Jalan di Kampung Al Munawar
TIMESINDONESIA, PALEMBANG – Untuk mempromosikan destinasi wisata andalan di Kota Palembang para komunitas penggiat peduli wisata dan Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan mengadakan Festival Kopi Al - Munnawar. Festival ini akan berlangsung 29 - 30 Oktober 2016 di Perkampungan Al-Munawar Palembang.
Al-Munawar merupakan perkampungan keturunan Arab yang ada di Kota Palembang yang memiliki budaya dan perkampungan khas yang masih lestari bahkan umurnya sudah berabad - abad yang terintegrasi dengan keindahan Sungai Musi.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Selatan Irene Camelin Sinaga, Rabu (26/10/2016), ada berbagai kegiatan dalam festival kopi Al-Munawar dan menarik dikunjungi yakni workshop penyajian kopi, workshop pemanfaatan limbah kopi, bazar kedai dan produsen kopi Sumatera Selatan, melukis menggunakan medium kopi.
Selain itu juga ada bincang sejarah perkampungan Al- Munnawar dengan narasumber warga Al-Munawar dan budayawan Palembang. "Yang menarik ada tur termurah di dunia hanya dengan Rp. 1000,- sudah bisa masuk ke beberapa rumah tua yang ada di kampung Arab ini," ucapnya. (*)
|
Showing posts with label Kampung Arab. Show all posts
Showing posts with label Kampung Arab. Show all posts
31 October 2016
Festival Kopi Al Munawar #2
30 October 2016
Festival Kopi Al Munawar #1
![]() |
| Gerbang masuk ke acara Festival Kopi Al Munawar |
![]() |
| Lukisan dari ampas kopi |
"Antusiasme warga terhadap festival kopi Kampung Al -Munawar ini memang begitu tinggi, bahkan jumlah pengunjung yang datang melewati harapan penyelenggara," kata ketua panitia penyelenggara, Robi Sunata, Sabtu.
Ia menjelaskan, festival kopi sendiri melibatkan 16 pengusaha dan pemilik kedai kopi yang ada di Kota Palembang, Pagaralam, Empat Lawang dan Muaraenim sebagai daerah-daerah penghasil kopi terbaik di Sumatera Selatan.
Festival ini melibatkan 10 lebih komunitas dunia maya di Indonesia sebagai bagian dari penyelenggara, kata Robi.
Sementara Kampung Al -Munawar menjadi destinasi festival kopi karena dulu di masa penjajahan Belanda kampung ini sudah meracik kopi dengan campuran rempah khas.
Selanjutnya, pasca kemerdekaan kopi produksi Kampung Al -Munawar mulai dikenal orang dengan berbagai merek, seperti merek ABK dan sendok emas, kata Muhammad bin Abdul Kadir (58), salah satu tokoh adat dan keturunan ke enam Kampung Arab itu.
Salah satu pengunjung yang datang langsung dari Surabaya, Bobi (25) mengatakan antusias mengikuti festival kopi Kampung Al -Munawar tersebut dan ini merupakan festival kopi pertama didatangi.
![]() |
| Stand Kopi |
Sebab, tambahnya, di Indonesia jarang diadakan festival semacam ini, serta ada banyak acara disajikan seperti tur rumah tua, penampilan gambus, penyediaan 1.000 gelas kopi gratis, lomba barista, puisi dan kopi, dan menonton film tentang kopi.
Festival kopi Kampung Arab Al- Munawar sendiri akan berlangsung sampai 30 Oktober 2016.
Editor : Yudho Winarto
Sumber : Antara
11 August 2014
Tradisi Rumpak-rumpakan di Kampung Arab Palembang
![]() |
| Akrab: Tradisi rumpak-rumpakan hingga kini tetap lestari di kalangan masyarakat keturunan Arab di Kampung Arab Kuto Palembang. Seperti halnya pada 2013 lalu, usai shalat Id, tradisi ini digelar dengan mengunjungi rumah warga |
Tradisi saat merayakan Idul Fitri
memunculkan keunikan tersendiri di tengah masyarakat. Salah satunya adalah
mengunjungi keluarga, kerabat, tetangga, dan teman untuk bersilaturrahmi dan
saling bermaaf-maafan.
