dan menarik dikunjungi yakni workshop penyajian kopi, workshop pemanfaatan limbah kopi, bazar kedai dan produsen kopi Sumatera Selatan, melukis menggunakan medium kopi.



Selain itu juga ada bincang sejarah perkampungan Al- Munnawar dengan narasumber warga Al-Munawar dan budayawan Palembang. "Yang menarik ada tur termurah di dunia hanya dengan Rp. 1000,- sudah bisa masuk ke beberapa rumah tua yang ada di kampung Arab ini," ucapnya. (*)


 Musolah Kampung Al Munawar 

Pewarta:Fathur Rochman
Editor:Wahyu Nurdiyanto
Publisher:Rochmat Shobirin
Sumber:Palembang TIMES

30 October 2016

Festival Kopi Al Munawar #1

Gerbang masuk ke acara Festival Kopi Al Munawar
PALEMBANG. Festival Kopi Kampung Al-Munawar di Kelurahan 13 Ulu, Kota Palembang, penuh sesak di hari pertama dengan pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.
Lukisan dari ampas kopi
"Antusiasme warga terhadap festival kopi Kampung Al -Munawar ini memang begitu tinggi, bahkan jumlah pengunjung yang datang melewati harapan penyelenggara," kata ketua panitia penyelenggara, Robi Sunata, Sabtu.
Ia menjelaskan, festival kopi sendiri melibatkan 16 pengusaha dan pemilik kedai kopi yang ada di Kota Palembang, Pagaralam, Empat Lawang dan Muaraenim sebagai daerah-daerah penghasil kopi terbaik di Sumatera Selatan.
Festival ini melibatkan 10 lebih komunitas dunia maya di Indonesia sebagai bagian dari penyelenggara, kata Robi.
Sementara Kampung Al -Munawar menjadi destinasi festival kopi karena dulu di masa penjajahan Belanda kampung ini sudah meracik kopi dengan campuran rempah khas.
Selanjutnya, pasca kemerdekaan kopi produksi Kampung Al -Munawar mulai dikenal orang dengan berbagai merek, seperti merek ABK dan sendok emas, kata Muhammad bin Abdul Kadir (58), salah satu tokoh adat dan keturunan ke enam Kampung Arab itu.
Salah satu pengunjung yang datang langsung dari Surabaya, Bobi (25) mengatakan antusias mengikuti festival kopi Kampung Al -Munawar tersebut dan ini merupakan festival kopi pertama didatangi.
Stand Kopi
Sebab, tambahnya, di Indonesia jarang diadakan festival semacam ini, serta ada banyak acara disajikan seperti tur rumah tua, penampilan gambus, penyediaan 1.000 gelas kopi gratis, lomba barista, puisi dan kopi, dan menonton film tentang kopi.
Festival kopi Kampung Arab Al- Munawar sendiri akan berlangsung sampai 30 Oktober 2016. 
Editor : Yudho Winarto
Sumber : Antara

11 August 2014

Tradisi Rumpak-rumpakan di Kampung Arab Palembang

Mengenal Tradisi Rumpak-rumpak di Kampung Arab Palembang
Akrab: Tradisi rumpak-rumpakan hingga kini tetap lestari di kalangan masyarakat keturunan Arab di Kampung Arab Kuto Palembang. Seperti halnya pada 2013 lalu, usai shalat Id, tradisi ini digelar dengan mengunjungi rumah warga

Tradisi saat merayakan Idul Fitri memunculkan keunikan tersendiri di tengah masyarakat. Salah satunya adalah mengunjungi keluarga, kerabat, tetangga, dan teman untuk bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan.

* * * * * * * * * * * * * * *
Di Palembang, tradisi berupa sanjo atau rumpak-rumpakan tetap lestari. Bahkan, dipertahankan turun-temurun. Tak hanya di kalangan masyarakat Palembang, ternyata tradisi tersebut dilakukan juga oleh masyarakat keturunan Arab Hadramaut di Metropolis.

Rumpak-rumpakan merupakan tradisi silaturrahmi yang dilakukan secara beramai-ramai yang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu. rumpak-rumpakan sendiri dilaksanakan selama dua hari bagi keturunan Arab Hadramaut di kawasan Ilir.