* * * * * * * * * * * * * * *
Di Palembang, tradisi berupa sanjo atau
rumpak-rumpakan tetap lestari. Bahkan, dipertahankan turun-temurun. Tak hanya
di kalangan masyarakat Palembang, ternyata tradisi tersebut dilakukan juga oleh
masyarakat keturunan Arab Hadramaut di Metropolis.
Rumpak-rumpakan merupakan tradisi
silaturrahmi yang dilakukan secara beramai-ramai yang sudah dilaksanakan sejak
ratusan tahun lalu. rumpak-rumpakan sendiri dilaksanakan selama dua hari bagi
keturunan Arab Hadramaut di kawasan Ilir.
Dimulai langsung setelah dilaksanakannya
shalat Idul Fitri, yang biasanya dimulai dari rumah keturunan yang dituakan.
Silaturrahmi dilakukan di seluruh rumah keturunan yang berada di kawasan Kuto
sehingga baru selesai dua hari.
Tokoh agama setempat, Ustadz Agil bin
Abdul Qadir Barakbah mengatakan tradisi rumpaK-rumpakan sudah dilaksanakan
sejak ratusan tahun yang lalu. Dan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki.
“Maknanya adalah silaturrahmi, jadi selama bulan puasa kita mempererat hubungan
dengan Allah SWT (habluminallah), nah sekarang setyelah menjalankan puasa
selama satu bulan maka saatnya mempererat hubungan antarsesama manusia
(hambluminannas),” ujarnya.
Tradisi ini dilakukan oleh keturunan Arab
Hadramaut di Palembang khususnya di kawasan Ilir yang sebagian besar berada di
Kuto. “Tradisi rumpak-rumpakan ini dilakukan oleh dua kelompok yang biasa
disebut dengan kelompok Sungai Bayas dan kelompok Sungai Buntu. Kelompok Sungai
Bayas merupakan keturunan Syahab sementara kelompok Sungai Buntu merupakan
keturunan Bin Syech Abu Bakar atau Ustadz Nagib,” bebernya.
Tradisi ini memang sengaja dilakukan
beramai-ramai sehingga bisa dilihat oleh banyak orang yang pada dasarnya
dilakukan sebagai syiar bahwa silaturrahmi antarmanusia tidak boleh putus.
“Dahulu tradisi ini banyak ditiru masyarakat yang melakukan silaturrahmi secara
bersama-sama, namun sekarang budaya yang baik itu sudah mulai luntur dan hanya
sebagian saja yang melaksanakan,” ungkpanya.
Ustadz Agil menjelaskan bahwa tradisi
rumpak-rumpakan tidak pernah luntur dan tetap dipertahankan hingga saat ini
meskipun keturunan Arab sudah banyak yang keluar dari kawasan Kuto.
Rumpak-rumpakan dilakukan langsung setelah melaksanakan shalat Id, dimana
rombongan berkumpul lalu satu persatu rumah didatangi.
“Di setiap rumah yang didatangi dibacakan
qqasidah dan ditutup dengan Al-Fatihah dan doa. Untuk tuan rumah juga tidak
perlu secara khusus menyiapkan makanan karena tujuannya bukan untuk makan-makan
melainkan silaturrahmi, namun biasanya tuam rumah menyiapkan minuman dan makan
kecil,” bebernya.
Melaksanakan rumpak-rumpakan bekan
berarti tidak melaksanakan silaturrahmi dengan keluarga dekat, karena dilakukan
hanya hingga siang hari maka setelahnya bisa melaksankan silaturrahmi dengan
keluarga. “Biasanya kalau hari pertama hanya sebagian rumah saja yang didatangi,
pada hari kedua lebih banyak lagi rumah yang didatangi bahkan hingga kawasan
Veteran yang dilakukan dengan berjalan kaki startnya di terakhir yang didatangi
di hari pertama,” ulasnya.
Tradisi yang ada di Kampung Arab tidak
hanya sampai di rumpak-rumpakan melainkan juga pernikahan sesama keturunan Arab
dikenal dengan istilah habaib. “Nah, kalau rumpak-rumpakan dilakukan hingga
Lebaran kedua, maka Lebaran ketiga secara berturut-turut ada pernikahan hingga
berakhirnya bulan Syawal. Pernikahan itu mengikuti hal yang dilakukan oleh
Rasulullah Muhammad SAW yang bertemu dan menikahi istrinya ‘Aisyah di bulan
Syawal,” terangnya.
Tradisi sanjo juga masih melekat pada
warga 26 Ilir dan 32 Ilir, yang merupakan masyarakat dengan budaya Palembang
yang masih kental dengan rumah-rumah panggung lama bercorak Palembang. Setiap
rumah warga sudah menyediakan makanan. Menurut Kiagus Faisal (30), salah
seorang warga 26 Ilir, usai menunaikan shalat, beberapa kepala keluarga dalam
lingkungan satu kampung di situ berkumpul di masjid. Lalu bersama-sama
mendatangi tempat tinggal tetangga di sekitar tempat tinggal mereka satu
persatu untuk bersilaturrahmi dan bermaaf-maafan. (cj8/roz/asa/ce1)
Menjaga Kearifan Lokal
“Kami fokus pada pelestarian nilai budaya
dengan mendorong dihidupkannya kembali kearifan lokal.” Ahmad Zazuli,
Sekretaris Disbudpar Palembang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
(Disbudpar) Kota Palembang Yanurpan Yani melalui Sekretaris Ahmad Zazuli,
mengatakan, budaya sanjo mayarakat Palembang saat Lebaran, merupakan salah satu
bentuk kearifan lokal yang patut dilestarikan. Tradisi tahunan setiap Idul
Fitri ini merupakan salah satu warisan budaya turun-temurun sejak zaman dahulu.
Disbudpar Palembang sangat mendukung
setiap pelestarian budaya sanjo ini. Meski begitu, pihaknya masih akan
menginventarisir setiap kearifan lokal di Palembang. termasuk budaya sanjo ini.
“Kami fokus pada pelastarian nilai budaya dengan mendorong dihidupkannya
kembali kearifan lokal,” ucap Zazuli, saat ditemui di ruang kerjanya kemarin.
Apakah sanjo ini akan masuk paket wisata
Palembang? Zazuli mengatakan, hal tersebut bisa saja, namun harus melalui
sebuah proses inventarisir dan dokumentasi dalam bentuk visual, audiovisual,
buku dan sebagainya.
“Tahap awal mesti harus didefnisikan
terlebih dahulu terkait isltilah sanjo ini, apakah sudah sesuai dan baku atau
ada istilah lainnya, termasuk kaitannya dengan wilayah di luar Palembang.
Apakah di luar Palembang juga ada istilah sanjo ini. Untuk bisa masuk dalam
program wisata Kota Palembang, tentu perlu pengkajian yang mendalam dan kami
akan membuat film dokumenter terkait budaya sanjo ini,” ucapnya.
Tradisi sanjo nyaris terdapat di semua
pelosok masyarakat di Palembang, terutama warga asli Pelembang yang terdapat di
Ulu Laut, 13 Ulu, Kampung Arab, Pasar Kuto, Kampung Kapitan, 26 ilir, dan
Kertapati.(roz/asa/ce1)
Sumber : Sumatera Ekspres, Sabtu, 26 Juli
2014
17 February 2009
Pesisir Sungai Komplek Assegaf
Pesisir Sungai Kampung Al Munawar
05 July 2008
Komplek Assegaf
15 May 2008
Musolah Komplek Assegaff
Di kawasan komplek Assegaff, juga terdapat sebuah musollah yang terletak di tepian sungai Diyakini, musollah itu didirikan hampir bersamaan dengan perkembangan awal perkampungan. Namun, bentuknya saat ini sudah berubah. Hal ini disebabkan musibah yang terjadi sekitar tahun 1969. Kala itu, sebuah kapal laut, yang disebut-sebut sebagai milik Rusia, menabrak musollah yang sebagian badannya (disanggah tiang) berada di Sungai Musi ini. Baru beberapa tahun kemudian, musollah itu direhabilitasi dengan bentuk dan bahan yang lebih permanen
11 May 2008
Pabrik Es Komplek Assegaf
![]() |
| Kantor Pabrik ES Assegaf |
Salah seorang dari komunitas ini, Habib
Alwi Al Assegaff, kemudian menikah dengan salah seorang putri Habib Abdurrahman
Al Munawar, pemukim Arab pertama di Kampung Arab Al Munawar. Setelah
pernikahan, Habib Alwi pindah ke kawasan 16 Ulu dan mulai membangun rumah di
kawasan itu, tepat di tepi Sungai Musi. Perkampungan ini kian berkembang
apalagi pada tahun 1929 didirikan pabrik es.