Dimulai langsung setelah dilaksanakannya shalat Idul Fitri, yang biasanya dimulai dari rumah keturunan yang dituakan. Silaturrahmi dilakukan di seluruh rumah keturunan yang berada di kawasan Kuto sehingga baru selesai dua hari.

Tokoh agama setempat, Ustadz Agil bin Abdul Qadir Barakbah mengatakan tradisi rumpaK-rumpakan sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu. Dan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. “Maknanya adalah silaturrahmi, jadi selama bulan puasa kita mempererat hubungan dengan Allah SWT (habluminallah), nah sekarang setyelah menjalankan puasa selama satu bulan maka saatnya mempererat hubungan antarsesama manusia (hambluminannas),” ujarnya.

Tradisi ini dilakukan oleh keturunan Arab Hadramaut di Palembang khususnya di kawasan Ilir yang sebagian besar berada di Kuto. “Tradisi rumpak-rumpakan ini dilakukan oleh dua kelompok yang biasa disebut dengan kelompok Sungai Bayas dan kelompok Sungai Buntu. Kelompok Sungai Bayas merupakan keturunan Syahab sementara kelompok Sungai Buntu merupakan keturunan Bin Syech Abu Bakar atau Ustadz Nagib,” bebernya.

Tradisi ini memang sengaja dilakukan beramai-ramai sehingga bisa dilihat oleh banyak orang yang pada dasarnya dilakukan sebagai syiar bahwa silaturrahmi antarmanusia tidak boleh putus. “Dahulu tradisi ini banyak ditiru masyarakat yang melakukan silaturrahmi secara bersama-sama, namun sekarang budaya yang baik itu sudah mulai luntur dan hanya sebagian saja yang melaksanakan,” ungkpanya.
Ustadz Agil menjelaskan bahwa tradisi rumpak-rumpakan tidak pernah luntur dan tetap dipertahankan hingga saat ini meskipun keturunan Arab sudah banyak yang keluar dari kawasan Kuto. Rumpak-rumpakan dilakukan langsung setelah melaksanakan shalat Id, dimana rombongan berkumpul lalu satu persatu rumah didatangi.

“Di setiap rumah yang didatangi dibacakan qqasidah dan ditutup dengan Al-Fatihah dan doa. Untuk tuan rumah juga tidak perlu secara khusus menyiapkan makanan karena tujuannya bukan untuk makan-makan melainkan silaturrahmi, namun biasanya tuam rumah menyiapkan minuman dan makan kecil,” bebernya.

Melaksanakan rumpak-rumpakan bekan berarti tidak melaksanakan silaturrahmi dengan keluarga dekat, karena dilakukan hanya hingga siang hari maka setelahnya bisa melaksankan silaturrahmi dengan keluarga. “Biasanya kalau hari pertama hanya sebagian rumah saja yang didatangi, pada hari kedua lebih banyak lagi rumah yang didatangi bahkan hingga kawasan Veteran yang dilakukan dengan berjalan kaki startnya di terakhir yang didatangi di hari pertama,” ulasnya.

Tradisi yang ada di Kampung Arab tidak hanya sampai di rumpak-rumpakan melainkan juga pernikahan sesama keturunan Arab dikenal dengan istilah habaib. “Nah, kalau rumpak-rumpakan dilakukan hingga Lebaran kedua, maka Lebaran ketiga secara berturut-turut ada pernikahan hingga berakhirnya bulan Syawal. Pernikahan itu mengikuti hal yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW yang bertemu dan menikahi istrinya ‘Aisyah di bulan Syawal,” terangnya.