Pabrik kedua letaknya berdampingan?dibangun pada
tahun 1932. Selanjutnya, pabrik es yang hingga kini balok esnya dimanfaatkan
oleh para pedagang ikan yang membeli ikan di kawasan Sungsang, Bangka, dan
Belitung itu makin berkembang dengan penambahan pabrik baru pada tahun 1974.
10 May 2008
Komplek Assegaf
Lokasi : Kawasan 16 Ulu
Kompleks perumahan
yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan 16 Ulu Kecamatan Seberang Ulu II
ini merupakan salah satu perkampungan Arab yang tumbuh dan berkembang di
kawasan Seberang Ulu pada akhir abad ke-19 menjelang awal abad ke-20.
Pendirinya adalah Habib Alwi Al Habsyi.
![]() |
| Gerbang masuk komplek Aseggaf |
Salah seorang dari
komunitas ini, Habib Alwi Al Assegaff, kemudian menikah dengan salah seorang
putri Habib Abdurrahman Al Munawar, pemukim Arab pertama di Kampung Arab Al
Munawar. Setelah pernikahan, Habib Alwi pindah ke kawasan 16 Ulu dan mulai
membangun rumah di kawasan itu, tepat di tepi Sungai Musi. Perkampungan ini
kian berkembang apalagi pada tahun 1929 didirikan pabrik es.
![]() |
| Perumahaan di dalam komplek |
Diyakini, masjid
itu didirikan hampir bersamaan dengan perkembangan awal perkampungan. Namun,
bentuknya saat ini sudah berubah. Hal ini disebabkan musibah yang terjadi
sekitar tahun 1969. Kala itu, sebuah kapal laut, yang disebut-sebut sebagai
milik Rusia, menabrak masjid yang sebagian badannya (disanggah tiang) berada di
Sungai Musi ini.
![]() |
| Pabrik Es |
09 May 2008
08 May 2008
07 May 2008
Kampung Al Munawar #2
Kampung Tua Arab
Taufik Wijaya - Detik Ramadhan
Palembang -Kampung Arab Al-Munawar
yang terletak di kawasan 13 Ulu, Palembang, ini memiliki kekhasan seperti
halnya perkampungan tua di tepian sungai. Kampung Al Munawar terletak di tepian
Sungai Musi dan Sungai Ketemenggungan.
Di kompleks ini, terdapat paling kurang
delapan rumah yang usianya diperkirakan lebih dari satu abad. Salah satunya,
rumah pemukim Arab pertama di Kampung 13 Ulu, Habib Abdurrahman Al Munawar.
Inilah kampung Kapten Arab di Palembang.
Kampung ini bersamaan dengan kampung
Kapiten China di 7 Ulu, dan Kapten India di Kertapati, Palembang. Keseluruhan
rumah yang ada di Kampung ini berkonstruksi panggung.
Sebagian, tetap berbentuk panggung,
menggunakan bahan kayu unglen atau sebagian kayu unglen, atau juga sebagian
batu. Sebagian lagi, menggunakan bahan batu secara keseluruhan.
Sebagian dari rumah itu berarsitektur
limas, seperti rumah Habib Abdurrahman. Dan sebagian lagi telah mendapat
sentuhan Timur Tengah dan Eropa. Ini juga terlihat dari bentuk tangga, baik tangga
di luar rumah maupun di dalam. Tangga ini dibuat sedemikian rupa.
Ada rumah yang tangganya berukir biasa,
menyerupai bentuk kotak dengan ‘sayatan’ pada empat sisi di atasnya. Ada pula
tangga yang puncak pegangan tangganya diukir sedemikian
rupa. Sehingga, bentuknya sekilas menyerupai limas, sekilas dapat menyerupai bentuk puncak menara masjid bergaya Turki.
rupa. Sehingga, bentuknya sekilas menyerupai limas, sekilas dapat menyerupai bentuk puncak menara masjid bergaya Turki.