Tradisi sanjo juga masih melekat pada warga 26 Ilir dan 32 Ilir, yang merupakan masyarakat dengan budaya Palembang yang masih kental dengan rumah-rumah panggung lama bercorak Palembang. Setiap rumah warga sudah menyediakan makanan. Menurut Kiagus Faisal (30), salah seorang warga 26 Ilir, usai menunaikan shalat, beberapa kepala keluarga dalam lingkungan satu kampung di situ berkumpul di masjid. Lalu bersama-sama mendatangi tempat tinggal tetangga di sekitar tempat tinggal mereka satu persatu untuk bersilaturrahmi dan bermaaf-maafan. (cj8/roz/asa/ce1)

Menjaga Kearifan Lokal
“Kami fokus pada pelestarian nilai budaya dengan mendorong dihidupkannya kembali kearifan lokal.” Ahmad Zazuli, Sekretaris Disbudpar Palembang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palembang Yanurpan Yani melalui Sekretaris Ahmad Zazuli, mengatakan, budaya sanjo mayarakat Palembang saat Lebaran, merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang patut dilestarikan. Tradisi tahunan setiap Idul Fitri ini merupakan salah satu warisan budaya turun-temurun sejak zaman dahulu.

Disbudpar Palembang sangat mendukung setiap pelestarian budaya sanjo ini. Meski begitu, pihaknya masih akan menginventarisir setiap kearifan lokal di Palembang. termasuk budaya sanjo ini. “Kami fokus pada pelastarian nilai budaya dengan mendorong dihidupkannya kembali kearifan lokal,” ucap Zazuli, saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Apakah sanjo ini akan masuk paket wisata Palembang? Zazuli mengatakan, hal tersebut bisa saja, namun harus melalui sebuah proses inventarisir dan dokumentasi dalam bentuk visual, audiovisual, buku dan sebagainya.

“Tahap awal mesti harus didefnisikan terlebih dahulu terkait isltilah sanjo ini, apakah sudah sesuai dan baku atau ada istilah lainnya, termasuk kaitannya dengan wilayah di luar Palembang. Apakah di luar Palembang juga ada istilah sanjo ini. Untuk bisa masuk dalam program wisata Kota Palembang, tentu perlu pengkajian yang mendalam dan kami akan membuat film dokumenter terkait budaya sanjo ini,” ucapnya.

Tradisi sanjo nyaris terdapat di semua pelosok masyarakat di Palembang, terutama warga asli Pelembang yang terdapat di Ulu Laut, 13 Ulu, Kampung Arab, Pasar Kuto, Kampung Kapitan, 26 ilir, dan Kertapati.(roz/asa/ce1)

Sumber : Sumatera Ekspres, Sabtu, 26 Juli 2014

17 February 2009

Pesisir Sungai Komplek Assegaf



Komplek Assegaf yang juga merupakan salah satu kampung arab di Palembang ini, tampak anggun terlihat dari sungai musi, tampak musollah yang dulunya pernah di tabrak kapal Rusia dan jajaran pabrik es yang sekarang sudah berganti warna.

Pesisir Sungai Kampung Al Munawar



Kampung yang di diami oleh komunitas Arab ini saat dibidik dengan kamera, masyarakat di kampung ini sedang ada acara karena terlihat banyak kapal ketek yang mengatar para penduduk Al Munawar ini keseberang, seperti inilah sisi dari pinggiran sungai Kampung Arab Al Munawar.

05 July 2008

Komplek Assegaf

Rumah yang "informasinya" dulunya pernah di diami oleh Ratu Juliana.

Pabrik Es Assegaff

Salah satu cagar budaya di Palembang di mana terdapat pabrik es dan salah satu rumah yang kabarnya pernah di diami oleh ratu Julliana dari kerajaan Belanda.

15 May 2008

Musolah Komplek Assegaff


Di kawasan komplek Assegaff, juga terdapat sebuah musollah yang terletak di tepian sungai Diyakini, musollah itu didirikan hampir bersamaan dengan perkembangan awal perkampungan. Namun, bentuknya saat ini sudah berubah. Hal ini disebabkan musibah yang terjadi sekitar tahun 1969. Kala itu, sebuah kapal laut, yang disebut-sebut sebagai milik Rusia, menabrak musollah yang sebagian badannya (disanggah tiang) berada di Sungai Musi ini. Baru beberapa tahun kemudian, musollah itu direhabilitasi dengan bentuk dan bahan yang lebih permanen

11 May 2008

Pabrik Es Komplek Assegaf

Kantor Pabrik ES Assegaf

Salah seorang dari komunitas ini, Habib Alwi Al Assegaff, kemudian menikah dengan salah seorang putri Habib Abdurrahman Al Munawar, pemukim Arab pertama di Kampung Arab Al Munawar. Setelah pernikahan, Habib Alwi pindah ke kawasan 16 Ulu dan mulai membangun rumah di kawasan itu, tepat di tepi Sungai Musi. Perkampungan ini kian berkembang apalagi pada tahun 1929 didirikan pabrik es.