Demikian pula dengan bentuk terali pembentuk pagar di rumah berlantai dua. Jika diamati, besi serupa ini juga terdapat sebagai penyanggah atap. Tampaknya merupakan besi cetakan.
Aksesori yang tampak antik dan anggun
adalah engsel jendelanya. Bentuk engsel berbahan kuningan ini menyerupai burung
elang ketika jendela dalam posisi tertutup. Sebagian rumah tua di kampung itu
bahkan telah menggunakan batu marmer sebagai lantai. Bahkan, marmer ini tidak
hanya dipasang di lantai rumah berukuran sekitar 20 x 30 meter itu saja. Marmer
ini konon didatangkan dari Italia. Berbentuk bujur sangkar 50 x 50 cm itu
dipasang hingga ke teras.
Di kampung ini, juga terdapat rumah
Kapten Arab. Seperti halnya etnis China dan India, pada tahun 1825 pemerintah
kolonial Hindia Belanda di Palembang melakukan pendekatan. Dari tiap suku
bangsa itu, diangkatlah pemimpin kaum dengan pangkat Kapten.
Tidak jelas siapa Kapten Arab pertama.
Yang jelas, Kapten terakhir wafat tahun 1970 yang bernama Ahmad Al Munawar.
Sapaan keseharian tokoh ini adalah Ayip Kecik. (tw/nwk)
06 May 2008
Kampung Al Munawar
![]() |
| Rumah Panggung Al-Munawar |
SEKILAS INFO OBJEK WISATA KAMPUNG ARAB
Palembang memiliki berbagai etnis dan budaya yang ada di masyarakatnya. Ada etnis Tiong Hoa, etnis India, etnis Arab, dan lain-lain. Setiap etnis tersebut memiliki komunitasnya masing-masing. Baik itu berupa tempat tinggal, organisasi, maupun hanya sekedar perkumpulan. Tempat tinggal atau pemukiman yang ada di suatu masyarakat etnis tertentu, sebagian besarnya adalah masyarakat dari etnis tersebut. Misalnya, Sekumpulan masyarakat yang berasal dari Arab, bermukim di suatu tempat besar, dinamakan Kampung Arab.
![]() |
| Rumah Batu |
Menurut Teori Segregasi Ekologis H. D. Evers, penduduk keturunan Arab tersebut bermukim di suatu tempat atau terkonsentrasi di suatu tempat tertentu dikarenakan persamaan latarbelakang mereka yang sama-sama berasal Arab. Kesamaan budaya dan kebiasaan yang sama juga menyebabkan penduduk yang berasal dari Arab lebih betah berada bersama dengan penduduk yang juga berasal dari daerah yang sama.
![]() |
| Tangga rumah panggung |
Bentuk-bentuk rumah penduduk yang berada di Kampung Arab, tepatnya di Lorong Al-Munawar Kelurahan 13 Ulu, sama seperti bentuk rumah masyarakat Palembang pada umumnya. Hal tersebut dikarena, menurut mereka, mereka datang jauh-jauh ke Palembang hanya untuk menyebarkan Agama Islam. Yang mereka bawa hanyalah Kitab dan Nisan. Kitab artinya ajaran-ajaran Agama Islam yang harus di sebarkan, Nisan artinya tanda makam jika mereka meninggal di daerah rantauan. Sehingga, bentuk-bentuk rumah mereka cenderung mengikuti bentuk-bentuk rumah, seperti rumah panggung dan rumah Indies, yang sedang berkembang saat itu.
Rumah-rumah penduduk Kampung Arab tersebut mengelilingi sebuah lapangan terbuka, dan rumah orang-orang yang dipertuakan menghadap ke arah Sungai Musi. Selain itu, banyak rumah-rumah penduduk yang berada di sepanjang Sungai Musi, dan menghadap ke arah Sungai. Pembagian tersebut didasarkan oleh tingkat pengetahuan agama mereka. Rumah-rumah tersebut biasanya setiap rumahnya memiliki beberapa Kepala Keluarga. Hal terebut dikarenakan rumah-rumah mereka di tinggali secara turun-temurun dari keluarga mereka.
Budaya Masyarakat Kampung Arab
![]() |
| Penduduk di kampung Al-Munawar |
Sumber : http://palembang-tourism.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)






