Pabrik kedua letaknya berdampingan?dibangun pada tahun 1932. Selanjutnya, pabrik es yang hingga kini balok esnya dimanfaatkan oleh para pedagang ikan yang membeli ikan di kawasan Sungsang, Bangka, dan Belitung itu makin berkembang dengan penambahan pabrik baru pada tahun 1974. 


10 May 2008

Komplek Assegaf


Lokasi : Kawasan 16 Ulu

Kompleks perumahan yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan 16 Ulu Kecamatan Seberang Ulu II ini merupakan salah satu perkampungan Arab yang tumbuh dan berkembang di kawasan Seberang Ulu pada akhir abad ke-19 menjelang awal abad ke-20. Pendirinya adalah Habib Alwi Al Habsyi.

Gerbang masuk komplek Aseggaf
Tokoh ini semula adalah keturunan keluarga di Kampung Arab 14 Ulu (sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan 14 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II). Kampung ini, bersama Kampung 12 Ulu dan 13 Ulu, semula menjadi kediaman bangsa Arab dari Hadramaut yang datang ke Palembang dan menetap. Pemukim Arab pertama di Kampung Arab 14 Ulu adalah Abdullah bin Ahmad Al Habsyi.

Salah seorang dari komunitas ini, Habib Alwi Al Assegaff, kemudian menikah dengan salah seorang putri Habib Abdurrahman Al Munawar, pemukim Arab pertama di Kampung Arab Al Munawar. Setelah pernikahan, Habib Alwi pindah ke kawasan 16 Ulu dan mulai membangun rumah di kawasan itu, tepat di tepi Sungai Musi. Perkampungan ini kian berkembang apalagi pada tahun 1929 didirikan pabrik es.

Perumahaan di dalam komplek
Pabrik kedua letaknya berdampingandibangun pada tahun 1932. Selanjutnya, pabrik es yang hingga kini balok esnya dimanfaatkan oleh para pedagang ikan yang membeli ikan di kawasan Sungsang, Bangka, dan Belitung itu makin berkembang dengan penambahan pabrik baru pada tahun 1974. Di kawasan ini, juga terdapat sebuah masjid yang terletak di tepian sungai.

Diyakini, masjid itu didirikan hampir bersamaan dengan perkembangan awal perkampungan. Namun, bentuknya saat ini sudah berubah. Hal ini disebabkan musibah yang terjadi sekitar tahun 1969. Kala itu, sebuah kapal laut, yang disebut-sebut sebagai milik Rusia, menabrak masjid yang sebagian badannya (disanggah tiang) berada di Sungai Musi ini.


Pabrik Es
Baru beberapa tahun kemudian, masjdi itu direhabilitasi dengan bentuk dan bahan yang lebih permanen. Hampir serupa dengan Kompleks Pertamina, kawasan tepian sungai di kompleks ini juga didam dengan beton. Sehingga, kondisi kompleks, yang letak perumahannya teratur jarak dari tepian sungai dipisah oleh jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat itu tampak sedap dipandang



07 May 2008

Kampung Al Munawar #2


Kampung Tua Arab
Taufik Wijaya - Detik Ramadhan

Palembang -Kampung Arab Al-Munawar yang terletak di kawasan 13 Ulu, Palembang, ini memiliki kekhasan seperti halnya perkampungan tua di tepian sungai. Kampung Al Munawar terletak di tepian Sungai Musi dan Sungai Ketemenggungan.

Di kompleks ini, terdapat paling kurang delapan rumah yang usianya diperkirakan lebih dari satu abad. Salah satunya, rumah pemukim Arab pertama di Kampung 13 Ulu, Habib Abdurrahman Al Munawar. Inilah kampung Kapten Arab di Palembang.

Kampung ini bersamaan dengan kampung Kapiten China di 7 Ulu, dan Kapten India di Kertapati, Palembang. Keseluruhan rumah yang ada di Kampung ini berkonstruksi panggung.

Sebagian, tetap berbentuk panggung, menggunakan bahan kayu unglen atau sebagian kayu unglen, atau juga sebagian batu. Sebagian lagi, menggunakan bahan batu secara keseluruhan.

Sebagian dari rumah itu berarsitektur limas, seperti rumah Habib Abdurrahman. Dan sebagian lagi telah mendapat sentuhan Timur Tengah dan Eropa. Ini juga terlihat dari bentuk tangga, baik tangga di luar rumah maupun di dalam. Tangga ini dibuat sedemikian rupa.

Ada rumah yang tangganya berukir biasa, menyerupai bentuk kotak dengan ‘sayatan’ pada empat sisi di atasnya. Ada pula tangga yang puncak pegangan tangganya diukir sedemikian
rupa. Sehingga, bentuknya sekilas menyerupai limas, sekilas dapat menyerupai bentuk puncak menara masjid bergaya Turki.


Demikian pula dengan bentuk terali pembentuk pagar di rumah berlantai dua. Jika diamati, besi serupa ini juga terdapat sebagai penyanggah atap. Tampaknya merupakan besi cetakan.

Aksesori yang tampak antik dan anggun adalah engsel jendelanya. Bentuk engsel berbahan kuningan ini menyerupai burung elang ketika jendela dalam posisi tertutup. Sebagian rumah tua di kampung itu bahkan telah menggunakan batu marmer sebagai lantai. Bahkan, marmer ini tidak hanya dipasang di lantai rumah berukuran sekitar 20 x 30 meter itu saja. Marmer ini konon didatangkan dari Italia. Berbentuk bujur sangkar 50 x 50 cm itu dipasang hingga ke teras.

Di kampung ini, juga terdapat rumah Kapten Arab. Seperti halnya etnis China dan India, pada tahun 1825 pemerintah kolonial Hindia Belanda di Palembang melakukan pendekatan. Dari tiap suku bangsa itu, diangkatlah pemimpin kaum dengan pangkat Kapten.
Tidak jelas siapa Kapten Arab pertama. Yang jelas, Kapten terakhir wafat tahun 1970 yang bernama Ahmad Al Munawar. Sapaan keseharian tokoh ini adalah Ayip Kecik. (tw/nwk)




06 May 2008

Kampung Al Munawar

Rumah Panggung Al-Munawar


SEKILAS INFO OBJEK WISATA KAMPUNG ARAB
Palembang memiliki berbagai etnis dan budaya yang ada di masyarakatnya. Ada etnis Tiong Hoa, etnis India, etnis Arab, dan lain-lain. Setiap etnis tersebut memiliki komunitasnya masing-masing. Baik itu berupa tempat tinggal, organisasi, maupun hanya sekedar perkumpulan. Tempat tinggal atau pemukiman yang ada di suatu masyarakat etnis tertentu, sebagian besarnya adalah masyarakat dari etnis tersebut. Misalnya, Sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, bermukim di suatu tempat besar, dinamakan Kampung Arab. 
Rumah Batu
Sebagian besar penduduk di Kampung Arab adalah orang-orang yang berasal dari Arab. Diperkirakan sekitar 300 tahun yang lalu, orang-orang yang berasal dari Arab datang ke Palembang untuk berdagang dan menyebarkan Agama Islam. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk yang berasal dari Hadramaut, yang terletak di daerah pesisir Jazirah, Arab bagian Selatan (yang sekarang telah menjadi Yaman).Banyak di antara mereka yang akhirnya menetap dan menikah dengan orang asli Palembang, yang akhirnya kemudian bermukim di suatu tempat bersama kelompoknya.
Menurut Teori Segregasi Ekologis H. D. Evers, penduduk keturunan Arab tersebut bermukim di suatu tempat atau terkonsentrasi di suatu tempat tertentu dikarenakan persamaan latarbelakang mereka yang sama-sama berasal Arab. Kesamaan budaya dan kebiasaan yang sama juga menyebabkan penduduk yang berasal dari Arab lebih betah berada bersama dengan penduduk yang juga berasal dari daerah yang sama.
Tangga rumah panggung
Kampung Arab yang berada di Palembang terletak di sepanjang Sungai Musi, baik di bagian Ilir, maupun yang di bagian Ulu, yang tepatnya berada di Lorong Asia dan kampung Sungai Bayas, Kelurahan Kotabatu, Kecamatan Ilir Timur 1; Lorong Sungai Lumpur di Kelurahan 9-10 Ulu, Kemudian di Lorong BBC di Kelurahan 12 Ulu, Lorong Almunawar di Kelurahan 13 Ulu, Lorong Al-Hadad, Lorong Al-Habsy dan Lorong Al-Kaaf di Kelurahan 14 Ulu, dan Kompleks Assegaf di Kelurahan 16 Ulu. Dalam masyarakat tersebut terdapat beragam paham yang berkembang. Diantaranya, Assegaf, Al-Habsy, Al-Kaaf, Hasny,Syahab (Shyhab), dan sebagainya. Secara Administratif, situs-situs yang berda di kawasan seberang ulu tersebut termasuk dalam wilayah Kecamatan Seberang Ulu II. Meski paham yang mereka anut tersebut berbeda-beda, sebagian besar dari mereka masih bersaudara.
Bentuk-bentuk rumah penduduk yang berada di Kampung Arab, tepatnya di Lorong Al-Munawar Kelurahan 13 Ulu, sama seperti bentuk rumah masyarakat Palembang pada umumnya. Hal tersebut dikarena, menurut mereka, mereka datang jauh-jauh ke Palembang hanya untuk menyebarkan Agama Islam. Yang mereka bawa hanyalah Kitab dan Nisan. Kitab artinya ajaran-ajaran Agama Islam yang harus di sebarkan, Nisan artinya tanda makam jika mereka meninggal di daerah rantauan. Sehingga, bentuk-bentuk rumah mereka cenderung mengikuti bentuk-bentuk rumah, seperti rumah panggung dan rumah Indies, yang sedang berkembang saat itu.
Rumah-rumah penduduk Kampung Arab tersebut mengelilingi sebuah lapangan terbuka, dan rumah orang-orang yang dipertuakan menghadap ke arah Sungai Musi. Selain itu, banyak rumah-rumah penduduk yang berada di sepanjang Sungai Musi, dan menghadap ke arah Sungai. Pembagian tersebut didasarkan oleh tingkat pengetahuan agama mereka. Rumah-rumah tersebut biasanya setiap rumahnya memiliki beberapa Kepala Keluarga. Hal terebut dikarenakan rumah-rumah mereka di tinggali secara turun-temurun dari keluarga mereka.
Budaya Masyarakat Kampung Arab
Penduduk di kampung Al-Munawar
Meski mereka melakukan adaptasi terhadap lingkungan sekitar mereka, Masyarakat Kampung Arab memiliki kebudayaan mereka tentang Pernikahan. Menurut kebudayaan mereka, seorang perempuan keturunan Arab tidak boleh menikah dengan laki-laki Pribumi (masyarakat dari daerah sekitar). Namun, laki-laki keturunan Arab boleh menikah dengan perempuan Pribumi. Perempuan keturunan Arab yang menikah dengan laki-laki Pribumi akan dianggap aib oleh masyarakat Kampung Arab. Karena menurut mereka, Laki-laki-lah yang masih memiliki darah keturunan dari Rasulullah, sedangkan perempuan tidak. Oleh sebab itu jika perempuan keturunan Arab menikah dengan laki-laki Pribumi, maka garis dari Rasulullah tersebut akan terputus hanya pada perempuan tersebut, karena laki-laki Pribumi tidak memiliki darah keturunan dari Rasulullah. 
Sumber : http://palembang-tourism.com/